probisnis.id – Sejumlah emiten, termasuk perusahaan milik Prajogo Pangestu dan grup Sinar Mas, merencanakan buyback saham. Langkah ini diambil menyusul anjloknya IHSG setelah pengumuman MSCI yang mengusulkan downgrade pasar saham Indonesia ke standalone market. Selain kedua grup tersebut, Bank Central Asia ($BBCA) dan Telkom Indonesia ($TLKM) juga berencana melanjutkan buyback yang telah disetujui dalam RUPST.
Pengumuman MSCI mengenai konsultasi tersebut memicu kekhawatiran di pasar. Emisi yang menyatakan rencana buyback masih terbatas, sehingga sulit untuk menyimpulkan dampak potensi buying support terhadap IHSG. “IHSG mungkin terlihat lebih baik setelah HSC dikeluarkan, tetapi memperbaiki angka indeks tidak sama dengan memperbaiki kualitas pasar modal,” kata skydrugz27.
Pada 19 Oktober 2026, BEI mengumumkan rencana untuk mengecualikan sekitar 80 saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Saham-saham ini tetap diperdagangkan, tetapi tidak lagi berkontribusi terhadap indeks setelah kebijakan tersebut diterapkan. Mekanisme ini mirip dengan yang diterapkan di bursa asing, seperti indeks Hang Seng di Hong Kong dan pendekatan pembobotan free float pada Nifty 50 di India dan S&P 500 di AS.
Menurut skydrugz27, kebijakan ini dapat mengurangi pengaruh saham dengan kepemilikan terkonsentrasi terhadap IHSG. Akibatnya, pergerakan ekstrem di saham HSC tidak akan berdampak langsung pada indeks. Namun, hal ini dapat membuat IHSG kurang mencerminkan kondisi pasar secara keseluruhan. Meskipun saham HSC masih memiliki porsi signifikan, pergerakannya tidak lagi tercermin dalam indeks.
Stockbitor skydrugz27 juga berpendapat bahwa BEI perlu menyediakan indeks pasar luas untuk membandingkan performa pasar. Hal ini penting agar perubahan kinerja pasar dapat diamati secara menyeluruh. Diskusi mengenai dampak perhitungan matematika terhadap manajer dana, investor, dan masalah lain yang perlu diperhatikan juga menjadi bagian dari analisis ini.[]
Sumber: Stockbit Snips






Komentar