Gaya Hidup

Desi Skripsi Yang Tak Pernah Selesai

Desi Skripsi Yang Tak Pernah Selesai
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

PROBISNIS | Di tengah hiruk-pikuk aktivitas kampus, ketika mahasiswa lain sibuk mengejar nilai, menyusun masa depan, dan menata mimpi, ada satu sosok yang selalu berjalan pelan di lorong-lorong kampus.

‎Namanya Desi. Setiap pagi, ia datang dengan pakaian sederhana dan tas lusuh yang selalu dibawanya. Langkahnya pelan, wajahnya tenang, matanya memandang ruang-ruang kelas seperti seseorang yang masih menyimpan harapan besar di dalam hati.

Tidak banyak yang mengenalnya. Sebagian mahasiswa hanya tahu bahwa perempuan itu selalu ada di kampus, duduk di bangku belakang, mencatat pelajaran, lalu pulang saat kelas usai.

‎Namun di balik ketenangannya, Desi menyimpan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

‎Dulu, Desi adalah mahasiswi biasa di Universitas Almuslim. Ia datang dari keluarga sederhana dengan mimpi yang sederhana pula menyelesaikan kuliah, menjadi sarjana, lalu pulang membawa kebanggaan bagi orang tua.

‎Pada masa itu, skripsi belum dikerjakan dengan komputer seperti sekarang. Semua diketik menggunakan mesin ketik. Tidak ada tombol hapus, tidak ada file cadangan, tidak ada penyimpanan digital.

Salah mengetik satu huruf saja, halaman harus diulang dari awal. Setiap lembar membutuhkan waktu, kesabaran, dan tenaga yang besar.

‎Desi Menjalani Semuanya Dengan Sungguh-sungguh.

‎Ia rela duduk berjam-jam di depan mesin ketik. Suara ketukan tombol menjadi teman setianya setiap malam. Saat orang lain terlelap, Desi masih terjaga, menunduk di depan meja kecil, menata kata demi kata untuk menyelesaikan skripsinya.

‎Baginya, skripsi itu bukan hanya syarat kelulusan. ‎Skripsi itu adalah mimpi. Skripsi itu adalah harapan orang tua yang ingin melihat anaknya berhasil. Skripsi itu adalah bukti bahwa semua perjuangan, lelah, dan air mata yang ia lalui selama kuliah tidak sia-sia.

Namun Semua Itu Hancur Dalam Sekejap

‎Skripsi yang telah ia susun dengan susah payah diduga diambil oleh temannya sendiri. Teman yang selama ini ia percaya. Teman yang mungkin pernah duduk bersamanya di kantin, berjalan bersamanya menuju kelas, atau mendengar keluh kesahnya selama menyusun tugas akhir.

‎Pengkhianatan itu datang dari orang yang paling tidak ia duga.

‎Mungkin bagi sebagian orang, kehilangan skripsi hanyalah masalah yang bisa diperbaiki. Bisa dibuat lagi, bisa diketik ulang, bisa dimulai dari awal.

‎Tetapi bagi Desi, itu bukan hanya kehilangan setumpuk kertas.

‎Ia kehilangan semangat. Kehilangan rasa percaya. Kehilangan harapan. Dan perlahan, ia kehilangan dirinya sendiri.‎

‎Luka yang terlalu dalam membuat Desi jatuh dalam depresi berat. Hari-harinya berubah sunyi. Ingatannya perlahan memudar. Waktu berjalan terus, tetapi hidup Desi seolah berhenti tepat di titik ketika skripsinya hilang.

Tahun Demi Tahun Berlalu

‎Mahasiswa datang dan pergi. Generasi berganti. Gedung kampus mungkin berubah. Dosen-dosen mungkin berganti. Namun Desi tetap datang ke Universitas Almuslim, seolah-olah dirinya masih menjadi mahasiswi yang sedang mengejar kelulusan.

‎Ia masuk ke ruang kelas, duduk diam, mendengarkan dosen berbicara, lalu mencatat pelajaran dengan tekun di buku tulisnya. Tidak ada yang aneh dari caranya mengikuti perkuliahan. Ia datang dengan tenang, belajar dengan tenang, lalu pulang dengan tenang.

‎Tetapi di balik semua itu, ada kenyataan yang memilukan.

‎Bagi Desi, skripsi itu belum selesai. ‎Sidang itu belum tiba. ‎Wisuda Itu Masih Menunggu.

‎Mungkin, jauh di dalam hatinya, Desi masih percaya bahwa suatu hari nanti ia akan menyelesaikan semuanya. Bahwa suatu hari nanti ia akan berdiri mengenakan toga, menerima ijazah, lalu pulang dengan senyum bangga untuk dipersembahkan kepada kedua orang tuanya.

‎Pihak kampus pun memilih jalan kemanusiaan. Mereka tidak pernah mengusir Desi. Mereka tidak pernah melarangnya datang. Para dosen membiarkannya duduk di kelas, mendengar pelajaran, dan menulis seperti mahasiswa lainnya.

‎Karena mereka tahu, di balik sosok perempuan yang tampak tenang itu, ada luka yang terlalu besar untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Kisah Desi Dukan Hanya Tentang Skripsi Yang Hilang.

‎Ini adalah kisah tentang mimpi yang patah sebelum sampai ke tujuan. Tentang pengkhianatan yang menghancurkan masa depan seseorang. Tentang luka batin yang tidak terlihat, tetapi terus hidup di dalam diri seseorang selama bertahun-tahun.

‎Dan kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa satu tindakan tidak jujur dapat menghancurkan hidup orang lain. Bahwa penghinaan, pengkhianatan, bukanlah hal kecil.

‎Sebab ada luka yang tidak berdarah, tetapi sakitnya bertahan seumur hidup.

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.