probisnis.id – Seorang petugas imigrasi federal menembak mati seorang pria di Kota Biddeford, Maine, pada 13 Juli 2026. Insiden ini terjadi dalam konteks operasi penegakan imigrasi pemerintahan Donald Trump. Penembakan ini menyusul insiden serupa di Texas yang memicu protes publik.
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyatakan petugas dari Immigration and Customs Enforcement (ICE) saat itu melakukan pengawasan terhadap seorang imigran yang telah menerima perintah deportasi. Ketika seorang pria keluar dari rumah yang sedang diawasi, petugas berusaha menghentikan kendaraannya.
DHS menyebut bahwa kendaraan tersebut mencoba melarikan diri, sehingga petugas melepaskan tembakan. Namun, belakangan diketahui bahwa pria yang tewas bukanlah target utama operasi tersebut.
Senator Maine Angus King mengonfirmasi bahwa korban adalah pria berkebangsaan Kolombia berusia 26 tahun dan bukan sasaran ICE. Ini menjadi penembakan terbaru yang melibatkan aparat federal di tengah kebijakan agresif terhadap imigran.
Kelompok pembela hak-hak imigran setempat mengecam insiden ini. Mereka menuntut penyelidikan independen terkait tindakan aparat. Kasus ini menambah daftar panjang penembakan yang melibatkan ICE di bawah pemerintahan Trump.
DHS sebelumnya menyatakan bahwa korban penembakan oleh ICE sering kali menggunakan kendaraan sebagai senjata. Namun, versi resmi tersebut sering dipertanyakan setelah munculnya rekaman video yang berbeda.[]
Sumber: CNBC Indonesia






Komentar