Berita

Masjid Tuha Ulee Kareng, Warisan Dakwah Ulama Yaman yang Tetap Berdiri Kokoh di Jantung Banda Aceh

Masjid Tuha Ulee Kareng, Warisan Dakwah Ulama Yaman yang Tetap Berdiri Kokoh di Jantung Banda Aceh
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id — Di tengah padatnya permukiman warga Gampong Ie Masen, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, berdiri sebuah bangunan sederhana yang menyimpan jejak panjang perjalanan Islam di Aceh. Bangunan itu adalah Masjid Tuha Ulee Kareng, salah satu masjid tertua di Tanah Rencong yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus menjadi saksi bisu perkembangan syiar Islam di Serambi Makkah.

Meski usianya telah mencapai ratusan tahun, masjid bersejarah ini tetap berdiri kokoh. Nilai sejarah dan arsitekturnya yang tinggi membuat Masjid Tuha Ulee Kareng ditetapkan sebagai situs cagar budaya oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Sekilas, bangunan masjid ini tampak sederhana. Berada hanya sekitar satu meter dari badan jalan, luas pekarangannya tidak terlalu besar. Pengunjung yang datang harus memarkirkan kendaraan di sisi kanan masjid yang memiliki ruang terbatas.

Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan kekayaan sejarah yang begitu berharga. Bentuk bangunan masjid menyerupai masjid-masjid tua Nusantara dengan denah persegi empat dan atap limas bertingkat. Berbeda dengan sejumlah masjid kuno lainnya di Aceh yang memiliki tiga tingkat atap, Masjid Tuha Ulee Kareng hanya memiliki dua tingkat atap yang menjulang sederhana namun tetap memancarkan keanggunan.

Keunikan lain terlihat pada konstruksi bangunannya. Masjid ini tidak memiliki jendela sebagaimana bangunan modern. Sirkulasi udara diperoleh melalui celah-celah dinding yang dilengkapi bilah-bilah kayu kecil. Suasana di dalam masjid terasa sejuk dan teduh meskipun tanpa banyak bukaan.

Memasuki ruang utama, pengunjung akan disambut oleh 16 tiang kayu tua yang menjadi penyangga utama bangunan. Tiang-tiang berbentuk segi delapan tersebut masih merupakan struktur asli sejak masjid ini dibangun. Pada bagian galangan atau balok kayu yang menghubungkan antar tiang, terlihat ukiran kaligrafi yang menjadi ciri khas seni Islam masa lampau.

Beberapa pahatan kaligrafi yang masih dapat dibaca hingga kini berisi doa iktikaf, doa qunut, serta dua kalimat syahadat. Ukiran-ukiran tersebut menjadi bukti bahwa masjid ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan pengajaran agama pada masanya.

Meski demikian, usia yang telah melampaui satu abad lebih mulai meninggalkan jejak. Sejumlah bagian kayu galangan terlihat rapuh dimakan waktu. Namun keaslian struktur bangunan tetap dijaga sebagai bagian dari warisan sejarah yang tak ternilai.

Kompleks masjid ini juga menyimpan jejak penting sejarah Aceh melalui sejumlah makam tokoh berpengaruh. Di area sekitar masjid terdapat makam Teuku Meurah Lamgapang beserta keluarga dan beberapa uleebalang yang pernah memimpin wilayah Ulee Kareng. Kehadiran makam-makam tersebut menunjukkan eratnya hubungan antara pusat pemerintahan lokal dan perkembangan dakwah Islam pada masa lalu.

Tak jauh dari sana, terdapat pula makam Habib Abdurrahman bin Habib Husein Al-Mahdali yang lebih dikenal masyarakat sebagai Habib Kuala Bak U. Sosok ulama asal Hadramaut, Yaman, ini diyakini sebagai tokoh yang berperan besar dalam pembangunan Masjid Tuha Ulee Kareng.

Meski tidak ditemukan catatan pasti mengenai tahun pendirian masjid, berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa keberadaannya berkaitan erat dengan kedatangan Habib Kuala Bak U ke Aceh pada tahun 1826. Ia datang bersama saudaranya, Habib Abu Bakar Bilfaqih atau yang lebih dikenal sebagai Teungku Dianjong, dengan membawa misi dakwah dan pendidikan Islam.

Kedatangan para ulama dari Hadramaut tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah penyebaran Islam di Aceh. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membangun pusat-pusat pendidikan yang kemudian melahirkan banyak ulama dan tokoh masyarakat.

Imam sekaligus pengurus Masjid Tuha Ulee Kareng, Teungku Saifuddin, menuturkan bahwa kedatangan Habib Kuala Bak U tidak terlepas dari peran Teuku Meurah Lamgapang. Sebagai pemimpin wilayah saat itu, Teuku Meurah memiliki keinginan kuat untuk memperkuat syiar Islam di kawasan Ulee Kareng.

Keinginan tersebut diwujudkan dengan mewakafkan sebidang tanah untuk pembangunan masjid. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini juga difungsikan sebagai pusat pendidikan Islam dan pembinaan masyarakat.

Sejak saat itu, Masjid Tuha Ulee Kareng tumbuh menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan yang berpengaruh di kawasan pedalaman Banda Aceh. Dari bangunan sederhana inilah nilai-nilai Islam diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

20260614 225839

Kini, di tengah perkembangan kota yang semakin modern, Masjid Tuha Ulee Kareng tetap berdiri sebagai pengingat akan sejarah panjang perjuangan dakwah para ulama dan pemimpin Aceh. Setiap tiang kayu, ukiran kaligrafi, hingga makam-makam tua di sekitarnya menjadi saksi perjalanan sebuah peradaban yang telah membentuk identitas Aceh sebagai Serambi Makkah.

Mesjid Tuha Ulee Kareng Memiliki Arsitektur Tradisional Yang MenarikĀ 

Mesjid Tuha Ulee Kareng selain menjadi tempat ibadah dan situs bersejarah, Masjid Tuha Ulee Kareng kini juga berkembang sebagai salah satu destinasi wisata religi dan budaya di Kota Banda Aceh.

“Keunikan arsitektur tradisional, nilai sejarah yang melekat pada bangunan, serta keberadaan makam para ulama dan tokoh penting Aceh menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara,” Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, Minggu, (14/6/2026)

Banyak pengunjung datang untuk menelusuri jejak perkembangan Islam di Aceh sambil menikmati suasana tenang yang masih terjaga di lingkungan masjid. Bagi pecinta sejarah, Masjid Tuha Ulee Kareng menawarkan pengalaman berharga untuk menyaksikan secara langsung warisan peradaban Islam yang telah bertahan selama hampir dua abad.

Di tengah pesatnya pembangunan Kota Banda Aceh, keberadaan Masjid Tuha Ulee Kareng menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah daerah tidak dapat dipisahkan dari akar sejarah dan nilai-nilai keislaman yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

“Karena itulah, masjid tua ini tidak hanya menjadi simbol kejayaan masa lalu, tetapi juga menjadi destinasi wisata edukasi dan religi yang terus menarik minat para pengunjung hingga hari ini,” paparnya. [Adv].

 

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.