Hukum

Jakarta Panas: Pengaruh Urban Heat Island dan El Nino

Jakarta Panas: Pengaruh Urban Heat Island dan El Nino
Aktivitas masyarakat di Jakarta pada siang hari yang panas [DetikNews]
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id – Jakarta merasakan suhu panas yang meningkat akhir-akhir ini, terutama siang hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi beberapa faktor penyebabnya. Cuaca panas di Jakarta dipicu oleh musim kemarau yang mengurangi curah hujan dan kondisi langit yang lebih cerah.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa saat musim kemarau, radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi menjadi lebih kuat. Hal ini terjadi karena awan yang sedikit membuat matahari lebih maksimal bersinar. Guswanto menyatakan, “Musim kemarau plus langit lebih cerah saat curah hujan berkurang dan awan sedikit, radiasi matahari yang sampai ke permukaan bumi jadi lebih maksimal.”

Selain itu, fenomena El Nino juga berkontribusi terhadap kondisi cuaca panas ini. BMKG menyebutkan bahwa El Nino saat ini dalam kategori sangat kuat, yang berdampak pada pengurangan curah hujan di banyak wilayah. Guswanto menambahkan, “Pengaruh El Nino untuk periode 2026 ini, BMKG memang menyatakan bahwa El Nino sedang aktif bahkan berkategori sangat kuat.”

El Nino menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering. Kelembapan udara yang rendah membuat tubuh lebih mudah kehilangan cairan. Guswanto berkomentar, “Udara kering saat kelembapan turun dan hujan jarang terjadi, tubuh kita lebih mudah kehilangan cairan.” Suhu di Jakarta menjadi lebih menyengat akibat kondisi ini.

Faktor lain yang turut menyumbang pada panasnya Jakarta adalah karakteristik kawasan perkotaan. Guswanto menjelaskan tentang fenomena urban heat island. Fenomena ini terjadi ketika suhu di area perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah yang memiliki lebih banyak vegetasi.

“Efek ‘urban heat island’ Jakarta ini faktor lokal. Aspal, beton, gedung, kendaraan, dan minimnya area hijau membuat panas tersimpan lebih lama. Akibatnya malam hari pun sering masih terasa gerah,” ujar Guswanto. Hal ini menjelaskan mengapa kota besar seperti Jakarta sering mengalami suhu yang tinggi.

Dengan kondisi ini, masyarakat di Jakarta perlu lebih berhati-hati, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Pengetahuan mengenai faktor penyebab panas ini dapat membantu mereka untuk mengantisipasi dan menjaga kesehatan.[]

Sumber: detikNews

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.