Bisnis

Kenaikan Harga Minyak Dunia Tekan Industri Petrokimia Indonesia

Kenaikan Harga Minyak Dunia Tekan Industri Petrokimia Indonesia
Ilustrasi kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada industri petrokimia [Kompas]
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id – Kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencapai 100 dolar AS per barel memberikan tekanan besar pada industri petrokimia nasional. Tekanan ini disebabkan bukan hanya oleh harga energi dan bahan baku yang melonjak, tetapi juga oleh biaya logistik yang tinggi dan permintaan domestik yang lemah. Hal ini diungkapkan dalam laporan dari Jakarta, Kompas.

Harga minyak mentah saat ini mencapai sekitar 103 dolar AS per barel, dengan minyak mentah Brent menyentuh 107 dolar AS per barel. Ini merupakan kenaikan tertinggi dalam empat bulan terakhir. Salah satu faktor penyebab kenaikan harga minyak dunia adalah penutupan pipa minyak utama oleh Arab Saudi, yang mengangkut minyak ke pelabuhan Laut Merah dengan kapasitas sekitar 7 juta barel per hari.

Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak saat ini berlangsung lebih cepat dan tinggi dibandingkan dengan fluktuasi harga yang terjadi sebelumnya selama konflik di Selat Hormuz. Menurutnya, harga nafta, yang merupakan salah satu bahan baku industri petrokimia, telah mencapai sekitar 1.000 dolar AS per ton.

Industri manufaktur masih sangat tergantung pada impor nafta. Dalam industri petrokimia, nafta digunakan sebagai bahan baku utama untuk memproduksi plastik polietilena (PE) dan polipropilena (PP). Plastik PE yang lebih fleksibel dan ringan umumnya digunakan untuk kantong belanja dan botol plastik. Sementara plastik PP yang lebih kuat dan tahan panas banyak digunakan untuk berbagai produk seperti mainan dan alat medis.

Selain itu, nafta juga digunakan untuk kebutuhan industri tekstil, seperti paraxylene yang diolah menjadi asam tereftalat (PTA) dan dicampur dengan monoethylene glycol (MEG) untuk menghasilkan poliester. Fajar menambahkan bahwa kenaikan biaya logistik dan kelangkaan kontainer menjadi tekanan tambahan bagi industri.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak dunia semakin memperburuk situasi industri petrokimia di Indonesia, di mana biaya logistik yang tinggi menambah beban produksi. Dengan demikian, industri petrokimia harus menghadapi tantangan besar untuk bertahan dalam kondisi yang tidak menentu ini.[]

Sumber: Kompas.id

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.