probisnis.id — Dentuman rapa’i terdengar menggema memecah di hening malam, di Desa Matang Kupula Sa, Kecamatan Madat, Aceh Timur, sepekan lalu, sebuah halaman gampong di pesisir Aceh. Puluhan tangan bergerak serempak menabuh kulit gendang dengan ritme cepat dan menghentak.
Di sela tabuhan itu, syair-syair bernuansa Islami dilantunkan, menyatu dengan semangat para pemain yang duduk berbaris rapi. Bagi masyarakat Aceh, rapa’i bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan denyut sejarah yang hidup dari generasi ke generasi.
Di antara beragam kesenian tradisional Aceh, Rapa’i Pase menjadi salah satu warisan budaya yang paling dikenal. Kesenian ini tumbuh di wilayah pesisir utara Aceh dan diyakini telah hadir sejak masa kejayaan Kerajaan Samudera Pasai. Suara tabuhannya yang khas tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya dan media dakwah Islam pada masa lampau.
Nama “Rapa’i” dipercaya berasal dari seorang ulama dan ahli tasawuf, Ahmad Rifa’i. Sosok tersebut diyakini sebagai pencipta alat musik rapa’i yang awalnya digunakan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Dalam perkembangannya, kesenian ini diperkenalkan lebih luas di Aceh oleh Syeikh Abdul Kadir Jailani melalui media dakwah yang memadukan seni dan syair keagamaan.
Pada awal kemunculannya, alat musik ini dikenal sebagai gendang dufun. Namun, masyarakat kemudian menyebutnya sebagai “rapa’i” untuk mengenang jasa Ahmad Rifa’i. Sementara kata “Pase” merujuk pada wilayah Pasai di Aceh Utara, daerah yang diyakini menjadi tempat pertama berkembangnya kesenian tersebut. Dari kawasan pesisir itulah, Rapa’i Pase menyebar ke berbagai daerah dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Di masa lalu, Rapa’i Pase tidak hanya dimainkan dalam acara hiburan. Tabuhan rapa’i sering hadir dalam kegiatan adat, perayaan keagamaan, hingga penyambutan tamu kerajaan. Syair-syair yang dilantunkan mengandung pesan moral, dakwah Islam, dan nilai kebersamaan. Kombinasi antara irama yang menghentak dan lantunan syair religius menjadikan pertunjukan rapa’i terasa sakral sekaligus penuh semangat.
Seiring perjalanan waktu, lahirlah berbagai jenis rapa’i dengan ciri khas masing-masing. Salah satunya adalah Rapa’i Uroh, kesenian tradisional yang berkembang di tengah masyarakat pedesaan Aceh.
Dalam bahasa Aceh, kata “uroh” berarti ajakan atau seruan untuk berkumpul. Sesuai namanya, Rapa’i Uroh dahulu digunakan sebagai media pemanggil masyarakat ketika akan dilaksanakan kegiatan penting di kampung. Dentuman tabuhannya yang keras mampu terdengar hingga ke sudut-sudut gampong, menjadi tanda bahwa warga harus berkumpul untuk gotong royong, kenduri, musyawarah, ataupun kegiatan adat lainnya.
Berbeda dengan Rapa’i Pase yang lebih banyak dikenal sebagai pertunjukan budaya dan dakwah, Rapa’i Uroh tumbuh sebagai simbol kebersamaan masyarakat desa. Para pemain biasanya tampil dalam kelompok besar dengan posisi duduk berbaris. Mereka menabuh rapa’i secara serempak dengan gerakan penuh energi dan ritme yang cepat. Kekompakan menjadi inti utama dalam pertunjukan ini. Semakin selaras tabuhan yang dimainkan, semakin tinggi pula nilai seni yang dirasakan penonton.

Meski zaman terus berubah, keberadaan Rapa’i Pase dan Rapa’i Uroh tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Kesenian ini masih sering ditampilkan dalam festival budaya, penyambutan tamu kehormatan, acara adat, hingga peringatan hari besar Islam. Di berbagai daerah di Aceh, generasi muda mulai kembali mempelajari seni rapa’i melalui sanggar budaya dan komunitas seni tradisional.
Bagi masyarakat Aceh, rapa’i bukan hanya warisan seni pertunjukan. Di balik setiap dentuman tabuhannya tersimpan sejarah panjang tentang dakwah, persaudaraan, dan identitas budaya yang telah menyatu dalam kehidupan masyarakat sejak ratusan tahun lalu. Rapa’i menjadi pengingat bahwa budaya tidak hanya diwariskan melalui cerita, tetapi juga melalui irama yang terus hidup dan bergema dari masa ke masa.
Rapai Pase Sudah Mendunia Sebagai Komunitas Seni
Di tengah arus modernisasi, berbagai komunitas seni dan sanggar budaya di Aceh terus berupaya melestarikan Rapa’i Pase dan Rapa’i Uroh dengan melibatkan generasi muda. Upaya tersebut menjadi penting agar warisan budaya Aceh tidak hilang ditelan zaman, melainkan terus hidup dan bergema di tengah masyarakat masa kini.
Rapai Pasee merupakan alat seni tradisional Aceh yang telah dipromosikan dalam sektor pariwisata dunia sebagai salah satu seni budaya Aceh yang populer.
“Rapai Pasee dikenal karena irama tabuhnya yang khas, kompak, dan penuh semangat sehingga menarik perhatian wisatawan mancanegara,” ungkapnya,Teuku Muhammad Aidil, Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Jum’at, 15 Mei 2026.
Promosi Rapai Pasee dilakukan melalui festival budaya internasional, pertunjukan seni, media digital, dan kegiatan pariwisata Indonesia.
“Dengan promosi tersebut, Rapai Pasee menjadi simbol budaya Aceh yang membantu memperkenalkan kekayaan seni tradisional Indonesia kepada dunia internasional,” paprnya. [adv]





Komentar