probisnis.id — Tepat pada siang hari, suasana di kawasan Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, terasa tenang. Angin laut berhembus pelan dari Selat Malaka, sementara deretan perbukitan hijau membentang di sisi timur pesisir. Di salah satu bukit yang menghadap laut lepas itu, berdiri sebuah kompleks makam sederhana yang menyimpan kisah besar tentang perjuangan perempuan Aceh di masa lalu.
Di tempat inilah makam Laksamana Malahayati berada, sosok panglima laut perempuan Kesultanan Aceh Darussalam yang namanya begitu disegani bangsa-bangsa Eropa pada abad ke-16.
Untuk mencapai kompleks makam, pengunjung harus menaiki puluhan anak tangga semen dari kaki bukit. Perjalanan menuju puncak terasa teduh karena diapit pepohonan dan kebun milik warga. Dari atas bukit, hamparan laut Krueng Raya terlihat luas membiru, menghadirkan suasana yang tenang sekaligus penuh nuansa sejarah.
Kompleks makam itu dikelilingi pagar tembok sederhana dengan pintu masuk di sisi timur. Di dalamnya terdapat tiga makam yang berada dalam satu jirat dan dinaungi sebuah cungkup. Meski sederhana, kawasan ini menjadi salah satu situs sejarah penting di Aceh Besar yang setiap harinya ramai dikunjungi peziarah maupun wisatawan.
Sejak tsunami 2004 melanda Aceh, makam Malahayati semakin dikenal luas. Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara datang untuk berziarah sekaligus mengenal lebih dekat sosok perempuan yang pernah memimpin armada laut Aceh melawan Portugis dan Belanda.
Menurut penjaga makam, kunjungan biasanya meningkat pada akhir pekan. Sebagian besar pengunjung datang untuk mengetahui kisah perjuangan Malahayati yang selama ini dikenal sebagai laksamana perempuan pertama di dunia.
Tak jauh dari makam tersebut berdiri Benteng Inong Balee, benteng pertahanan yang menjadi salah satu jejak penting perjuangan Malahayati. Benteng yang menghadap langsung ke Selat Malaka itu dahulu menjadi markas pasukan Inong Balee, pasukan khusus perempuan Aceh yang terdiri dari para janda syuhada perang.
Malahayati yang memiliki nama asli Keumalahayati berasal dari keluarga bangsawan dan militer Kesultanan Aceh Darussalam. Hingga kini, tanggal pasti kelahirannya masih menjadi perdebatan para sejarawan. Namun sejumlah manuskrip yang tersimpan di Malaysia memperkirakan Malahayati lahir sekitar pertengahan abad ke-16.
Ayahnya adalah Laksamana Mahmud Syah, seorang panglima laut Kesultanan Aceh. Sementara kakeknya, Laksamana Muhammad Said Syah, masih memiliki hubungan keturunan dengan Sultan Salahuddin Syah, penguasa Kesultanan Aceh Darussalam pada masa awal kerajaan.
Sejak kecil, Malahayati sudah akrab dengan dunia pelayaran dan militer. Ia kerap diajak ayahnya berlayar mengarungi perairan Aceh. Pengalaman itu membentuk keberanian dan kecintaannya terhadap dunia maritim.
Saat remaja, Malahayati menempuh pendidikan di Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis, lembaga pendidikan militer milik Kesultanan Aceh yang pada masa itu dikenal maju di kawasan Asia Tenggara. Di tempat tersebut ia mempelajari strategi perang, diplomasi, hingga kepemimpinan armada laut.
Ketika dewasa, Malahayati menikah dengan seorang perwira laut alumni akademi militer yang sama. Pasangan ini dikenal sebagai prajurit tangguh Kesultanan Aceh. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama setelah suaminya gugur dalam peperangan melawan Portugis di perairan Selat Malaka.
Kepergian sang suami tidak membuat Malahayati meninggalkan dunia militer. Ia justru tampil sebagai pemimpin perempuan yang disegani. Dalam perjalanan kariernya, Malahayati pernah dipercaya menjadi kepala pengawal istana, protokol kerajaan, hingga memimpin dinas rahasia Kesultanan Aceh.
Pada masa itu, perang melawan Portugis menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh. Banyak laki-laki Aceh gugur syahid di medan perang sehingga meninggalkan para istri mereka.
Melihat kondisi tersebut, Malahayati membentuk Pasukan Inong Balee, yakni pasukan perempuan yang beranggotakan para janda pejuang Aceh. Pasukan ini kemudian bermarkas di kawasan Krueng Raya, Aceh Besar.
Di bawah kepemimpinan Malahayati, para perempuan Aceh dilatih menjadi prajurit laut yang tangguh. Mereka membangun benteng pertahanan di pesisir yang kini dikenal sebagai Benteng Inong Balee atau Benteng Malahayati.
Benteng itu bukan hanya menjadi pusat pertahanan, tetapi juga tempat pendidikan militer bagi ribuan anggota pasukan perempuan Aceh. Dari benteng yang berada di tepi Selat Malaka tersebut, mereka mengawasi lalu lintas kapal asing, termasuk armada Portugis, Belanda, dan Inggris yang mencoba memasuki wilayah Aceh.

Keberadaan benteng di lokasi strategis itu memperlihatkan betapa kuatnya pertahanan maritim Kesultanan Aceh pada masa kejayaannya.
Nama Malahayati tercatat dalam sejarah dunia setelah keberhasilannya menghadapi armada Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman pada 1599.
Dalam pertempuran laut yang sengit, Malahayati memimpin langsung armada perang Aceh. Cornelis de Houtman akhirnya tewas dalam duel melawan Malahayati di atas kapal perang. Peristiwa tersebut menjadi salah satu kekalahan besar Belanda dalam upaya awal menguasai jalur perdagangan di Nusantara.
Keberhasilan itu membuat nama Malahayati disegani bangsa-bangsa Eropa. Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Aceh Darussalam dikenal sebagai kekuatan besar yang mampu menjaga stabilitas dan keamanan Selat Malaka.
Malahayati dipercaya menjabat sebagai laksamana pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil sekitar tahun 1589 hingga 1604.
Hingga kini, dua jejak utama perjuangan Malahayati masih berdiri di Aceh Besar, yakni kompleks makam di atas bukit Lamreh dan Benteng Inong Balee di pesisir Krueng Raya.
Kedua situs tersebut menjadi saksi bisu perjuangan perempuan Aceh dalam mempertahankan tanah air, agama, dan martabat bangsa dari penjajahan asing.
Meski waktu terus berjalan dan sebagian bangunan benteng mulai termakan usia, semangat perjuangan Malahayati tetap hidup dalam ingatan masyarakat Aceh. Sosoknya dikenang bukan hanya sebagai panglima perang, tetapi juga simbol keberanian perempuan Nusantara yang mampu mengguncang kekuatan besar dunia pada zamannya.
Aceh tidak hanya dikenal dengan wisata religi Masjid Raya Baiturrahman, tetapi juga memiliki jejak sejarah perjuangan yang hingga kini masih dikenang masyarakat. Salah satunya adalah makam Laksamana Malahayati, sosok perempuan tangguh yang menjadi simbol keberanian rakyat Aceh melawan penjajah di masa lalu.
Makam Malahayati berada di kawasan pesisir Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar. Lokasi ini kerap dikunjungi peziarah, wisatawan, hingga pelajar yang ingin mengenal lebih dekat sejarah perempuan pertama di Nusantara yang menyandang gelar laksamana.
Selain menjadi tempat ziarah, kawasan makam juga menawarkan panorama alam pesisir yang tenang dan asri. Letaknya yang berada tidak jauh dari laut membuat suasana di sekitar kompleks makam terasa sejuk dan damai. Nuansa religi berpadu dengan nilai sejarah menjadikan tempat ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil mengatakan, Malahayati merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Aceh pada abad ke-16. Ia dikenal sebagai pemimpin armada laut Aceh sekaligus komandan pasukan Inong Balee, yakni pasukan perempuan yang beranggotakan para janda syuhada perang.
“Dalam catatan sejarah, Malahayati dikenal sebagai sosok perempuan pemberani yang memimpin armada laut Kesultanan Aceh. Keberaniannya membuat bangsa asing segan terhadap kekuatan Aceh kala itu,” kata Aidil, Kamis (21/5/2026).
Nama Malahayati semakin dikenal setelah keberhasilannya menghadapi armada Belanda dan Portugis yang berupaya menguasai wilayah Aceh. Dalam pertempuran laut pada 1599, ia disebut berhasil menewaskan Cornelis de Houtman, pelaut sekaligus penjelajah Belanda yang memimpin ekspedisi ke Nusantara.
Menurut Aidil, keberadaan makam Malahayati saat ini bukan sekadar situs sejarah, melainkan pengingat bahwa Aceh pernah melahirkan perempuan hebat yang berdiri di garis depan perlawanan terhadap kolonialisme.
“Semangat perjuangan Malahayati menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan Aceh, untuk terus berani, tangguh, dan mencintai sejarah daerahnya,” ungkapnya.
Bagi wisatawan yang datang ke Banda Aceh, berkunjung ke makam Laksamana Malahayati menjadi pengalaman wisata religi yang sarat nilai sejarah, budaya, dan semangat perjuangan rakyat Aceh. [Adv]






Komentar