probisnis.id — Terik matahari siang menumpahkan cahaya keemasan di atas jalanan yang lengang. Udara terasa hangat menyelimuti kulit, sementara bayangan pepohonan menari pelan diterpa angin. Dari dahan-dahan yang rindang, terdengar kicau burung bersahutan jernih, ringan, dan menenangkan seolah menjadi irama alami yang menghidupkan suasana siang hari.
Dedaun-daun bergetar lembut, memantulkan cahaya matahari yang menyelinap di sela ranting, menciptakan pemandangan yang tenang namun penuh kehidupan.
Di balik rimbunnya pepohonan di Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, berdiri sebuah rumah panggung sederhana namun sarat makna sejarah. Rumah itu bukan sekadar bangunan kayu beratap rumbia, melainkan saksi bisu perjuangan seorang perempuan tangguh yang namanya harum dalam sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonial Belanda, Cut Nyak Dien.
Memasuki kawasan rumah tersebut, pengunjung seakan diajak kembali menelusuri jejak perjuangan sang srikandi Aceh. Bangunan rumah panggung itu berdiri kokoh dengan 65 tiang kayu ulin sebagai penyangga utama. Dominasi warna hitam berpadu dengan ukiran khas Aceh menghadirkan kesan gagah sekaligus artistik, mencerminkan karakter Cut Nyak Dien yang dikenal berani, tegar, namun tetap menjunjung nilai estetika dan budaya.
Rumah berukuran sekitar 25 x 17 meter itu terdiri atas lima ruangan utama. Di bagian depan terdapat ruang tamu yang kini dipenuhi deretan foto bersejarah. Foto-foto tersebut menampilkan sosok Cut Nyak Dien, suaminya Teuku Umar, serta para pejuang Aceh lainnya yang pernah mengangkat senjata melawan kolonialisme Belanda. Potret-potret itu tertata rapi di sepanjang dinding, menghadirkan suasana yang sarat nilai perjuangan.
Di salah satu sudut luar rumah, terdapat sebuah sumur tua yang hingga kini airnya masih mengalir jernih. Sumur itu diyakini merupakan peninggalan asli dari masa Cut Nyak Dien. Banyak pengunjung sengaja meminum airnya, bukan hanya untuk melepas dahaga, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan napak tilas perjuangan sang pahlawan.
Tak hanya menyimpan cerita perjuangan, rumah itu juga menjadi tempat penyimpanan berbagai benda pusaka peninggalan masa perang Aceh. Aneka senjata tradisional khas Aceh seperti parang singrong, parang cot lamtreng, parang ladieng, hingga tombak masih tersimpan di beberapa sudut ruangan. Senjata-senjata tersebut dahulu digunakan para pejuang Aceh dalam perlawanan sengit melawan tentara kolonial Belanda.
Selain persenjataan, terdapat pula sejumlah perabot rumah tangga berbahan keramik yang menjadi bukti tingginya peradaban masyarakat Aceh pada masa lampau. Keberadaan benda-benda itu memperlihatkan bahwa masyarakat Aceh kala itu telah memiliki hubungan perdagangan dan budaya yang maju dengan dunia luar.
Namun sejarah rumah tersebut juga menyimpan kisah pilu. Pada 1896, rumah Cut Nyak Dien dibakar oleh tentara Belanda setelah mereka gagal menangkap sang pejuang perempuan. Rumah itu pun sempat rata dengan tanah dan hanya menyisakan fondasi.
Barulah pada 1987 rumah tersebut dipugar kembali berdasarkan sisa-sisa pondasi asli yang masih ditemukan di lokasi. Dalam proses pemugaran itu, ditemukan berbagai benda peninggalan yang diduga sengaja dikubur oleh Cut Nyak Dien agar tidak dirampas penjajah Belanda ketika dirinya sedang bergerilya di pedalaman.
Salah satu bagian paling menarik perhatian wisatawan adalah koleksi foto dokumentasi perjuangan rakyat Aceh. Di antaranya terdapat foto terkenal Teuku Umar yang tampak berpose bersama tentara Belanda. Foto itu merekam strategi cerdik Teuku Umar yang kala itu berpura-pura bekerja sama dengan Belanda demi memperoleh persenjataan dan informasi sebelum akhirnya kembali menyerang kolonial.
Ada pula foto ikonik Cut Nyak Dien saat berada di pengasingan di Sumedang, Jawa Barat. Dalam foto tersebut, Cut Nyak Dien tampak duduk di tengah dengan wajah yang memperlihatkan kondisi kesehatannya yang mulai melemah. Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, foto itu diambil secara paksa oleh Belanda karena selama masa perjuangan, wajah Cut Nyak Dien nyaris tidak pernah terlihat jelas akibat selalu bercadar saat memimpin perlawanan.
Foto tersebut menjadi salah satu dokumentasi paling bersejarah karena turut memperlihatkan sosok Pang Laot Ali, tokoh yang disebut dalam sejarah sebagai pihak yang membocorkan keberadaan Cut Nyak Dien kepada Belanda. Pengkhianatan itu dilakukan karena rasa iba terhadap kondisi sang ratu Aceh yang saat itu menderita sakit berat di tengah pelarian.
Konon, ketika mengetahui dirinya dikhianati, Cut Nyak Dien murka. Dengan penuh emosi ia disebut berteriak kepada Pang Laot Ali. Meski demikian, seluruh foto yang dipajang di rumah Cut Nyak Dien saat ini hanyalah salinan. Sementara dokumen dan foto asli disimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Kini, rumah Cut Nyak Dien bukan hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga simbol keteguhan rakyat Aceh dalam mempertahankan martabat dan kemerdekaan. Di balik kayu-kayu tua dan ukiran khas Aceh itu, tersimpan semangat perjuangan seorang perempuan yang tak pernah tunduk kepada penjajahan.
Rumah Cut Nyak Dhien Objek Wisata Sejarah
Di tengah rindangnya pepohonan dan suasana tenang khas pedesaan Aceh, Rumah Cut Nyak Dhien berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjuangan sejarah bangsa. Rumah panggung tradisional yang menjadi peninggalan pahlawan nasional Cut Nyak Dhien ini tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang ramai dikunjungi masyarakat.
Sejak pagi hari, kawasan rumah mulai dipadati wisatawan lokal maupun luar daerah. Mereka datang untuk menyaksikan langsung bentuk arsitektur rumah khas Aceh yang masih terjaga keasliannya. Ornamen kayu, ukiran tradisional, serta struktur bangunan panggung menghadirkan nuansa masa lampau yang kental.
“Banyak pengunjung memanfaatkan momen tersebut untuk berfoto sambil menikmati suasana asri di sekitar kawasan cagar budaya,” kata Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, katanya, Minggu, 17 Mei 2026.
Tidak sedikit pula wisatawan yang mendengarkan kisah perjuangan Cut Nyak Dhien dalam melawan penjajahan. Melalui penjelasan pemandu dan informasi sejarah yang tersedia, pengunjung diajak mengenang semangat perjuangan tokoh perempuan Aceh yang dikenal gigih dan berani.
“Nilai-nilai patriotisme yang melekat pada sosok Cut Nyak Dhien menjadikan tempat ini bukan sekadar objek wisata, tetapi juga ruang edukasi sejarah bagi generasi muda,” jelasnya.
Di sekitar lokasi, pepohonan rindang menciptakan udara sejuk yang membuat pengunjung betah berlama-lama. Suara burung dari sela-sela pepohonan menambah ketenangan suasana, sementara aktivitas wisatawan menghadirkan kehidupan tersendiri di kawasan tersebut.
“Perpaduan antara sejarah, budaya, dan keindahan lingkungan menjadikan Rumah Cut Nyak Dhien tetap hidup sebagai warisan budaya Aceh yang terus dijaga dan dikenang sepanjang masa,” paparnya lagi.
Rumah Cut Nyak Dhien merupakan salah satu cagar budaya bersejarah yang menjadi daya tarik wisata di Aceh. Rumah tradisional peninggalan pahlawan nasional Cut Nyak Dhien ini ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.
“Para pengunjung datang untuk melihat arsitektur rumah khas Aceh sekaligus mengenal perjuangan Cut Nyak Dhien melawan penjajahan,” ungkapnya.
Di sekitar kawasan rumah, suasana terasa hidup dengan hadirnya wisatawan lokal maupun luar daerah yang berfoto, mendengarkan penjelasan sejarah, dan menikmati lingkungan yang asri. Pepohonan rindang di sekitar lokasi menambah kesejukan, sementara suasana budaya Aceh masih terasa kuat melalui bentuk bangunan dan ornamen tradisional yang terawat. [adv]






Komentar