Banda Aceh – Menjelang pelaksanaan Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh yang dijadwalkan berlangsung pada 20–22 November 2026, dinamika organisasi mulai menghangat. Sejumlah nama mulai diperbincangkan di kalangan anggota sebagai figur yang berpotensi maju dalam bursa pemilihan Ketua PWI Aceh periode mendatang.
Informasi dikalangan Anggota PWI Aceh, dua nama itu yang paling sering disebut dalam berbagai diskusi internal adalah Nasir Nurdin dan Sayuti Achmad. Keduanya dinilai memiliki pengalaman panjang di dunia jurnalistik serta rekam jejak yang cukup dikenal di lingkungan PWI Aceh.
Nasir Nurdin dikenal sebagai wartawan senior yang aktif dalam berbagai kegiatan organisasi kewartawanan. Pengalamannya di bidang jurnalistik dan organisasi menjadi salah satu modal yang dinilai dapat memperkuat peran PWI Aceh dalam menghadapi berbagai tantangan dunia pers yang terus berkembang.
Sementara itu, Sayuti Achmad juga merupakan sosok yang memiliki pengalaman panjang di dunia media dan organisasi. Namanya kerap dikaitkan dengan upaya penguatan profesionalisme wartawan, peningkatan kapasitas anggota, serta pengembangan program-program organisasi yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari kedua tokoh tersebut terkait kesediaan mereka untuk maju sebagai calon Ketua PWI Aceh. Tahapan pencalonan juga belum dibuka secara resmi oleh panitia konferensi.
Sejumlah anggota PWI Aceh menilai kehadiran beberapa figur potensial dalam bursa ketua menjadi hal positif bagi organisasi. Selain membuka ruang kompetisi yang sehat, kondisi tersebut juga diharapkan dapat melahirkan gagasan-gagasan baru untuk memperkuat peran PWI Aceh sebagai organisasi profesi wartawan di daerah.
Konferensi PWI Aceh yang akan digelar pada November mendatang tidak hanya menjadi ajang pemilihan kepengurusan baru, tetapi juga momentum untuk merumuskan arah organisasi dalam menjawab tantangan pers di era digital, peningkatan kompetensi wartawan, serta penguatan etika dan profesionalisme jurnalistik.
Kata Nasir Nurdin Minta Panitia Konferprov XIII PWI Aceh Berpedoman pada AD/ART dan Aturan Organisasi
Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin, meminta seluruh Panitia Pelaksana (Organizing Committee/OC) dan Panitia Pengarah (Steering Committee/SC) Konferensi Provinsi (Konferprov) XIII PWI Aceh untuk menjalankan tugas sesuai Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART), dan Pedoman Organisasi (PO) PWI.
Penegasan tersebut disampaikan Nasir Nurdin saat membuka rapat perdana panitia Konferprov XIII PWI Aceh di Kantor PWI Aceh, Banda Aceh, Senin (22/6/2026).
”Baik SC maupun OC harus melaksanakan seluruh tahapan kegiatan sesuai aturan organisasi yang berlaku di PWI, sehingga Konferprov dapat berjalan sukses, tertib, dan lancar,” kata Nasir, dikutip modusaceh.co.
Sebelumnya, Pengurus PWI Aceh telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) Nomor 163/PWI-Aceh/SK/VI/2026 tentang Penyelenggaraan dan Pembentukan Panitia Konferprov XIII PWI Aceh Tahun 2026 sebagai dasar pelaksanaan agenda lima tahunan tersebut.
Rapat dipimpin Ketua Panitia Pelaksana, Muhammad Nazar Ahadi, dan dihadiri para ketua bidang yang bertanggung jawab terhadap berbagai aspek pelaksanaan kegiatan, mulai dari lokasi acara, protokoler dan undangan, akomodasi, transportasi, hingga publikasi dan dokumentasi.
Dalam arahannya, Muhammad Nazar Ahadi menekankan pentingnya koordinasi dan sinergi seluruh unsur panitia agar pelaksanaan Konferprov XIII PWI Aceh dapat berlangsung lancar, tertib, dan menghasilkan keputusan terbaik bagi organisasi.
”Konferprov merupakan agenda penting dan strategis bagi PWI Aceh. Karena itu, setiap bidang harus mempersiapkan tugas dan tanggung jawabnya secara maksimal agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan sesuai harapan,” ujarnya.
Pada rapat tersebut, masing-masing bidang memaparkan progres persiapan yang telah dilakukan sekaligus menyampaikan kebutuhan dan berbagai hal yang perlu mendapat perhatian bersama. Sejumlah masukan juga dibahas untuk mengantisipasi potensi kendala menjelang pelaksanaan konferensi.
Nasir Nurdin kembali mengingatkan pentingnya membangun koordinasi yang kuat antarbidang serta menjaga komunikasi intensif dengan pengurus sebagai penanggung jawab kegiatan. Menurutnya, keberhasilan konferensi sangat ditentukan oleh soliditas dan kesiapan seluruh panitia.
Selain membahas kesiapan teknis, rapat juga menyoroti mekanisme persidangan, agenda konferensi, serta upaya menciptakan suasana yang kondusif, demokratis, dan berintegritas selama proses pemilihan Ketua dan kepengurusan PWI Aceh periode mendatang.
Konferprov XIII PWI Aceh dijadwalkan berlangsung pada 20–22 November 2026 dan akan diikuti anggota PWI dari seluruh kabupaten/kota di Aceh. Forum tersebut merupakan agenda tertinggi organisasi di tingkat provinsi yang bertujuan mengevaluasi program kerja sekaligus memilih kepengurusan baru untuk periode berikutnya.
Nasir mengatakan panitia terus berkoordinasi dengan PWI Pusat guna memastikan seluruh tahapan konferensi berjalan sesuai ketentuan organisasi.
”Kita terus berkoordinasi dengan PWI Pusat agar seluruh agenda, termasuk tata tertib persidangan, benar-benar sesuai dengan aturan yang berlaku,” katanya.
Sementara itu, Ketua Steering Committee (SC), Azwani Awi atau yang akrab disapa Popon, menyatakan kesiapan pihaknya untuk mengawal seluruh proses konferensi sesuai aturan organisasi.
“Kita ingin Konferprov XIII PWI Aceh berlangsung berkualitas, demokratis, dan menghasilkan keputusan terbaik bagi organisasi serta insan pers Aceh,” ujar Popon.
Dengan dimulainya berbagai persiapan, PWI Aceh berharap Konferprov XIII tidak hanya menjadi ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum memperkuat konsolidasi organisasi dan meningkatkan profesionalisme wartawan di Aceh dalam menghadapi tantangan dunia pers yang terus berkembang.






Komentar