Ekonomi

Lumpur Banjir Aceh Berpotensi Jadi Bata, Pemprov Bidik Peluang Ekonomi Pascabencana

Lumpur Banjir Aceh Berpotensi Jadi Bata, Pemprov Bidik Peluang Ekonomi Pascabencana
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id – Pemerintah Aceh mulai mengkaji pemanfaatan sedimen banjir sebagai bahan baku batu bata dan bata ringan untuk mendorong pemulihan ekonomi di wilayah terdampak bencana. Material lumpur yang selama ini menjadi persoalan lingkungan dinilai memiliki potensi ekonomi apabila diolah menjadi produk konstruksi bernilai tambah.

Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Lintas Sektor Riset Pemanfaatan Sedimen Banjir yang digelar Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh di Banda Aceh, Kamis, 9 Juli 2026. Forum ini mempertemukan pemerintah daerah, peneliti, akademisi, lembaga filantropi, serta pemangku kepentingan untuk menyusun langkah implementasi hasil riset di lapangan.

Kajian tersebut merupakan kolaborasi antara Forum Zakat (FOZ), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Syiah Kuala (USK), dan Nurul Hayat. Penelitian difokuskan pada pemanfaatan sedimen banjir sebagai bahan baku industri bata yang diharapkan mampu menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat terdampak.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, mengatakan forum itu bertujuan menyatukan hasil penelitian, memperoleh masukan dari berbagai pihak, sekaligus menyusun mekanisme penerapan teknologi di tingkat masyarakat.

Menurut dia, jika hasil penelitian dinilai layak secara teknis dan ekonomis, pemerintah akan mendorong pelatihan bagi warga agar mampu memproduksi bata ringan secara mandiri. “Harapannya, teknologi ini dapat segera diterapkan sehingga masyarakat tidak hanya terbantu mengatasi sedimen banjir, tetapi juga memperoleh sumber pendapatan baru,” kata Azanuddin.

Riset tersebut berangkat dari banjir besar yang melanda Aceh pada akhir 2025. Bencana itu meninggalkan endapan lumpur dalam jumlah besar di kawasan permukiman, lahan pertanian, dan aliran sungai.

Di Kabupaten Pidie Jaya, ketebalan sedimen di sejumlah lokasi mencapai 1 hingga 2,5 meter. Saat normalisasi Sungai Krueng Meureudu, sekitar 124.324 meter kubik sedimen telah dikeruk. Namun volume lumpur yang masih tersisa diperkirakan jauh lebih besar.

Sedimentasi juga memukul sektor pertanian. Data pemerintah menunjukkan sekitar 27.065 hektare sawah di Aceh terdampak banjir dan tertutup lumpur sehingga belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Kondisi itu ikut menekan produktivitas pertanian dan memperlambat pemulihan ekonomi masyarakat.

Tim peneliti telah melakukan observasi di Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh Tamiang melalui pengambilan sampel sedimen di sepuluh titik, pengujian laboratorium, serta kajian sosial terhadap masyarakat.

Hasil awal menunjukkan karakteristik sedimen berbeda di setiap lokasi sehingga tidak seluruh material layak digunakan sebagai bahan baku bata. Selain aspek teknis, tingkat penerimaan masyarakat terhadap program tersebut juga bervariasi.

Sejauh ini, Desa Meunasah Mancang dan Desa Dayah Usen di Kabupaten Pidie Jaya dinilai paling siap menjadi lokasi uji implementasi karena memiliki karakteristik sedimen yang sesuai serta dukungan masyarakat yang relatif kuat.

Pemerintah Aceh menilai inovasi tersebut berpotensi menghadirkan manfaat ganda. Selain mengurangi timbunan sedimen pascabencana dan mempercepat rehabilitasi lahan, pengolahan lumpur menjadi bahan bangunan juga dapat mendorong tumbuhnya usaha mikro berbasis sumber daya lokal, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat ekonomi masyarakat di wilayah terdampak.

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.