BANDA ACEH – Di pesisir Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, berdiri sebuah kompleks makam yang bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan ruang ingatan kolektif tentang kejayaan intelektual Islam di Aceh Darussalam.
Kompleks Makam Syiah Kuala menjadi saksi perjalanan panjang Syekh Abdurrauf As-Singkili, ulama besar abad ke-17 yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah keilmuan Islam di Nusantara. Ia merupakan putra Aceh yang menimba ilmu di Mekkah dan Madinah selama hampir dua dekade, berguru kepada ulama terkemuka seperti Ahmad Qushashi dan Ibrahim al-Kurani, sebelum kembali ke tanah kelahirannya.
Sekembalinya ke Aceh pada masa Sultanah Sri Ratu Taj’ul Alam Safiatuddin, Syekh Abdurrauf tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai Qadhi Malikul Adil atau penasihat hukum kerajaan. Perannya sangat penting dalam merumuskan dan menegakkan hukum syara’ di Kesultanan Aceh Darussalam. Dari sinilah lahir ungkapan yang masyhur dalam sejarah Aceh, “Adat bak Poteu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala”, yang menegaskan pembagian peran antara adat dan hukum Islam dalam pemerintahan.
Selain di istana, Syekh Abdurrauf juga membangun pusat pendidikan Islam di kawasan muara Sungai Aceh. Tempat ini berkembang menjadi zawiyah, pusat pembelajaran agama yang menjadi cikal bakal perkampungan Kuala. Dari sini pula ajaran Islam disebarkan ke berbagai lapisan masyarakat Aceh.
Kompleks makam yang kini dikenal sebagai situs sejarah dan wisata religi ini tidak hanya memuat pusara Syekh Abdurrauf, tetapi juga makam sejumlah pejabat serta keluarga Kerajaan Aceh Darussalam. Lokasinya yang berada di tepi pantai dan dekat muara sungai membuat kawasan ini memiliki nilai historis sekaligus spiritual yang kuat.
Menariknya, kompleks ini juga menyimpan kisah yang terus hidup di tengah masyarakat. Saat tsunami dahsyat 26 Desember 2004 melanda Aceh, area makam Syiah Kuala disebut tidak mengalami kerusakan parah. Peristiwa tersebut kemudian menambah daya tarik ziarah sekaligus menghadirkan ruang refleksi bagi banyak pengunjung.

Hingga kini, Syiah Kuala tidak hanya menjadi nama sebuah kawasan, tetapi juga simbol warisan intelektual, spiritual, dan sejarah panjang Aceh yang terus dikenang lintas generasi.
Makam Syekh Abdurrauf As-Singkili, Jejak Ulama Besar yang Menjadi Destinasi Religi Aceh
Di kawasan pesisir Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, berdiri sebuah kompleks makam yang kini menjadi salah satu tujuan utama wisata religi di Aceh, yakni Makam Syekh Abdurrauf As-Singkili.
Situs ini menyimpan kisah panjang perjalanan seorang ulama besar Nusantara yang dikenal berpengaruh dalam perkembangan Islam di Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-17. Syekh Abdurrauf lahir di Singkil, Aceh, kemudian menimba ilmu agama selama sekitar 19 tahun di Mekkah dan Madinah sebelum kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa khazanah keilmuan Islam yang luas.
Sekembalinya ke Aceh, ia dipercaya menduduki jabatan Qadhi Malikul Adil pada masa pemerintahan Sultanah Taj’ul Alam Safiatuddin. Peran tersebut menjadikannya salah satu tokoh penting dalam penguatan sistem hukum Islam di Aceh, yang kemudian melahirkan ungkapan historis “Adat bak Poteu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala”, sebagai simbol pembagian peran antara adat dan hukum syariat.
Di samping perannya di lingkungan kerajaan, Syekh Abdurrauf juga membangun pusat pendidikan Islam atau zawiyah di kawasan muara Sungai Aceh.
Dari tempat inilah berkembang aktivitas keilmuan, dakwah, serta pembinaan masyarakat yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan Islam di Aceh pada masa itu.
Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, mengatakan bahwa keberadaan zawiyah tersebut menjadi titik penting lahirnya tradisi intelektual Islam di Aceh yang terus dikenang hingga kini.
“Dari pusat inilah berkembang aktivitas keilmuan, dakwah, dan pembinaan masyarakat yang menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam di Aceh,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).
Kini, kompleks makam yang berada di tepi laut tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir sang ulama, tetapi juga menjadi lokasi ziarah yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Di dalamnya juga terdapat sejumlah makam tokoh dan keluarga Kesultanan Aceh Darussalam.
“Sebagai situs religi, kawasan ini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat. Banyak peziarah datang untuk mengenang jasa Syekh Abdurrauf sekaligus melihat peninggalan sejarah yang masih terjaga hingga sekarang,” tambahnya.
Makam Syiah Kuala hari ini tidak hanya menjadi destinasi wisata religi, tetapi juga simbol warisan intelektual Islam Aceh yang terus hidup, menghubungkan masa lalu dengan identitas budaya masyarakat Aceh saat ini. [Adv]





Komentar