probisnis.id – Abelardo de la Espriella resmi menjadi Presiden Kolombia pada Jumat, 7 Agustus 2026. Pelantikan berlangsung di kota Cali, wilayah barat daya Kolombia. Namun, situasi mencekam terjadi sehari setelah pelantikan dengan serangan bom yang mengguncang negara.
Menurut AFP, serangan bom terjadi di beberapa lokasi di Kolombia. Satu petugas polisi tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka akibat insiden tersebut. Angkatan Darat Kolombia melaporkan bahwa kelompok gerilyawan FARC bertanggung jawab atas serangan yang menghancurkan gerbang tol dekat Cali pada dini hari Sabtu.
Di lokasi lain, serangan bom juga terjadi di departemen Cesar, sekitar 1.000 kilometer dari Cali. Seorang petugas tewas akibat serangan drone yang membawa bahan peledak ke kantor polisi. Insiden ini menunjukkan meningkatnya ketegangan pasca pelantikan presiden baru.
Abelardo de la Espriella dikenal sebagai pemimpin sayap kanan garis keras. Ia memiliki janji kampanye untuk memerangi narkoterorisme tanpa gencatan senjata dan mengakhiri perundingan damai dengan kelompok bersenjata. Dalam menanggapi serangan, ia mengecam keras dan menegaskan bahwa menyerang infrastruktur negara sama dengan menyerang kemajuan.
Melalui akun media sosialnya, De la Espriella menyatakan bahwa tidak akan ada tempat persembunyian bagi pelaku kekerasan. Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut harus dihadapi dengan tegas dan tanpa impunitas. Pihak berwenang masih menyelidiki para pelaku serangan, namun presiden menegaskan bahwa mereka tidak akan luput dari hukuman.[]
Sumber: detikNews






Komentar