probisnis.id – Tarif listrik yang dihasilkan dari geothermal memerlukan penyesuaian. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan, diperlukan keseriusan pemerintah dalam implementasi energi baru terbarukan. Energi baru terbarukan dianggap sebagai terobosan untuk menghadapi tantangan geopolitik dunia yang semakin tidak pasti.
Bahlil mengatakan, ”Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kami untuk segera mencari terobosan-terobosan alternatif dalam rangka mendorong kedaulatan energi kita.” Pernyataan ini disampaikan dalam pembukaan The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026. Acara tersebut berlangsung di Jakarta pada Rabu, 19 Juni 2026.
Pemerintah Indonesia berkomitmen pada Persetujuan Paris dan menyadari perlunya transisi ke energi baru terbarukan. Lifting minyak bumi Indonesia saat ini hanya sekitar 600.000-610.000 barel per hari, sedangkan konsumsinya mencapai 1,5-1,6 juta barel per hari.
Bahlil menjelaskan, biodiesel B50 mampu mengonversi sekitar 300.000 hingga 390.000 barel. Rata-rata, Indonesia masih memerlukan impor sekitar 700.000 barel per tahun. PLN membutuhkan kurang lebih 200.000-240.000 barel, tergantung pada ketersediaan gas dan produksi energi baru yang belum memadai.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2035, ditargetkan bauran energi baru dan terbarukan mencapai 70-75 persen. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas total 100 gigawatt (GW) beberapa kali.
Dalam pidato penyampaian Rancangan Undang-Undang tentang Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, Prabowo menyatakan bahwa pembangunan tahap pertama dengan kapasitas 30 gigawatt akan dimulai pada tahun 2026. Tender untuk proyek ini akan segera dilakukan.
Potensi energi panas bumi Indonesia menduduki peringkat satu di dunia, namun implementasinya baru berada di posisi dua setelah Amerika Serikat. Bahlil meminta Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Eniya Listiyani Dewi untuk memastikan bahwa listrik dari geothermal mencapai 15 persen dari bauran energi Indonesia.[]
Sumber: Kompas.id






Komentar