probisnis.id – Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan peningkatan nominal dukungan likuiditas untuk buyback obligasi pemerintah AS tenor panjang. Kebijakan ini akan berlaku untuk tenor 10 hingga 30 tahun. Nominal buyback ditingkatkan dari maksimum US$2 miliar menjadi minimum US$4 miliar per operasi.
Kebijakan ini akan efektif dari 9 September hingga 4 November 2026. Pengumuman tersebut muncul setelah yield obligasi AS tenor 30 tahun mencapai 5,34% pada 18 Agustus, level tertinggi sejak 2007. Hal ini terjadi di tengah kekhawatiran fiskal AS dan eskalasi konflik dengan Iran.
Departemen Keuangan AS melaporkan total utang AS telah melebihi US$40 triliun. Angka ini tercapai kurang dari lima bulan setelah utang mencapai US$39 triliun, dan meningkat empat kali lipat dalam kurang dari 20 tahun. Pengumuman buyback ini hanya dua pekan setelah jadwal buyback kuartalan diterbitkan.
Jadwal buyback berakhir pada 4 November 2026, bersamaan dengan akhir midterm election di AS. Menyusul pengumuman ini, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun sekitar -7 bps menjadi 4,64%. Indeks dolar AS (DXY) turun sekitar -0,9% ke level 98,8, terendah dalam tiga bulan terakhir.
Harga emas melonjak sekitar +4% ke level US$4.520 per ons. Sementara itu, IHSG ditutup menguat sekitar +1,7% pada 20 Agustus, sejalan dengan penguatan bursa Asia. Nikkei 225 naik +1,4% dan Kospi +5,9%.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat sekitar +0,5% ke level 17.746. Ini sejalan dengan tren positif rupiah yang mengalami penguatan +2,4% dari level terlemahnya di ~18.190 pada 6 Agustus 2026. Sentimen positif bagi rupiah juga dipicu oleh RAPBN 2027 yang lebih konservatif dengan target defisit 2,4% PDB.
Kepastian kebijakan Bank Indonesia juga berkontribusi, dengan pencalonan Destry Damayanti sebagai kandidat tunggal gubernur. Meningkatnya dukungan dari sektor emas juga terlihat, dengan saham-saham seperti $BRMS, $AMMN, $HRTA, dan $ARCI mengalami penguatan signifikan.[]
Sumber: Stockbit Snips






Komentar