probisnis.id – Di zaman prekariat ini, keadilan sosial berkaitan dengan kapasitas negara untuk mengetahui siapa yang berisiko jatuh ke dalam kemiskinan. Baru-baru ini, istilah desil menjadi semakin populer. Banyak orang mulai bertanya, ‘Saya desil berapa?’ Pertanyaan ini sebelumnya hanya menarik bagi para ahli statistik dan perancang kebijakan, kini berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan.
Bantuan sosial, subsidi, dan dukungan pendidikan sering kali terkait dengan posisi seseorang dalam pemeringkatan kesejahteraan. Penggunaan desil sebagai alat kategorisasi diperlukan oleh negara untuk mengelola ratusan juta penduduk. Tentunya, pengelolaan sumber daya yang terbatas harus diarahkan kepada mereka yang paling membutuhkan.
Sementara itu, terdapat masalah dalam penetapan dan pengelolaan desil. Pertanyaan penting muncul, seberapa lama suatu desil dapat merefleksikan kondisi kehidupan seseorang? Misalnya, ada dua individu dengan penghasilan Rp 7 juta per bulan. Satu adalah pegawai tetap, sementara yang lain adalah pekerja lepas. Meskipun terlihat serupa dari segi penghasilan, kondisi mereka sangat berbeda.
Guy Standing dalam bukunya, The Precariat: The New Dangerous Class, memperkenalkan istilah precariat. Istilah ini menggabungkan kata precarious dan proletariat, merujuk pada kelompok yang hidup dalam ketidakpastian pekerjaan dan pendapatan. Mereka yang tergolong precariat tidak selalu miskin, tetapi sering kali mengalami ketidakpastian dalam pekerjaan.
Individu di dalam kelompok ini bisa jadi berpendidikan tinggi, memiliki gadget canggih, dan bahkan penghasilan yang cukup baik. Namun, mereka tidak tahu apakah mereka akan memiliki pekerjaan di bulan berikutnya. Pekerja kontrak, freelancer, pekerja platform digital, dan profesional muda sering kali berada dalam kondisi ini.
Di Indonesia, terdapat potensi besar untuk kondisi demikian. Pada Februari 2026, sekitar 147,7 juta penduduk yang bekerja, 87,7 juta di antaranya terlibat dalam kegiatan informal. Namun, kondisi informal tidak otomatis identik dengan prekariat. Meskipun demikian, hampir enam dari sepuluh pekerja berada di luar gambaran ideal pekerjaan yang menawarkan pendapatan stabil, perlindungan, dan jenjang karier.
Oleh karena itu, desil dapat memberikan gambaran tentang posisi seseorang. Namun, pemahaman tentang prekariat mendorong kita untuk mempertanyakan kekokohan posisi tersebut. Amartya Sen telah mengingatkan kita bahwa…[]
Sumber: Kompas.id






Komentar