probisbis.id — Di tengah hiruk-pikuk Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, berdiri sebuah pesawat yang seolah membekukan waktu. Bukan sekadar monumen, replika RI-001 Seulawah itu menyimpan kisah besar tentang pengorbanan, persatuan, dan kecintaan rakyat Aceh terhadap Indonesia yang baru saja merdeka.
Bagi sebagian orang, pesawat berwarna perak yang terpajang di pusat kota itu mungkin hanya menjadi latar swafoto atau penanda sejarah. Namun di balik badan pesawat tersebut tersimpan cerita tentang bagaimana rakyat Aceh mengorbankan harta benda mereka demi menjaga eksistensi Republik Indonesia di masa-masa paling genting.
Pada penghujung dekade 1940-an, ketika Indonesia masih berjuang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kolonialisme Belanda, pemerintah Republik menghadapi berbagai keterbatasan. Salah satunya adalah minimnya sarana transportasi udara yang sangat dibutuhkan untuk menjalankan misi diplomasi, komunikasi antardaerah, hingga pengiriman logistik perjuangan.
Dalam situasi sulit itu, Aceh tampil sebagai daerah yang memberikan dukungan luar biasa. Melalui penggalangan dana yang melibatkan masyarakat, ulama, dan para saudagar, terkumpul biaya untuk membeli sebuah pesawat Dakota DC-3. Pesawat itulah yang kemudian diberi nama RI-001 Seulawah.
Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, menjelaskan bahwa nama “Seulawah” berasal dari bahasa Aceh yang berarti “Gunung Emas”. Nama tersebut bukan tanpa alasan.
“Seulawah menjadi simbol kemurahan hati rakyat Aceh yang rela menyerahkan kekayaan mereka demi kepentingan bangsa. Pesawat ini adalah bukti nyata bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan pengorbanan dan solidaritas,” ujarnya, Minggu, (14/6/2026).
Pesawat Dakota DC-3 yang memiliki panjang sekitar 19,66 meter dengan rentang sayap hampir 29 meter itu kemudian memainkan peranan penting dalam sejarah Indonesia. RI-001 Seulawah digunakan untuk berbagai misi strategis, mulai dari mengangkut logistik perjuangan, mendukung aktivitas diplomatik pemerintah Indonesia di luar negeri, hingga membantu menembus blokade yang dilakukan Belanda terhadap wilayah Republik.

Lebih dari itu, keberadaan pesawat ini menjadi tonggak penting dalam sejarah penerbangan nasional. Dari operasional dan pengalaman yang dibangun melalui RI-001 Seulawah, lahirlah fondasi yang kemudian berkembang menjadi maskapai penerbangan nasional Indonesia, Garuda Indonesia.
Karena itulah, RI-001 Seulawah tidak hanya dikenang sebagai alat transportasi udara, melainkan juga sebagai simbol kemandirian bangsa yang lahir dari semangat gotong royong rakyat.
Kini, replika pesawat tersebut berdiri kokoh di Blang Padang sebagai pengingat akan jasa besar masyarakat Aceh terhadap Republik. Monumen itu diresmikan pada 30 Juli 1984 dan hingga saat ini menjadi salah satu ikon sejarah yang paling sering dikunjungi di Banda Aceh.
Sementara pesawat aslinya disimpan dan dirawat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, sebagai bagian dari warisan sejarah nasional yang tak ternilai.
Bagi masyarakat Aceh, RI-001 Seulawah bukan sekadar benda bersejarah. Ia adalah lambang kebanggaan daerah yang pernah memberikan “sayap” bagi Indonesia untuk terbang menembus berbagai keterbatasan pada masa awal kemerdekaan.
Setiap kali mata memandang monumen tersebut, publik diingatkan bahwa di balik berdirinya sebuah negara yang berdaulat, terdapat kisah pengorbanan rakyat biasa yang memilih mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Dan dari tanah Aceh, pengorbanan itu menjelma menjadi sebuah pesawat bernama RI-001 Seulawah sayap emas yang turut mengantarkan Indonesia terbang menuju masa depannya. [Adv]






Komentar