Bisnis

IHSG Anjlok 2% di Awal Sesi 2 Perdagangan 14 September 2026

IHSG Anjlok 2% di Awal Sesi 2 Perdagangan 14 September 2026
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia menunjukkan tekanan jual yang signifikan [CNBC Indonesia]
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada awal sesi 2 perdagangan hari ini, 14 September 2026. Per pukul 14.14 WIB, IHSG turun 2,02% atau 132,05 poin, mencapai level 6.409,33. Penurunan ini terjadi setelah IHSG sempat bergerak pada level tertinggi 6.543,28 sebelum mengalami tekanan jual yang signifikan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 544 saham tercatat turun, sedangkan hanya 157 saham yang mengalami kenaikan. Selain itu, terdapat 262 saham yang tidak mengalami perubahan. Aktivitas perdagangan menunjukkan bahwa sekitar 20,28 miliar saham telah diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp9,479 triliun dan frekuensi transaksi mencapai 1,387 juta kali.

Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia saat ini tercatat sekitar Rp11.196 triliun. Tekanan terhadap IHSG diperparah oleh aksi jual bersih (net foreign sell) dari investor asing yang mencapai Rp664,34 miliar di seluruh pasar selama sesi I hari ini. Aksi jual terbesar terjadi pada PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dengan nilai Rp164,81 miliar.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) juga mengalami penjualan asing senilai Rp127,90 miliar, di mana saham BMRI berkontribusi dalam penurunan indeks hari ini. Selain itu, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) mencatat penjualan asing sebesar Rp124,55 miliar.

Faktor eksternal juga berkontribusi pada tekanan terhadap IHSG, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan gangguan pelayaran di kawasan Teluk menyebabkan kekhawatiran pasar akan pasokan minyak. Kerusakan pipa minyak Arab Saudi yang merupakan jalur alternatif pengiriman minyak tanpa melalui Selat Hormuz menambah risiko gangguan pasokan.

Harga minyak dunia yang telah menembus US$100 per barel pekan lalu berpotensi menjadi perhatian investor. Lonjakan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter.[]

Sumber: CNBC Indonesia

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.