probisnis.id — Di pesisir utara Aceh, tepatnya di kawasan Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, berdiri kokoh sebuah situs bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Aceh. Benteng Indrapatra, bangunan tua yang menghadap langsung ke Selat Malaka itu, tidak hanya menyimpan kisah pertahanan kerajaan masa lampau, tetapi juga merekam jejak kejayaan Kerajaan Lamuri, salah satu kerajaan tertua di Aceh.
Di tengah deburan ombak dan hembusan angin laut, benteng ini masih memperlihatkan kemegahannya meski telah berusia ratusan tahun. Dinding-dinding batu yang kokoh menjadi penanda bahwa wilayah Aceh sejak dahulu memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan internasional sekaligus menjadi kawasan penting dalam pertahanan maritim Nusantara.
Benteng Indrapatra diyakini merupakan peninggalan Kerajaan Lamuri atau Lambrie, kerajaan Hindu yang berkembang di Aceh sebelum masuknya Islam. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan kerajaan ini telah dikenal sejak abad ke-7 Masehi dan memiliki hubungan perdagangan dengan berbagai bangsa asing yang melintasi Selat Malaka.
Benteng tersebut dibangun sebagai sistem pertahanan kerajaan untuk mengawasi perairan pesisir utara Aceh dari ancaman musuh yang datang melalui laut. Lokasinya yang berada di tepi pantai menjadikan benteng ini sangat strategis untuk memantau aktivitas pelayaran sekaligus melindungi wilayah kerajaan.
Meski kerap dikaitkan dengan ancaman Portugis, sebagian sejarawan menilai Benteng Indrapatra kemungkinan sudah berdiri jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara. Benteng ini kemudian diperkirakan terus digunakan dan diperkuat pada masa Kesultanan Aceh Darussalam sebagai bagian dari sistem pertahanan pesisir.
Secara arsitektur, Benteng Indrapatra memiliki bentuk yang unik. Bangunannya tersusun dari batu kapur, batu gunung, serta bata merah dengan konstruksi yang masih tampak kokoh hingga kini. Kompleks benteng terdiri dari beberapa struktur bangunan dengan benteng utama berbentuk persegi dan memiliki bagian menonjol di sudut-sudutnya yang berfungsi sebagai titik pertahanan.
Dinding benteng yang tebal memperlihatkan kemampuan teknik bangunan masyarakat masa lampau dalam menghadapi serangan musuh. Di dalam kawasan benteng terdapat ruang-ruang yang diyakini pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik, ruang pertahanan, hingga area aktivitas prajurit kerajaan.
Selain itu, terdapat pula sumur dan saluran air yang menjadi sumber kebutuhan penghuni benteng pada masa itu. Keberadaan fasilitas tersebut menunjukkan bahwa Benteng Indrapatra bukan sekadar bangunan pertahanan, melainkan juga pusat aktivitas militer yang dirancang untuk bertahan dalam waktu lama saat menghadapi ancaman.
Benteng Indrapatra juga menjadi simbol kuatnya pertahanan Aceh pada masa lampau. Bersama sejumlah benteng lain di pesisir utara Aceh seperti Benteng Iskandar Muda, Benteng Kuta Lubok, dan Benteng Inong Balee, situs ini membentuk jaringan pertahanan yang menjaga wilayah Aceh dari ancaman luar.
Hingga kini, Benteng Indrapatra masih menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Pengunjung dapat menyaksikan langsung peninggalan arsitektur kuno sambil menikmati panorama laut yang membentang di sekitar benteng.
Meski sebagian bangunan telah mengalami kerusakan akibat usia, abrasi, dan faktor alam, upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat setempat agar situs bersejarah ini tetap terjaga. Benteng Indrapatra bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga pengingat bahwa Aceh pernah menjadi salah satu pusat peradaban penting di kawasan Asia Tenggara.
Di balik dinding batu yang mulai dimakan waktu, Benteng Indrapatra tetap berdiri sebagai saksi bisu kejayaan kerajaan-kerajaan Aceh yang pernah menguasai jalur perdagangan dan pertahanan di ujung barat Nusantara.
Benteng Indra Patra, Warisan Peradaban Aceh yang Menjadi Magnet Wisata Sejarah
Di tengah pesona pesisir Kabupaten Aceh Besar, terdapat sebuah situs bersejarah yang hingga kini tetap berdiri kokoh melawan zaman, yakni Benteng Indra Patra.
Benteng kuno yang berada di kawasan Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, ini menjadi salah satu bukti penting perjalanan panjang peradaban dan kejayaan Aceh pada masa lampau.
”Benteng Indra Patra dikenal sebagai salah satu situs bersejarah tertua di Aceh. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan benteng ini telah ada sejak masa kerajaan Hindu sebelum berkembangnya Kesultanan Aceh Darussalam,” Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, katanya, Rabu, 20 Mei 2026.
Seiring berjalannya waktu sebut Teuku Aidil, benteng tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai kawasan pertahanan strategis untuk mengawasi jalur pelayaran di Selat Malaka yang saat itu menjadi pusat perdagangan internasional.
”Dari kejauhan, bangunan benteng tampak sederhana. Namun ketika memasuki kawasan situs, pengunjung akan disuguhkan struktur dinding batu berukuran besar yang masih berdiri kuat,” paparnya.
Material batu yang dipadukan dengan kapur menunjukkan kemampuan arsitektur masyarakat pada masa itu dalam membangun sistem pertahanan yang kokoh di wilayah pesisir.
”Di dalam area benteng juga terdapat sejumlah bangunan berbentuk kubah yang menambah kesan unik dan bersejarah,” paparnya lagi.
Selain itu, suasana di kawasan ini terasa tenang dengan hamparan rumput hijau yang mengelilingi situs. Lokasinya yang berada tidak jauh dari bibir pantai membuat pengunjung dapat menikmati hembusan angin laut sambil menyaksikan panorama alam yang indah.
”Tidak hanya menjadi tempat wisata, Benteng Indra Patra juga memiliki nilai edukasi yang tinggi. Banyak wisatawan, pelajar, hingga peneliti sejarah datang untuk melihat langsung peninggalan masa lalu yang menjadi bagian penting identitas budaya Aceh,” papar Aidil.
Situs ini menjadi pengingat bahwa Aceh pernah memiliki peran besar dalam jalur perdagangan dan pertahanan kawasan Asia Tenggara.
Keberadaan Benteng Indra Patra kini terus dijaga sebagai salah satu cagar budaya bersejarah di Aceh. Pemerintah dan masyarakat setempat berupaya mempertahankan keaslian bangunan agar tetap lestari dan dapat dinikmati generasi mendatang.
”Dengan perpaduan nilai sejarah, budaya, dan panorama alam yang memikat, Benteng Indra Patra kini berkembang menjadi destinasi wisata sejarah yang ramai dikunjungi wisatawan, sekaligus menjadi simbol kuat jejak peradaban Aceh di masa lalu,” harapnya. [Adv]






Komentar