Headline

Menyusuri Jejak Ulama Yaman di Aceh, Kisah Masjid dan Makam Tgk Dianjong yang Melahirkan Julukan Serambi Mekkah

Menyusuri Jejak Ulama Yaman di Aceh, Kisah Masjid dan Makam Tgk Dianjong yang Melahirkan Julukan Serambi Mekkah
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id — Di kawasan tua Gampong Pelanggahan, Kota Banda Aceh, terdapat sebuah situs bersejarah yang hingga kini masih menjadi pusat ziarah dan wisata religi masyarakat. Tempat itu adalah Kompleks Masjid dan Makam Tgk Dianjong, sebuah kawasan yang menyimpan jejak panjang perkembangan Islam di Aceh sejak ratusan tahun silam.

Di balik bangunan masjid yang berdiri kokoh saat ini, tersimpan kisah tentang seorang ulama besar asal Yaman yang datang membawa dakwah, pendidikan, dan pengaruh besar terhadap perjalanan sejarah Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Nusantara.

Sosok ulama tersebut adalah Habib Abu Bakar Bin Husein Bilfaqih. Ia diperkirakan datang ke Aceh sekitar abad ke-17 Masehi pada masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam. Kedatangannya bukan sekadar untuk berdakwah, tetapi juga membangun pusat pendidikan Islam yang kemudian berkembang menjadi salah satu dayah berpengaruh di Aceh pada masanya.

Masyarakat Aceh kala itu memberikan gelar “Tgk Dianjong” kepada Habib Abu Bakar sebagai bentuk penghormatan atas ilmu dan ketokohannya. Dalam bahasa masyarakat setempat, gelar tersebut menggambarkan seseorang yang sangat disanjung dan dihormati karena kedalaman ilmu agama serta akhlaknya.

Pada awalnya, kawasan ini hanyalah sebuah dayah sederhana yang dibangun dari konstruksi kayu tradisional Aceh. Meski sederhana, tempat itu menjadi pusat pembelajaran agama yang ramai didatangi masyarakat dari berbagai daerah. Para santri belajar ilmu fikih, tauhid, tafsir, hingga tasawuf langsung dari Tgk Dianjong dan para ulama lainnya.

Lambat laun, nama dayah tersebut semakin dikenal luas hingga ke luar Aceh. Posisi Aceh yang berada di jalur pelayaran internasional menjadikan kawasan ini ramai disinggahi para pedagang, musafir, hingga calon jemaah haji dari berbagai wilayah Nusantara.

Pada masa itu, perjalanan menuju Tanah Suci Makkah masih mengandalkan kapal laut yang memakan waktu berbulan-bulan. Banyak jemaah haji dari Pulau Jawa, Sumatera, Semenanjung Melayu, bahkan wilayah Asia Tenggara lainnya singgah di Aceh sebelum melanjutkan pelayaran menuju Jazirah Arab.

Kompleks dayah Tgk Dianjong kemudian menjadi tempat persinggahan penting bagi para calon jemaah haji. Di lokasi inilah mereka memperdalam ilmu agama dan mempelajari tata cara pelaksanaan ibadah haji melalui kegiatan manasik.

Tradisi tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat panjang hingga Aceh dikenal luas sebagai “Serambi Mekkah”. Julukan itu lahir karena Aceh menjadi pintu gerbang perjalanan suci umat Islam Nusantara menuju Tanah Haram sekaligus pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.

Tak hanya menjadi pusat dakwah dan pendidikan, kawasan Tgk Dianjong juga memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan penjajahan Belanda. Pada masa perang kolonial, dayah-dayah di Aceh kerap menjadi tempat berkumpul para ulama dan pejuang untuk menyusun strategi perlawanan.

Kompleks Tgk Dianjong termasuk salah satu tempat yang dipercaya pernah digunakan sebagai lokasi musyawarah para pejuang Aceh. Dari tempat-tempat seperti inilah semangat jihad dan perjuangan rakyat Aceh terus tumbuh dalam melawan kolonialisme.

Seiring perjalanan waktu, bangunan bersejarah tersebut tetap bertahan hingga akhirnya diterjang bencana besar gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Gelombang tsunami menghancurkan hampir seluruh bangunan lama yang sebagian besar masih berbahan kayu.

Peristiwa itu menjadi pukulan besar bagi masyarakat sekitar karena banyak peninggalan sejarah yang rusak dan hilang. Namun, semangat menjaga warisan ulama tidak pernah padam. Setelah tsunami, masyarakat bersama pemerintah kembali membangun kompleks masjid dengan konstruksi beton yang lebih kuat, namun tetap mempertahankan bentuk arsitektur dan nuansa tradisionalnya.

Kini, Kompleks Masjid dan Makam Tgk Dianjong kembali berdiri megah dan menjadi salah satu destinasi wisata religi penting di Banda Aceh. Di dalam kawasan tersebut terdapat makam Habib Abu Bakar Bin Husein Bilfaqih dan istrinya, Syarifah Fatimah, yang hingga kini ramai diziarahi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

Banyak peziarah datang bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga mengenang jasa para ulama yang telah menyebarkan Islam di Aceh. Suasana tenang dan religius di kawasan itu membuat pengunjung seakan dibawa kembali menelusuri masa ketika Aceh menjadi pusat pertemuan ulama, pedagang, dan musafir dari berbagai penjuru dunia.

20260522 133357

Kompleks Tgk Dianjong kini bukan sekadar situs sejarah, melainkan simbol kuat perjalanan Islam di Aceh. Tempat ini menjadi pengingat bahwa Aceh pernah berdiri sebagai salah satu pusat peradaban Islam terbesar di Nusantara, tempat lahirnya ulama-ulama besar, sekaligus gerbang awal perjalanan haji masyarakat Indonesia menuju Tanah Suci.

‎Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, mengatakan hingga saat ini Kompleks Masjid dan Makam Tgk Dianjong masih menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi masyarakat, baik dari Aceh maupun luar daerah.

Menurutnya, setiap hari kawasan bersejarah yang berada di Gampong Pelanggahan, Kota Banda Aceh, itu tidak pernah sepi dari kedatangan peziarah dan wisatawan yang ingin merasakan langsung nuansa spiritual serta jejak sejarah Islam di Aceh.

“Setiap harinya pengunjung datang silih berganti. Ada yang berziarah, membaca doa, mempelajari sejarah Islam, hingga menikmati suasana religius yang masih sangat terasa di kawasan ini,” ujar Aidil, Jumat (22/5/2026).

Ia menjelaskan, daya tarik utama kompleks tersebut tidak hanya terletak pada keberadaan makam ulama besar Habib Abu Bakar Bin Husein Bilfaqih, tetapi juga pada nilai sejarah yang melekat kuat di kawasan itu. Bangunan masjid yang berdiri kokoh hingga kini tetap mempertahankan nuansa arsitektur tradisional Aceh meski telah beberapa kali mengalami renovasi dan pembangunan ulang.

‎“Arsitektur masjid masih mempertahankan ciri khas bangunan Aceh tempo dulu sehingga pengunjung dapat merasakan suasana sejarah dan budaya Islam yang sangat kuat,” katanya.

‎Aidil menuturkan, kompleks bersejarah tersebut sempat mengalami kerusakan parah akibat gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Bangunan lama yang mayoritas terbuat dari kayu hancur diterjang gelombang tsunami yang melanda kawasan pesisir Banda Aceh saat itu.

Meski demikian, masyarakat bersama pemerintah kemudian membangun kembali kompleks tersebut sebagai bentuk upaya menjaga warisan sejarah dan perjuangan ulama Aceh agar tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman.

‎“Setelah tsunami, kawasan ini kembali dibangun dengan konstruksi yang lebih kuat, namun tetap mempertahankan bentuk dan nuansa aslinya agar nilai sejarahnya tetap terjaga,” ungkapnya.

‎Menurut Aidil, Makam Tgk Dianjong kini bukan hanya menjadi tempat wisata religi semata, tetapi juga ruang sejarah yang menggambarkan perjalanan panjang Islam di Aceh. Di lokasi itu, pengunjung dapat melihat bagaimana Aceh pernah menjadi pusat dakwah, pendidikan Islam, hingga tempat persinggahan jemaah haji dari berbagai wilayah Nusantara sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Keberadaan kompleks tersebut, lanjutnya, menjadi bukti kuat bahwa Aceh memiliki warisan sejarah Islam yang sangat besar dan berpengaruh di kawasan Asia Tenggara pada masa lampau.

“Di tengah perkembangan modernisasi kota, Makam Tgk Dianjong tetap berdiri sebagai simbol spiritual, pusat sejarah Islam, dan destinasi wisata religi yang terus hidup di hati masyarakat Aceh maupun para peziarah dari berbagai daerah,” tutup Aidil. [Adv]

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.