probisnis.id – Pos Indonesia mengalami kekurangan dana pensiun hampir Rp4 triliun. Kekurangan ini terungkap dalam diskusi mengenai pengelolaan dana pensiun BUMN. Donny Oskaria, COO Danantara, menyoroti masalah ini sebagai bom waktu.
Menurut Donny, pengelolaan dana pensiun menjadi tantangan besar bagi BUMN. Ia menjelaskan bahwa ada dua skema dana pensiun, yaitu iuran pasti dan manfaat pasti. Dalam skema iuran pasti, perusahaan tidak menanggung risiko investasi.
Namun, dalam skema manfaat pasti, perusahaan menjamin manfaat bagi pensiunan. Jika investasi dikelola sembarangan, perusahaan harus melakukan top-up untuk memenuhi kewajiban tersebut. “Ini jumlahnya cukup besar,” ungkap Donny.
Donny memberikan contoh dari PT Pos Indonesia, yang mengalami kekurangan dana yang signifikan. “Kekurangan itu hampir Rp4 triliun,” jelasnya. Masalah tersebut berakar dari pengelolaan investasi yang kurang baik.
Ke depan, Danantara mendorong pembenahan internal di BUMN. Pembenahan ini mencakup penetapan kriteria bagi pengelola dana pensiun. Donny juga mengusulkan pengaturan instrumen investasi yang lebih ketat.
Dia menambahkan bahwa di masa mendatang, BUMN akan lebih memilih skema iuran pasti. Ini diharapkan dapat membuat biaya pensiun lebih prediktif dan terukur.[]
Sumber: CNBC Indonesia






Komentar