probisnis.id — Di sepanjang jalur lintas barat selatan Aceh, berdiri sebuah gunung yang seolah menjadi gerbang menuju wilayah pesisir Samudera Hindia.
Gunung itu bernama Geurutee, sebuah kawasan yang tidak hanya menawarkan panorama alam yang memukau, tetapi juga menyimpan legenda turun-temurun yang masih hidup dalam ingatan masyarakat hingga hari ini.
Bagi para pelintas jalan Banda Aceh–Calang, Gunung Geurutee merupakan salah satu destinasi yang hampir mustahil dilewatkan begitu saja. Berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Banda Aceh, gunung ini menjadi batas alami antara Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Jaya.
Di sisi kanan jalan terbentang tebing-tebing batu yang kokoh, sementara di sisi lainnya menghampar luas birunya Samudera Hindia yang seakan menyatu dengan langit.
Keunikan Geurutee terletak pada bentang alamnya yang berbeda dari gunung-gunung lain di Aceh. Struktur batuannya didominasi bongkahan-bongkahan besar yang menjulang kokoh.
Bahkan di beberapa titik, wisatawan masih dapat menemukan fosil-fosil biota laut seperti cangkang kerang yang tersimpan di antara batuan. Temuan tersebut memunculkan dugaan bahwa kawasan ini pada masa lampau pernah berada di dasar laut sebelum mengalami perubahan geologi yang membentuk pegunungan.
Dari puncak Geurutee, pemandangan yang tersaji begitu menakjubkan. Gugusan pulau-pulau kecil tampak menghijau di tengah lautan biru. Garis pantai berpasir putih membingkai pulau-pulau tersebut seperti lukisan alam yang sempurna. Angin laut yang sejuk berhembus tanpa henti, menemani wisatawan yang menikmati secangkir kopi Aceh atau kelapa muda di warung-warung sederhana yang berjejer di sepanjang kawasan puncak.
Tidak jarang pula kawanan monyet liar terlihat berkeliaran di sekitar lokasi. Hewan-hewan tersebut telah terbiasa berinteraksi dengan manusia dan menjadi bagian dari daya tarik Geurutee. Sebuah masjid kecil juga berdiri di kawasan ini, memberikan ruang bagi para musafir untuk beristirahat dan menunaikan ibadah.
Namun, keindahan Geurutee bukan hanya soal pemandangan. Di balik tebing-tebing batu dan hamparan lautnya, tersimpan sebuah kisah rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika Gerutu Menjadi Gunung
Konon, jauh sebelum Gunung Geurutee berdiri, wilayah Daya yang kini dikenal sebagai Lamno terhubung langsung dengan Aceh tanpa terhalang pegunungan. Perjalanan darat dapat dilakukan dengan mudah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Pada masa itu, hiduplah sepasang suami istri sederhana yang menggantungkan hidup sebagai nelayan. Kehidupan mereka sebenarnya cukup berkecukupan, namun sang suami memiliki keinginan untuk memperbaiki nasib dengan merantau ke Aceh.
Sang istri mencoba menahan kepergian suaminya.
“Bukankah kehidupan kita tidak kekurangan apa-apa? Mengapa harus pergi merantau?” tanyanya.
Namun sang suami tetap bertekad berangkat. Ia berjanji akan segera pulang setelah memperoleh hasil yang cukup dari perantauannya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Sang suami tak kunjung kembali. Kerinduan yang awalnya lembut perlahan berubah menjadi kegelisahan. Kegelisahan berubah menjadi kekecewaan. Dan kekecewaan akhirnya menjelma kemarahan.
Setiap hari sang istri mengeluh dan menggerutu menunggu kepulangan suaminya.
Hingga suatu hari, dalam puncak keputusasaan, ia mengucapkan kata-kata yang kelak dipercaya mengubah sejarah.
“Jika dia tidak pulang juga, biarlah dia tidak bisa pulang sekalian!”
Ucapan itu terdengar oleh banyak orang.
Tak lama kemudian, bumi dikisahkan berguncang hebat. Laut bergelora. Dari dasar samudera muncul bongkahan batu raksasa yang terus membesar hingga membentuk sebuah gunung yang memisahkan negeri Daya dengan Aceh. Jalan yang selama ini menjadi penghubung kedua wilayah pun tertutup selamanya.
Ketika sang suami akhirnya kembali dari perantauan, ia tidak lagi dapat pulang melalui jalan yang biasa dilaluinya. Sebuah gunung telah berdiri di antara dirinya dan kampung halaman.
Masyarakat kemudian menamai gunung tersebut “Geureutee”, yang berasal dari kata “geureutu” atau “gerutu” dalam bahasa Aceh, merujuk pada keluhan dan kegeraman sang istri yang dipercaya menjadi asal mula terbentuknya gunung itu.
Antara Mitos dan Pelajaran Kehidupan
Benar atau tidaknya legenda tersebut tentu tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun seperti banyak cerita rakyat lainnya, kisah Gunung Geurutee menyimpan nilai-nilai kehidupan yang tetap relevan hingga kini.

Ia berbicara tentang rindu yang terlalu lama dipendam, tentang janji yang tertunda, tentang harapan yang berubah menjadi kekecewaan, serta tentang jarak yang mampu memisahkan dua hati yang saling menunggu.
Di sisi lain, legenda ini juga mengajarkan bahwa setiap perjalanan memiliki tanjakan yang harus dilalui. Sama seperti jalan berliku menuju puncak Geurutee, kehidupan pun penuh dengan tantangan yang terkadang terasa berat dan melelahkan.
Namun ketika seseorang berhasil mencapai puncaknya, pemandangan indah akan menanti. Dari ketinggian Geurutee, hamparan laut biru dan pulau-pulau kecil yang menghijau seakan mengingatkan bahwa di balik setiap perjuangan selalu ada keindahan yang layak diperjuangkan.
Mungkin itulah sebabnya Gunung Geurutee tetap dikenang hingga hari ini. Bukan hanya karena kemegahan alamnya, tetapi juga karena kisah tentang cinta, penantian, dan harapan yang hidup di balik setiap batu dan tebingnya.
Puncak Geurutee Panorama Laut dan Pegunungan Jadi Magnet Utama
Keindahan alam di Puncak Gunung Geurutee, Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Kawasan wisata yang berada di jalur nasional Banda Aceh – Calang ini dipadati kendaraan dan pengunjung sejak siang hari.
Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, mengatakan Geurutee masih menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat Aceh karena menawarkan panorama alam yang sulit ditemukan di tempat lain. Dari puncak ini, wisatawan dapat menikmati hamparan laut biru Samudera Hindia yang berpadu dengan hijaunya perbukitan serta udara sejuk khas pegunungan.
Pantauan di lapangan menunjukkan arus wisatawan sudah terlihat sejak kawasan Gampong Pudeng, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Puluhan mobil pribadi dan rombongan sepeda motor tampak bergerak beriringan menuju Aceh Jaya untuk menghabiskan waktu liburan di kawasan tersebut.
Sesampainya di Puncak Geurutee, para pengunjung memadati warung kopi, gardu pandang, dan sejumlah titik yang menawarkan pemandangan terbaik. Banyak wisatawan memilih bersantai sambil menikmati secangkir kopi, kelapa muda, hingga semangkuk Indomie hangat yang menjadi menu andalan warung-warung di kawasan itu.
Keunikan Geurutee terletak pada posisinya yang berada di ketinggian pegunungan namun langsung menghadap ke laut lepas. Hembusan angin pegunungan yang berpadu dengan semilir angin laut menciptakan suasana nyaman dan menenangkan bagi para pengunjung.
“Suasananya sangat enak dan sejuk. Pemandangannya juga luar biasa. Hanya saja area parkir masih terbatas sehingga saat ramai seperti sekarang sering terjadi kemacetan,” ujar Aidil, Jum’at, (12/6/2026).
Meski menjadi destinasi favorit, kawasan Puncak Geurutee masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan ruang parkir dan sempitnya badan jalan. Kondisi ini menyebabkan antrean kendaraan mengular ketika jumlah pengunjung meningkat, terutama pada musim liburan dan akhir pekan.
Dengan pesona alam yang memadukan laut, pegunungan, dan udara sejuk, Puncak Geurutee terus menjadi salah satu ikon wisata Aceh yang selalu ramai dikunjungi setiap musim liburan. [Adv]






Komentar