Gaya Hidup

Terkubur Lumpur, Bangkit dengan Jagung, Ikhtiar Pidie Jaya Menghidupkan Kembali 30 Hektare Sawah dan Ekonomi Petani

Terkubur Lumpur, Bangkit dengan Jagung, Ikhtiar Pidie Jaya Menghidupkan Kembali 30 Hektare Sawah dan Ekonomi Petani
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis id – Hamparan sawah di Desa Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua Ulee Glee, Kabupaten Pidie Jaya, pernah menjadi simbol pahit bencana hidrometeorologi. Sekitar 30 hektare lahan pertanian yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat tertimbun material lumpur dengan ketebalan mencapai hampir satu meter. Dalam sekejap, lahan produktif berubah menjadi tanah yang nyaris tak dapat ditanami.

Bencana itu bukan hanya merusak sawah. Ia juga memukul sendi ekonomi ratusan keluarga petani yang menggantungkan hidup pada musim tanam padi. Ketika sawah tak lagi bisa diolah, pendapatan petani ikut terhenti, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.

Di tengah kondisi tersebut, secercah harapan mulai tumbuh. Hamparan bekas sawah yang semula dipenuhi lumpur kini mulai menghijau oleh tanaman jagung. Di beberapa bagian lahan, kacang tanah juga tumbuh subur sebagai komoditas alternatif yang diharapkan mampu menghasilkan pendapatan selama proses rehabilitasi sawah berlangsung.

Perkembangan itu ditinjau langsung oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie Jaya, Muhammad Nur, saat mengunjungi lokasi pengembangan hortikultura pada, Senin (6/7/2026).

Bagi Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, keberhasilan tersebut bukan sekadar perubahan bentang alam. Lebih dari itu, pemanfaatan lahan melalui budidaya jagung dan hortikultura menjadi strategi menjaga roda ekonomi masyarakat agar tetap bergerak di tengah proses pemulihan pascabencana.

Alih fungsi sementara lahan pertanian menjadi sentra jagung dinilai sebagai solusi yang realistis. Selain memiliki masa tanam yang lebih singkat dibandingkan padi, jagung juga memberikan peluang pendapatan bagi petani sehingga lahan tidak dibiarkan menganggur selama rehabilitasi berlangsung.

Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, melalui Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Muhammad Nur, mengatakan proses pemulihan sektor pertanian menghadapi berbagai tantangan. Ketebalan endapan lumpur, kerusakan struktur tanah, hingga keterbatasan anggaran menjadi hambatan yang tidak mudah diatasi dalam waktu singkat.

Meski demikian, pemerintah daerah memilih untuk terus mengoptimalkan setiap potensi yang ada agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak berhenti.

“Selama sawah belum bisa kembali ditanami padi, kami akan terus mencari alternatif agar lahan tetap menghasilkan. Yang kami perjuangkan bukan hanya tanaman yang tumbuh, tetapi juga dapur petani agar tetap mengepul,” ujar Muhammad Nur.

Menurutnya, pemulihan sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat pedesaan. Karena itu, Dinas Pertanian dan Pangan terus mengembangkan berbagai komoditas yang sesuai dengan kondisi lahan pascabencana sekaligus mendorong peningkatan produktivitas petani.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga telah mengusulkan sejumlah program rehabilitasi dan pemulihan ekonomi kepada Pemerintah Aceh maupun pemerintah pusat. Program tersebut mencakup normalisasi lahan pertanian, bantuan sarana produksi, serta dukungan pengembangan komoditas pertanian agar kawasan terdampak dapat kembali menjadi sentra pangan.

Walaupun sebagian usulan tersebut masih menunggu realisasi, berbagai langkah pemulihan terus dijalankan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan masyarakat.

Kini, hamparan jagung yang menghijau di atas bekas lumpur menjadi simbol bahwa proses pemulihan mulai menunjukkan hasil. Bagi para petani, tanaman itu bukan sekadar komoditas, melainkan harapan untuk kembali memperoleh penghasilan setelah sempat kehilangan sumber mata pencaharian.

Perjalanan menuju pemulihan memang masih panjang. Namun, Pidie Jaya memperlihatkan bahwa bencana tidak selalu menjadi akhir dari kehidupan ekonomi masyarakat. Dengan inovasi, pendampingan, dan kerja sama berbagai pihak, lahan yang pernah dianggap mati perlahan kembali produktif, sementara semangat petani untuk bangkit tetap tumbuh, seteguh tanaman jagung yang kini menghijau di atas bekas lumpur.

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.