Bisnis

MSCI Diprediksi Terus Bekukan Saham Indonesia Hingga 2026

MSCI Diprediksi Terus Bekukan Saham Indonesia Hingga 2026
Kegiatan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia [Reuters]
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id – MSCI diperkirakan akan terus menerapkan kebijakan freeze bagi saham asal Indonesia. Kebijakan ini berdasarkan evaluasi indeks yang diumumkan pada 11 November 2026. Saat ini, MSCI tidak menambah saham baru ke indeks dan tidak menaikkan bobot saham yang sudah tercatat.

Wilbert Arifin, analis dari Mirae Asset Sekuritas, menyatakan kebijakan freeze masih akan diterapkan. Meskipun Indonesia termasuk dalam kategori Emerging Market, MSCI akan mengevaluasi kembali perlakuan terhadap bursa RI menjelang peninjauan indeks pada November 2026.

Evaluasi ini mencakup pembekuan terhadap Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). MSCI juga akan menghentikan penambahan saham baru ke dalam indeks dan kenaikan segmen indeks.

Wilbert menjelaskan, pengumuman mengenai kebijakan ini diperkirakan akan dilakukan pada akhir Oktober 2026. Pada Juni 2026, MSCI menekankan pentingnya konsistensi dan efektivitas pasar modal.

Konsistensi dan efektivitas ini harus dibuktikan oleh Self Regulatory Organization (SRO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Reformasi bursa telah diterapkan, seperti publikasi data kepemilikan saham di atas 1 persen.

Klasifikasi investor juga diperinci, dan kerangka High Shareholding Concentration (HSC) telah ditetapkan. Peta jalan untuk meningkatkan batas minimum free float menjadi 15 persen juga telah disiapkan.

Landasan hukum demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) juga sudah tersedia. Namun, fokus MSCI beralih dari implementasi reformasi ke pembuktian efektivitas kebijakan.

Indikasi awal menunjukkan perkembangan positif. Keterbukaan data kepemilikan saham di atas 1 persen terus dipublikasikan setiap bulan. Data ini digunakan MSCI untuk menyempurnakan estimasi free float.

Daftar saham HSC telah meningkat menjadi 63 saham. Sebanyak 37 di antaranya masuk melalui pengujian price impact ratio yang baru, untuk mengidentifikasi saham dengan pergerakan harga yang signifikan.[]

Sumber: Kompas.com

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.