probisnis.id – Seorang dokter peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) ditemukan meninggal setelah jatuh dari apartemen di Jakarta Selatan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyatakan bahwa dokter tersebut memiliki riwayat gangguan kesehatan mental sejak masa koas. Direktur Jenderal SDM Kesehatan Kemenkes RI, Yuli Farianti, menjelaskan bahwa temuan ini penting untuk evaluasi program internsip.
Yuli menyatakan, informasi mengenai riwayat kesehatan peserta seharusnya diketahui lebih awal. Hal ini agar pendamping dapat memberikan pengawasan yang sesuai terhadap peserta internsip. Yuli juga mengungkapkan bahwa dokter tersebut telah mengonsumsi obat terkait kesehatan mental sejak masa pendidikan koas.
Investigasi menunjukkan perlunya penguatan dalam proses pemeriksaan kesehatan (medical check up/MCU) peserta internsip. Selama ini, hasil MCU dinilai kurang dimanfaatkan secara optimal oleh sistem pendidikan. Yuli mengingatkan bahwa hasil MCU perlu dikelola dengan baik dan tidak hanya disimpan tanpa tindakan lebih lanjut.
Menurut Yuli, pendamping peserta internsip memiliki peran penting dalam mendeteksi perubahan perilaku atau kondisi kesehatan. Jika pendamping tidak diberi informasi yang cukup, hal ini bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, Yuli menekankan pentingnya komunikasi antara pendamping dan peserta internsip.
Yuli juga mendorong agar apabila terdapat perilaku atau kondisi khusus pada peserta, pendamping dapat melaporkannya ke tingkat provinsi jika diperlukan. Hal ini untuk memastikan setiap masalah dapat ditangani dengan tepat.
Sejak awal tahun 2026, tercatat enam peserta Program Internsip Dokter Indonesia telah meninggal dunia. Kemenkes akan terus mengevaluasi sistem penyelenggaraan program internsip untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.[]
Sumber: detikHealth






Komentar