probisnis.id – Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Syiah Kuala (USK) mulai mengarahkan transformasi kelembagaannya menuju fakultas yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga mandiri secara finansial melalui penguatan inovasi dan hilirisasi hasil riset.
Langkah tersebut menjadi salah satu fokus kepemimpinan Dekan FKG USK periode 2026–2031, Dr. drg. Zulfan M. Alibasyah, Sp.Perio, yang dilantik Rektor USK pada Senin, 13 Juli 2026.
Pada awal masa jabatannya, Zulfan meluncurkan Dentistry USK Enterprise Initiative (DEI), sebuah strategi yang dirancang untuk membangun ekosistem bisnis akademik berbasis tridarma perguruan tinggi. Program ini menjadi fondasi pengembangan fakultas agar mampu menghasilkan inovasi yang berdampak sekaligus menciptakan sumber pendanaan baru bagi pengembangan institusi.
DEI akan diwujudkan melalui pembentukan empat unit bisnis akademik, yakni Dental Continuing Education Center, Disaster Dental Center, Research Contract Unit, dan Digital Dentistry Center. Keempat unit tersebut diposisikan sebagai simpul kolaborasi antara kampus, pemerintah, industri, organisasi profesi, serta mitra internasional.
“Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Kampus juga harus mampu melahirkan inovasi yang dimanfaatkan masyarakat dan menciptakan sumber pendapatan yang sehat untuk mendukung pengembangan akademik,” kata Zulfan, Selasa, 14 Juli 2026.
Menurut dia, orientasi pembentukan unit bisnis bukan semata-mata mengejar keuntungan ekonomi, melainkan mempercepat hilirisasi penelitian dosen agar menghasilkan produk, layanan, maupun teknologi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia menilai masih banyak hasil penelitian di bidang biomaterial, kesehatan gigi, hingga pemanfaatan biodiversitas Aceh yang belum berkembang menjadi inovasi bernilai tambah. Karena itu, fakultas ingin menjembatani riset dengan kebutuhan dunia usaha dan pelayanan kesehatan.
Melalui Research Contract Unit, FKG USK akan memperluas kerja sama riset dengan pemerintah, industri, dan lembaga lain, sekaligus meningkatkan jumlah hak kekayaan intelektual, paten, serta produk inovasi yang siap dikomersialisasikan.
Sementara Dental Continuing Education Center diproyeksikan menjadi pusat pendidikan profesi berkelanjutan bagi dokter gigi melalui berbagai pelatihan, termasuk penguasaan teknologi digital kedokteran gigi dan implant dentistry.
Adapun Disaster Dental Center akan memperkuat kapasitas fakultas dalam bidang kedokteran gigi forensik, identifikasi korban bencana, serta pendidikan kebencanaan. Program ini dinilai relevan dengan pengalaman Aceh sebagai daerah yang kerap menghadapi bencana alam.
Di sisi lain, Digital Dentistry Center disiapkan sebagai pusat transformasi digital yang mengembangkan teknologi pelayanan kesehatan gigi, digitalisasi proses akademik, hingga inkubasi inovasi mahasiswa dan alumni.
Seluruh agenda tersebut menjadi bagian dari program 100 hari kerja dekan baru. Pada tahap awal, FKG USK akan melakukan audit akademik dan organisasi, memperkuat tata kelola berbasis digital, memetakan kesiapan sumber daya manusia, serta menyusun model bisnis untuk setiap unit sesuai prinsip Good University Governance.
“Kami ingin membangun sistem terlebih dahulu sebelum menjalankan bisnisnya. Fondasi tata kelola harus kuat agar seluruh unit mampu tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Zulfan.
Sebagai bagian dari proses transformasi, FKG USK juga akan melakukan studi banding ke sejumlah perguruan tinggi yang telah berhasil mengembangkan unit usaha akademik, antara lain Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, serta Pusat Pengembangan Ekonomi dan Bisnis Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.
Zulfan menegaskan keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kemitraan yang luas. Karena itu, FKG USK membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah, rumah sakit, industri farmasi, perusahaan alat kesehatan, BUMN, sektor migas, organisasi profesi, alumni, hingga lembaga pendidikan di kawasan ASEAN.
Bentuk kerja sama yang ditawarkan mencakup riset bersama, pengembangan teknologi, pelatihan profesional, investasi fasilitas pendidikan, program magang, hingga penyerapan lulusan.
“Kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. Kampus harus menjadi mitra strategis bagi dunia usaha dan pemerintah dalam menghasilkan inovasi yang bermanfaat. Kami percaya sinergi adalah kunci untuk mempercepat lahirnya pendidikan kedokteran gigi yang unggul dan berdaya saing di tingkat ASEAN,” katanya.
Melalui visi “Dentopreneur Unggul, Inovatif, Berdampak ASEAN”, FKG USK berupaya mengintegrasikan pendidikan, riset, pelayanan kesehatan, inovasi, dan kewirausahaan ke dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Strategi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan mutu akademik, tetapi juga memperkuat kemandirian institusi serta memperluas kontribusi fakultas terhadap pembangunan kesehatan dan ekonomi berbasis pengetahuan di Aceh dan kawasan Asia Tenggara.






Komentar