probisnis.id – Bank Indonesia gagal menghentikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kepercayaan pasar menjadi faktor utama yang mendorong keluarnya modal asing dari Indonesia.
Ketika kepercayaan menurun, investor berbondong-bondong menarik dana mereka dan menginvestasikannya ke instrumen yang lebih aman. Arus keluar modal ini memicu pelemahan nilai tukar terhadap mata uang asing.
Hal inilah yang terjadi pada rupiah akhir-akhir ini. Saat pasar tutup pada Jumat sore, 8 Mei 2026, nilai tukar rupiah melemah 49 poin atau 0,28 persen terhadap dolar AS menjadi Rp17.382 dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Pada awal pekan lalu, rupiah sempat mencapai Rp17.414 per dolar AS. Angka tersebut merupakan level terendah sepanjang masa.
Selain memperketat pembelian dolar untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia beberapa kali dari Januari hingga April 2026. Imbal hasil tersebut mendekati 6 persen.
Lelang SRBI meningkat menjadi dua kali seminggu. Namun instrumen moneter ini belum mampu memenangkan kembali modal asing.
Intervensi jangka pendek bukanlah obat mujarab untuk memulihkan kepercayaan. Data Bloomberg menunjukkan arus keluar modal dari pasar saham dan obligasi Indonesia dari Januari hingga akhir April 2026 mencapai Rp68,4 triliun atau setara US$3,95 miliar.
Angka tersebut empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Mayoritas arus keluar berasal dari pasar saham, terutama setelah Morgan Stanley Capital Index memberikan peringatan tentang transparansi pasar modal Indonesia.
Tata kelola fiskal yang buruk menjadi akar penyebab menurunnya kepercayaan investor. Dalam mengejar pertumbuhan ekonomi, pemerintah menggenjot pengeluaran untuk program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.
Pada triwulan pertama, belanja MBG melampaui Rp55 triliun atau sekitar US$3,2 miliar dengan plafon anggaran Rp335 triliun atau US$19,4 miliar. Secara tertulis, belanja besar ini memang mendorong pertumbuhan hingga 5,61 persen.
Masalahnya, pertumbuhan yang didukung oleh belanja pemerintah, terutama dengan mengandalkan faktor musiman seperti libur Idul Fitri, tidak dapat diulang setiap kuartal. Pelaku pasar memandang pertumbuhan ekonomi yang signifikan ini bertumpu pada fondasi yang rapuh dan tidak berkelanjutan.
Sebagai bukti, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada triwulan pertama mencapai Rp240,1 triliun. Defisit ini menunjukkan tekanan fiskal yang semakin berat di tengah upaya pemerintah mendorong konsumsi.[]
Sumber: Magz TEMPO






Komentar