Headline

Sultan Malik As-Saleh, Dari Sebuah Makam Tua, Islam Menyinari Nusantara

Sultan Malik As-Saleh, Dari Sebuah Makam Tua, Islam Menyinari Nusantara
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id — Di tengah hamparan perkampungan yang tenang di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, berdiri sebuah situs bersejarah yang menjadi saksi bisu lahirnya peradaban Islam di Nusantara. Di tempat inilah Sultan Malik As-Saleh, pendiri Kesultanan Samudera Pasai sekaligus raja Islam pertama di Nusantara, dimakamkan setelah wafat pada 17 Ramadhan 696 Hijriah atau tahun 1297 Masehi.

Ratusan tahun telah berlalu sejak kepergiannya. Namun, makam sederhana yang terbuat dari batu pasir itu masih tegak berdiri, menyimpan kisah tentang awal mula Islam berkembang di Indonesia. Bagi masyarakat Aceh, makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang raja, melainkan simbol lahirnya sebuah peradaban yang kelak mengubah wajah Nusantara.

Memasuki kompleks makam, pengunjung akan disambut suasana teduh dan khidmat. Sebuah cungkup melindungi makam yang berorientasi utara-selatan. Pada bagian jirat dan nisannya terpahat ukiran kaligrafi Arab yang indah. Setiap guratan pada batu nisan seolah menceritakan kebesaran seorang pemimpin yang dihormati rakyatnya.

Inskripsi yang terukir pada nisan menyebut Sultan Malik As-Saleh sebagai sosok yang mendapat rahmat Allah, berasal dari keturunan mulia, dermawan, serta tekun beribadah. Tulisan itu juga menggambarkan duka mendalam atas wafatnya seorang pemimpin yang berjasa besar dalam menyebarkan Islam di kawasan Asia Tenggara.

Sebelum dikenal sebagai Sultan Malik As-Saleh, ia bernama Meurah Silu, seorang penguasa lokal yang kemudian memeluk Islam setelah berinteraksi dengan para ulama dan pendakwah dari Timur Tengah. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa proses keislamannya dipengaruhi oleh tokoh-tokoh seperti Fakir Muhammad dan Syekh Ismail yang datang membawa ajaran Islam ke pesisir utara Sumatra.

Setelah memeluk Islam, Meurah Silu mengambil gelar Sultan Malik As-Saleh dan mendirikan Kesultanan Samudera Pasai sekitar tahun 1267 M. Ia berhasil menyatukan dua wilayah penting, Samudera dan Pasai, menjadi sebuah kerajaan Islam yang kuat dan berpengaruh.

Nama Samudera sendiri memiliki kisah unik. Menurut hikayat yang berkembang di masyarakat Aceh, Meurah Silu pernah menemukan seekor semut berukuran sangat besar, bahkan disebut sebesar kucing. Peristiwa itu menginspirasinya memberi nama daerah tersebut “Samudera”, yang kemudian menjadi bagian dari nama kerajaan yang kelak dikenal luas hingga ke mancanegara.

Di bawah kepemimpinan Sultan Malik As-Saleh, Samudera Pasai tumbuh menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Letaknya yang strategis di jalur Selat Malaka menjadikan kerajaan ini persinggahan para pedagang dari Arab, Persia, India, hingga Tiongkok. Dari pelabuhan-pelabuhan Samudera Pasai, berbagai komoditas diperdagangkan, mulai dari lada, kapur barus, hingga sutra.

Namun, kejayaan Samudera Pasai tidak hanya diukur dari aktivitas ekonominya. Kerajaan ini juga berkembang sebagai pusat pendidikan Islam dan penyebaran ilmu pengetahuan. Ulama dari berbagai negeri datang dan menetap untuk mengajarkan agama kepada masyarakat. Dari sinilah Islam kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nusantara, termasuk Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku.

Samudera Pasai bahkan menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara yang mencetak mata uang emas bertuliskan huruf Arab, dikenal sebagai dirham Pasai. Mata uang tersebut menjadi bukti kemajuan sistem pemerintahan dan ekonomi kerajaan pada masa itu.

Keberadaan makam Sultan Malik As-Saleh hingga kini menjadi bukti nyata bahwa Aceh pernah menjadi gerbang masuk Islam ke Nusantara. Setiap tahun, ribuan peziarah, pelajar, peneliti, hingga wisatawan datang untuk melihat langsung peninggalan bersejarah tersebut. Mereka tidak hanya berziarah, tetapi juga belajar tentang akar peradaban Islam Indonesia.

Di sekitar kawasan makam, masih terdapat sejumlah situs peninggalan Kesultanan Samudera Pasai lainnya. Hal ini menjadikan wilayah Samudera, Aceh Utara, sebagai salah satu kawasan arkeologi Islam terpenting di Indonesia.

Bagi masyarakat Aceh, nama Sultan Malik As-Saleh tidak pernah benar-benar hilang ditelan zaman. Namanya diabadikan menjadi nama universitas negeri terbesar di Aceh Utara, Universitas Malikussaleh, sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa besar sang sultan.

20260530 184434

Lebih dari tujuh abad setelah wafatnya, makam Sultan Malik As-Saleh tetap berdiri kokoh. Batu nisan tua yang dipenuhi ukiran kaligrafi itu seolah terus berbisik kepada setiap pengunjung tentang sebuah masa ketika Islam pertama kali bersemi di bumi Nusantara. Dari tempat sederhana inilah jejak kejayaan Samudera Pasai bermula, meninggalkan warisan yang masih terasa hingga hari ini.

Makam Sultan Malik As-Saleh bukan hanya peninggalan sejarah. Ia adalah penanda lahirnya sebuah peradaban, saksi perjalanan panjang Islam di Nusantara, dan pengingat bahwa dari pesisir Aceh Utara, cahaya Islam pernah menyinari kepulauan Indonesia hingga ke berbagai penjuru Asia Tenggara.

Makam Sultan Malikussaleh, Jejak Awal Peradaban Islam di Nusantara

‎Di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, berdiri salah satu situs sejarah Islam terpenting di Indonesia, yakni Makam Sultan Malikussaleh, pendiri Kesultanan Samudera Pasai yang dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara.

‎Sultan Malikussaleh wafat pada tahun 1297 M dan dimakamkan di kawasan yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Samudera Pasai. Makam ini menjadi bukti kuat bahwa Islam telah berkembang di Aceh sejak abad ke-13.

“Salah satu keunikan makam tersebut terletak pada batu nisannya yang memiliki kemiripan dengan nisan dari Gujarat, India. Temuan ini memperkuat bukti adanya hubungan perdagangan, budaya, dan penyebaran Islam antara Samudera Pasai dengan dunia Islam pada masa lampau,” kata Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, Sabtu, (30/5/2026).

‎Hingga kini, makam Sultan Malikussaleh menjadi tujuan wisata religi, ziarah, dan penelitian sejarah. Banyak pengunjung datang untuk mengenang jasa sang sultan yang berperan besar dalam menyebarkan Islam serta membangun Samudera Pasai sebagai pusat perdagangan dan pendidikan Islam di Asia Tenggara.

“Di kompleks yang sama juga terdapat makam tokoh-tokoh penting Kesultanan Samudera Pasai, termasuk Sultan Muhammad Malik Al-Zahir dan Ratu Nahrasiyah. Keberadaan situs ini menjadi pengingat akan kejayaan peradaban Islam yang pernah tumbuh dan berkembang di pesisir utara Aceh,” ungkapnya.

‎Sebagai salah satu warisan sejarah bangsa, Makam Sultan Malikussaleh tidak hanya menyimpan nilai religius, tetapi juga menjadi simbol perjalanan panjang masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara yang patut dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang. [Adv]

 

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.