Bisnis

Laba Bersih Vale Indonesia Naik 313% di 1H26

Laba Bersih Vale Indonesia Naik 313% di 1H26
Laba bersih Vale Indonesia meningkat signifikan pada 1H26 [Stockbit]
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id – Vale Indonesia ($INCO) melaporkan laba bersih sebesar US$104 juta pada 1H26, meningkat 313% dibandingkan tahun lalu.

Kenaikan laba ini sejalan dengan ekspektasi pasar, mencakup 50% dari estimasi konsensus 2026F yang mencapai US$207 juta.

Lonjakan laba bersih terutama disebabkan oleh ekspansi margin, sementara beban pokok pendapatan mengalami penurunan 1% YoY, meskipun pendapatan total meningkat 27% YoY menjadi US$543 juta.

Margin laba kotor meningkat ke 28% dibandingkan 7,1% pada 1H25, dan margin laba usaha naik menjadi 19,2% dari 5,9% di tahun sebelumnya.

Pendapatan dari bijih nikel berkontribusi signifikan, mencapai US$142 juta, dibandingkan hanya US$5 juta pada 1H25, menyumbang 26% dari total pendapatan.

Sementara itu, pendapatan dari nickel matte mengalami penurunan 5% YoY, terpengaruh oleh penurunan volume penjualan sebesar 21% menjadi 27.659 ton, meskipun harga jual rata-rata meningkat 21% YoY menjadi US$14.491 per ton.

Secara kuartalan, laba bersih pada 2Q26 tercatat US$61 juta, meningkat 39% QoQ dan 1.660% YoY, dengan margin laba kotor naik menjadi 32,9% dibandingkan 22,5% di 1Q26.

Perubahan nilai persediaan berkontribusi, dengan nilai positif mencapai US$64 juta, dibandingkan positif US$25 juta pada 1Q26, sehingga total akumulasi mencapai positif US$89 juta pada 1H26.

Pendapatan dari bijih untuk dijual mendominasi akumulasi tersebut, mencapai positif US$49 juta.

Normalisasi pajak efektif menjadi 30,4% dibandingkan 6,3% di 1Q26, mengakibatkan kenaikan laba sebelum pajak tidak sepenuhnya berkontribusi pada laba bersih.

Stockbit mempertahankan pandangan positif terhadap INCO, yang kini dikonfirmasi oleh laba bersih 1H26 setara 50% estimasi konsensus 2026F, dibandingkan 20% pada 1Q26.

Biaya tunai nickel matte mendekati target manajemen, yang menjadi perhatian utama pada laporan 1Q26.

Namun, harga jual bijih nikel gabungan turun menjadi US$36 per wmt pada 2Q26 dari US$59 per wmt di 1Q26, diperkirakan akibat pergeseran bauran komposisi bijih.

Untuk 2H26, INCO diperkirakan akan didorong oleh penyelesaian pembangunan furnace 3 pada Juni 2026, sehingga tidak ada lagi hambatan produksi nickel matte pada 2H26 untuk mencapai target manajemen di 67.645 ton.[]

Sumber: Stockbit Snips

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.