Headline

Sultanah Nahrisyah, Cahaya Dari Pasai yang Menembus Zaman

Sultanah Nahrisyah, Cahaya Dari Pasai yang Menembus Zaman
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id — Di pesisir utara Aceh, ketika angin Selat Malaka membawa kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia, berdirilah sebuah kerajaan Islam yang menjadi pusat peradaban dan perdagangan internasional: Samudera Pasai. Dari kerajaan inilah lahir sosok perempuan yang namanya terus bergema dalam sejarah, Sultanah Nahrisyah.

Pada awal abad ke-15, ketika sebagian besar kekuasaan politik dunia berada di tangan laki-laki, Nahrisyah tampil sebagai pemimpin yang mampu mengubah arah perjalanan kerajaannya. Ia tidak hanya menjadi simbol keberanian perempuan, tetapi juga menjadi tokoh yang berhasil mengembalikan wibawa Samudera Pasai setelah melewati masa-masa sulit akibat pergolakan politik dan tekanan dari luar kerajaan.

Takhta yang diwarisinya bukanlah singgasana yang sepenuhnya kokoh. Pasai saat itu tengah berjuang memulihkan diri dari berbagai gejolak yang sempat mengguncang stabilitas kerajaan. Namun di tangan Sultanah Nahrisyah, harapan yang nyaris redup kembali menyala. Dengan keteguhan dan kecerdasannya, ia menata kembali pemerintahan, memperkuat hubungan dagang, dan menghidupkan denyut ekonomi yang menjadi nadi kerajaan.

Di bawah kepemimpinannya, pelabuhan-pelabuhan Pasai kembali ramai. Kapal-kapal dari Arab, Persia, India, hingga Tiongkok berlabuh membawa rempah-rempah, sutra, keramik, dan berbagai komoditas berharga. Pasai tumbuh menjadi salah satu simpul perdagangan terpenting di kawasan Asia Tenggara. Laut bukan sekadar jalur ekonomi, melainkan jalan yang menghubungkan peradaban-peradaban besar dunia.

Kemajuan ekonomi tersebut membawa dampak yang lebih luas. Samudera Pasai berkembang menjadi pusat pertukaran ilmu pengetahuan, budaya, dan agama. Para ulama, saudagar, dan cendekiawan berdatangan dari berbagai negeri. Dari pelabuhan inilah ajaran Islam menyebar ke berbagai wilayah Nusantara, menjadikan Pasai sebagai salah satu mercusuar peradaban Islam di kawasan ini.

Masa pemerintahan Sultanah Nahrisyah juga bertepatan dengan menguatnya hubungan diplomatik Pasai dengan dunia internasional. Salah satu peristiwa yang sering disebut dalam catatan sejarah adalah kedatangan armada besar Tiongkok yang dipimpin Laksamana Cheng Ho. Kehadiran armada tersebut menunjukkan betapa pentingnya posisi Pasai dalam jaringan perdagangan maritim dunia. Kerajaan ini bukan sekadar bandar dagang, tetapi juga mitra strategis yang diperhitungkan oleh kekuatan-kekuatan besar pada masanya.

Namun kebesaran Sultanah Nahrisyah tidak hanya diukur dari kemakmuran ekonomi atau hubungan diplomatik. Ia dikenang sebagai pemimpin yang memberikan perhatian besar terhadap kehidupan keagamaan dan pendidikan. Pada masa pemerintahannya, nilai-nilai Islam berkembang kuat dalam kehidupan masyarakat. Masjid, pusat pembelajaran agama, dan tradisi keilmuan tumbuh seiring dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat.

Lebih dari enam abad telah berlalu sejak masa pemerintahannya berakhir, tetapi jejak kebesarannya masih berdiri kokoh di tanah Pasai. Di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, terdapat makam Sultanah Nahrisyah yang hingga kini menjadi salah satu peninggalan sejarah Islam paling berharga di Nusantara.

Makam itu bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang ratu. Batu nisannya yang dihiasi ukiran kaligrafi Arab dengan corak seni khas dunia Islam menjadi saksi bisu kejayaan peradaban yang pernah tumbuh di pesisir Aceh. Setiap guratan kaligrafi yang terukir seakan menyimpan kisah tentang sebuah masa ketika Pasai menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, dan penyebaran Islam yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.

Bagi para sejarawan, makam Sultanah Nahrisyah merupakan mahakarya seni dan sejarah yang memiliki nilai luar biasa. Bahkan banyak kalangan menilai kompleks makam tersebut sebagai salah satu peninggalan makam Islam terindah di Asia Tenggara. Keindahannya tidak hanya terletak pada ukiran batu, tetapi juga pada cerita besar yang tersimpan di baliknya.

Sultanah Nahrisyah telah membuktikan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kemampuan, kebijaksanaan, dan keberanian dalam mengambil keputusan. Di tengah tantangan zamannya, ia berhasil membawa Samudera Pasai kembali berdiri sebagai kerajaan yang disegani dan dihormati.

20260609 225353

Kini, namanya terus hidup dalam ingatan masyarakat Aceh dan Indonesia sebagai simbol perempuan visioner yang mampu memimpin sebuah kerajaan besar di persimpangan jalur perdagangan dunia. Dari tanah Pasai, Sultanah Nahrisyah meninggalkan warisan yang jauh melampaui batas zamannya warisan tentang keteguhan, kecerdasan, dan pengabdian yang terus menginspirasi generasi demi generasi.

Sejarah mungkin telah berlalu, tetapi cahaya yang ditinggalkan Sultanah Nahrisyah masih menyala hingga hari ini, menerangi jejak panjang peradaban Islam dan mengingatkan bahwa dari pesisir Aceh pernah lahir seorang perempuan besar yang mengukir namanya dalam lembaran emas sejarah Nusantara.

‎Makam Sultanah Nahrasiyah, Permata Peradaban Islam dari Samudera Pasai

‎Di tengah hamparan sejarah yang membentang di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, berdiri sebuah peninggalan berharga yang menjadi saksi kejayaan peradaban Islam di Nusantara. Sekitar 18 kilometer di sebelah timur Kota Lhokseumawe, Makam Sultanah Nahrasiyah tetap kokoh berdiri, menyimpan kisah tentang kepemimpinan, seni, dan kemegahan Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-15.

‎Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, menyebut makam tersebut sebagai salah satu mahakarya peradaban Islam yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan arsitektur luar biasa. Makam itu berada di Kompleks II Kuta Karang, tidak jauh dari kompleks makam para raja Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara yang pernah menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan ini.

‎Menurut Aidil, Makam Sultanah Nahrasiyah bukan hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang pemimpin perempuan yang berpengaruh, tetapi juga simbol kemajuan peradaban Islam yang pernah tumbuh dan berkembang di Aceh.

‎“Keindahan makam ini telah lama menarik perhatian para sejarawan dunia. Orientalis Belanda, Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje, dalam catatannya pada tahun 1907 bahkan menyebutnya sebagai salah satu makam terindah di Asia Tenggara karena kehalusan seni pahat dan nilai historis yang dimilikinya,” ujar Aidil, Selasa (9/6/2026).

‎Makam Sultanah Nahrasiyah terbuat dari batu pualam yang didatangkan dari Gujarat, India. Material mewah tersebut menjadi bukti kuat hubungan erat Samudera Pasai dengan jalur perdagangan internasional pada masa itu. Pada setiap sisi makam terukir kaligrafi Arab yang indah dan rumit, memperlihatkan tingginya tingkat keahlian para seniman Muslim pada zamannya.

‎Berbagai ayat suci Al-Qur’an terpahat dengan sangat rapi, di antaranya Surat Yasin, Surat Al-Baqarah ayat 285, serta sejumlah ayat dari Surat Ali Imran. Keindahan ukiran tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mencerminkan kedalaman spiritual dan kebesaran tradisi Islam yang berkembang di Samudera Pasai.

‎Selain ayat-ayat Al-Qur’an, terdapat pula inskripsi berbahasa Arab yang memuat pujian kepada sang ratu sebagai sosok yang mulia dan bercahaya. Prasasti itu juga mencatat bahwa Sultanah Nahrasiyah wafat pada tahun 1428 Masehi setelah memimpin Kesultanan Samudera Pasai pada masa kejayaannya.‎

‎“Keutuhan makam yang telah berusia hampir enam abad ini menunjukkan betapa tingginya kualitas seni, teknologi konstruksi, dan peradaban yang dimiliki Samudera Pasai pada masa lampau,” kata Aidil.

‎Hingga saat ini, kondisi makam masih terawat dengan baik dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan religi yang banyak dikunjungi wisatawan, peneliti, akademisi, hingga peziarah dari berbagai daerah. Keberadaannya terus menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat jejak kejayaan Islam di Nusantara.

‎Lebih dari sekadar situs bersejarah, Makam Sultanah Nahrasiyah juga menjadi simbol penting peran perempuan dalam kepemimpinan Islam. Sosok Sultanah Nahrasiyah membuktikan bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam membangun pemerintahan, memperkuat peradaban, serta menjaga kejayaan sebuah kerajaan.

‎Kini, situs bersejarah tersebut terus dipromosikan sebagai salah satu destinasi warisan budaya unggulan Aceh. Di balik ukiran batu pualam yang anggun dan kaligrafi yang memukau, Makam Sultanah Nahrasiyah tetap menyampaikan pesan lintas zaman tentang kejayaan Samudera Pasai, kemuliaan ilmu pengetahuan, serta kuatnya jejak Islam yang pernah menerangi Nusantara. [Adv]

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.