Travel

Dodaidi, Ayunan Ibu yang Menjaga Warisan Budaya Aceh

Dodaidi, Ayunan Ibu yang Menjaga Warisan Budaya Aceh
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id — Di balik lembutnya ayunan bayi di rumah-rumah tradisional Aceh, tersimpan sebuah warisan budaya yang kaya akan nilai kehidupan, pendidikan, dan spiritualitas. Tradisi itu dikenal dengan nama Dodaidi, nyanyian pengantar tidur khas masyarakat Aceh yang telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun sejak masa lampau.

Bagi masyarakat Aceh, Dodaidi bukan sekadar lagu nina bobo untuk menenangkan anak sebelum tidur. Tradisi ini merupakan media pendidikan pertama dalam keluarga yang digunakan seorang ibu untuk menanamkan nilai agama, akhlak, cinta tanah air, hingga semangat perjuangan kepada anak sejak masih berada dalam buaian.

Di masa lalu, suasana malam di rumah-rumah kayu tradisional Aceh terasa begitu tenang. Bayi biasanya tidur di dalam ayunan kain yang digantung di kamar orang tua. Saat lampu mulai redup dan angin malam berembus pelan dari sela-sela dinding rumah, seorang ibu akan mengayunkan anaknya sambil melantunkan syair Dodaidi dengan suara lembut dan mendayu.

Lantunan itu terdengar sederhana, namun menyimpan makna yang dalam. Setiap bait mengandung doa, nasihat, harapan hidup, hingga ajaran Islam yang menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat Aceh. Tradisi ini menunjukkan bagaimana keluarga dalam budaya Aceh sejak dahulu menjadi ruang pertama pembentukan karakter dan spiritualitas anak.

Secara etimologi, kata Dodaidi berasal dari bahasa Aceh, yakni “doda” atau “peudoda” yang berarti bergoyang, dan “idi” yang berarti berayun. Nama tersebut menggambarkan aktivitas seorang ibu yang menidurkan anak sambil mengayunkan buaian dan melantunkan syair penuh makna.

Dalam kajian sastra tradisional Aceh, Dodaidi termasuk bentuk sastra lisan rakyat yang anonim, yaitu karya yang penciptanya tidak diketahui karena diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan. Syairnya biasanya terdiri atas empat baris dalam satu bait dengan pola rima sederhana yang mudah diingat dan dilantunkan.

Meski terdengar lembut, isi syair Dodaidi memiliki pesan moral dan spiritual yang sangat kuat. Hampir setiap bait diawali dengan penyebutan nama Allah sebagai bentuk penguatan tauhid dan penanaman nilai keimanan kepada anak sejak usia dini.

Masyarakat Aceh meyakini bahwa waktu menjelang tidur merupakan saat yang baik untuk menyampaikan pesan moral kepada anak. Dalam kondisi rileks menuju alam bawah sadar, nasihat dan doa yang dilantunkan dipercaya lebih mudah melekat dalam ingatan dan membentuk karakter anak ketika dewasa.

Tradisi ini juga sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan orang tua sebagai pendidik utama dalam memperkenalkan nilai agama kepada anak. Dalam konteks budaya Aceh, Dodaidi menjadi media dakwah keluarga yang dilakukan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

Salah satu bait Dodaidi yang sangat dikenal masyarakat Aceh berbunyi.

“Allahai do dodaidi,
Boh gadong bie boh kayee uteu
Rayek sinyak hana peue ma bri
Aeb ngon keuji ureung donya khe”

Syair tersebut mengandung doa dan harapan seorang ibu agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat meskipun hidup dalam keterbatasan. Anak diajarkan agar tidak mudah goyah menghadapi hinaan, fitnah, maupun kerasnya kehidupan dunia.

Selain mengandung nilai keagamaan dan moral, Dodaidi juga sarat dengan pesan patriotisme dan semangat perjuangan. Hal itu tampak dalam bait berikut:

“Allahai do dodaidang,
Seulayang blang ka putoh taloe
Beurijang rayek muda seudang
Ta jak bantu prang ta bila nanggroe”

Makna syair tersebut adalah ajakan agar anak kelak tumbuh menjadi pribadi pemberani yang siap membantu perjuangan membela negeri. Nilai cinta tanah air dan keberanian ditanamkan bahkan sejak seorang anak masih berada di dalam ayunan.

Bait lainnya bahkan mengandung pesan tentang pengorbanan demi bangsa dan agama.

“Wahee aneuk bek taduek le
Beudoh sare ta bila bangsa
Bek ta takot keu darah ile
Adak pih mate poma ka rela”

Syair ini mencerminkan kuatnya semangat perjuangan masyarakat Aceh dalam menghadapi penjajahan. Anak-anak dididik untuk tidak takut berkorban demi mempertahankan kehormatan bangsa, agama, dan tanah air.

Dalam konteks sejarah Aceh, Dodaidi memang tidak dapat dipisahkan dari semangat perlawanan rakyat terhadap kolonialisme. Pada masa perang melawan Belanda, syair-syair seperti ini menjadi bagian dari pendidikan karakter yang hidup di tengah masyarakat. Semangat yang sama juga tampak dalam Hikayat Prang Sabi yang membakar semangat rakyat Aceh untuk melawan penjajah.

Melalui tradisi lisan seperti Dodaidi, masyarakat Aceh mempertahankan identitas budaya, nilai agama, dan semangat perjuangan di tengah tekanan kolonial. Dari buaian sederhana di dalam rumah, lahirlah generasi yang tumbuh dengan nilai keberanian, keteguhan iman, dan cinta tanah air.

Semangat perjuangan dalam Dodaidi juga tidak membedakan laki-laki dan perempuan. Sejarah Aceh mencatat banyak perempuan yang turut mengangkat senjata melawan penjajah, seperti Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia. Kehadiran para pahlawan perempuan tersebut menunjukkan bahwa nilai keberanian telah tertanam kuat dalam budaya Aceh sejak usia dini.

Kini, di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi, tradisi Dodaidi mulai jarang terdengar di rumah-rumah masyarakat Aceh. Banyak orang tua beralih menggunakan lagu modern atau perangkat digital untuk menidurkan anak. Namun bagi sebagian masyarakat, Dodaidi tetap dianggap sebagai warisan budaya yang sangat berharga dan perlu dijaga keberlangsungannya.

6431237c 03d3 44d2 94f9 035f45d066cd

Tradisi ini bukan hanya tentang nyanyian pengantar tidur, melainkan tentang cara masyarakat Aceh mendidik generasi penerus melalui cinta, doa, nilai agama, dan semangat kebangsaan. Dalam setiap bait yang dilantunkan, tersimpan harapan agar anak tumbuh menjadi manusia yang beriman, berakhlak, mencintai tanah air, dan menghargai sejarah bangsanya.

Dodaidi menjadi bukti bahwa budaya Aceh memiliki cara yang lembut namun kuat dalam membentuk karakter generasi. Dari ayunan sederhana seorang ibu, lahirlah pesan-pesan kehidupan yang terus hidup dan dikenang dalam ingatan masyarakat Aceh hingga hari ini.

Dodaidi, Lantunan Tradisi Aceh yang Kini Jadi Daya Tarik Wisata

Dodaidi, nyanyian tradisional Aceh yang dulu hanya terdengar lirih di dalam rumah saat seorang ibu menimang anak, kini mulai diperkenalkan sebagai bagian dari pengembangan wisata budaya daerah. Lantunan lembut yang sarat doa, nasihat, dan kasih sayang itu kini menjadi salah satu daya tarik yang menarik perhatian wisatawan.

Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, menjelaskan bahwa dodaidi tidak hanya sekadar tradisi lisan, tetapi juga representasi nilai kehidupan masyarakat Aceh yang penuh kelembutan dan makna.

“Dodaidi merupakan nyanyian tradisional Aceh yang kini mulai dipromosikan sebagai bagian dari wisata budaya daerah,” ujar Aidil, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, melalui berbagai kegiatan seni, festival budaya, hingga pertunjukan tradisional, dodaidi kini tampil sebagai pengalaman wisata yang memperlihatkan sisi hangat kehidupan masyarakat Aceh. Syair-syairnya yang berisi doa dan pesan moral dinilai mampu memberikan kesan mendalam bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya Aceh lebih dekat.

“Sejumlah pegiat budaya menilai promosi dodaidi tidak hanya penting untuk menarik wisatawan, tetapi juga menjadi upaya menjaga tradisi lisan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Dengan memperkenalkan dodaidi dalam kegiatan pariwisata, generasi muda diharapkan semakin mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri,” ungkapnya.

Aidil menambahkan, pertunjukan dodaidi biasanya semakin kuat nuansa budayanya ketika dibawakan dalam suasana rumah tradisional Aceh, disertai iringan alat musik daerah serta busana adat yang memperkuat identitas lokal.

Di balik kesederhanaannya, dodaidi menghadirkan pengalaman emosional yang unik bagi para penonton. Lantunan yang lembut dan penuh kehangatan itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana penyampaian nilai-nilai budaya Aceh kepada generasi muda dan wisatawan.

“Kehangatan syair dan kelembutan nada menjadikan dodaidi bukan sekadar hiburan, tetapi juga media untuk menyampaikan nilai budaya Aceh kepada masyarakat luas,” tutup Aidil. [adv].

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.