probisnis.id – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kini berada di Rp 17.847. Bank Indonesia (BI) memberikan penjelasan terkait fenomena ini.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mencatat bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh kekhawatiran terkait tensi geopolitik di Timur Tengah.
Situasi tersebut mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$ 100 per barel, yang meningkatkan risiko inflasi global dan menekan outlook fiskal.
Erwin menambahkan, kebutuhan valas dari importir dan arus keluar dana dari portofolio aset domestik juga berkontribusi pada tekanan nilai tukar.
BI berkomitmen untuk hadir di pasar guna menjaga mekanisme pasar tetap berfungsi dan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya.
Ini dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dan memperkuat strategi operasi moneter pro-market.
BI juga berupaya memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai.
Dalam upaya ini, BI akan terus melakukan intervensi secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
Transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik juga akan dilakukan, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar dilakukan secara intensif untuk mendorong arus masuk modal asing.
BI berupaya mengoptimalkan insentif yang telah diberikan dan mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Pergerakan rupiah juga terpantau sejalan dengan pergerakan mata uang regional, dengan penguatan sebesar 0,37% secara quarter-to-date (QTD).
Posisi cadangan devisa Indonesia telah meningkat menjadi US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, menurut Erwin.[]
Sumber: detikFinance






Komentar