Politik

Gelombang PHK Massal Ancam Buruh Indonesia di 2026

Gelombang PHK Massal Ancam Buruh Indonesia di 2026
Situasi ketenagakerjaan di Indonesia terancam akibat PHK massal [BBC]
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia diprediksi akan meningkat dalam waktu dekat. Menurut perwakilan serikat buruh, jumlah PHK bisa mencapai puluhan ribu pekerja. Situasi ini memperburuk keadaan ketenagakerjaan di Indonesia sepanjang tahun 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gana Nena Wea. Dia mengungkapkan bahwa dalam tujuh hingga sepuluh hari ke depan, PHK akan terjadi di salah satu pabrik keramik terbesar di Bekasi, Jawa Barat. Kenaikan harga gas industri menjadi penyebab utama PHK tersebut.

Menurut perhitungan KSPSI, lebih dari 50.000 pekerja terancam kehilangan pekerjaan. Tidak hanya di Bekasi, ancaman PHK juga terjadi di Jawa Timur dan Jawa Barat. Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, menyatakan bahwa jika kedua wilayah tersebut digabungkan, total pekerja yang terancam mencapai lebih dari 6.000.

Said menjelaskan bahwa kondisi geopolitik global, termasuk perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, berkontribusi pada situasi ini. Dia menambahkan bahwa konflik ini menciptakan ketidakpastian ekonomi dunia yang berdampak pada perusahaan yang berorientasi ekspor.

Permintaan barang dari luar negeri yang menurun menyebabkan produksi perusahaan ikut menurun. Said Iqbal mengemukakan bahwa masalah ini sangat memengaruhi perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor. Pada Senin (22/06) lalu, ia menegaskan dampak buruk dari ketidakpastian ini.

Namun, apakah perang menjadi satu-satunya penyebab PHK masif di Indonesia? Media Wahyudi Askar, dosen Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, berpendapat bahwa negara juga berperan dalam fenomena ini. Dia mengungkapkan bahwa PHK terjadi akibat kegagalan model pembangunan yang terlalu menekankan fleksibilitas tenaga kerja.

Askar menambahkan bahwa ada masalah struktural yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, ekonom dari lembaga kajian Bright Institute, Yanuar Rizky, mengemukakan bahwa peningkatan PHK akan mendorong pertumbuhan kelompok kerja informal. Hal ini dapat memicu persaingan di antara mereka yang bekerja di sektor tersebut.

Kondisi ini menyebabkan mereka saling berebut pendapatan di tengah melemahnya daya beli. Jika masalah ini tidak ditanggapi dengan serius, kemungkinan besar akan berujung pada potensi kekacauan sosial.[]

Sumber: BBC

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.