probisnis.id – Perekonomian Aceh masih menghadapi tantangan besar di tengah tingginya tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Data yang dipaparkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh menunjukkan inflasi Aceh menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera, sementara laju pertumbuhan ekonominya justru berada di posisi paling rendah dibandingkan provinsi lain di wilayah tersebut.
Berdasarkan data OJK, inflasi Aceh pada Mei 2026 mencapai 5,12 persen year on year meningkat dibanding bulan sebelumnya sebesar 3,88 persen. Angka tersebut juga jauh berada di atas tingkat inflasi nasional yang tercatat 3,08 persen.
”Di sisi lain, ekonomi Aceh pada Triwulan I 2026 hanya tumbuh 4,09 persen year on year, capaian tersebut menjadi yang terendah di Sumatera dan masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen,” Firman Octo Armando Asisten Direktur OJK Aceh, Kamis, (9/7), di Kantor OJK Aceh.
Meski demikian, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi Aceh. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 31,70 persen, tertinggi dibanding sektor lainnya.
”OJK juga menunjukkan jumlah penduduk Aceh mencapai 5,55 juta jiwa, terdiri dari 50,22 persen laki-laki dan 49,78 persen perempuan. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,70 juta jiwa berada pada usia produktif atau sekitar 66 persen dari total penduduk,” ungkapnya.
Aceh memiliki wilayah seluas 56.839 kilometer persegi yang terdiri atas 18 kabupaten dan 5 kota. Di bidang kesejahteraan, tingkat kemiskinan Aceh terus menunjukkan tren penurunan. Pada September 2025, persentase penduduk miskin tercatat 12,22 persen atau sekitar 703,33 ribu jiwa, turun dibanding periode sebelumnya.
”Tingkat kemiskinan di wilayah perkotaan mencapai 8,15 persen, sedangkan di pedesaan masih relatif tinggi, yakni 14,51 persen,” papar.
Komposisi garis kemiskinan di Aceh juga didominasi oleh kebutuhan makanan sebesar 76,56 persen, sementara kebutuhan non makanan mencapai 23,44 persen.
Sementara itu, distribusi PDRB menunjukkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap perekonomian Aceh.
”Diikuti sektor perdagangan, konstruksi, administrasi pemerintahan, serta transportasi dan pergudangan yang turut memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi daerah,” ungkapnya lagi.
OJK juga mengingatkan Aceh menghadapi risiko iklim akibat potensi El Niño yang dapat berdampak terhadap sektor pertanian. Aceh dinilai memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap hasil pertanian, sehingga gangguan produksi berpotensi menekan pendapatan petani, mengurangi pasokan pangan, memicu inflasi pangan bergejolak volatile food, hingga menekan pertumbuhan ekonomi daerah.
”Sektor pertanian menyumbang sekitar 32,74 persen terhadap PDRB Aceh dan menyerap 41,39 persen tenaga kerja,” paparnya.
Karena itu, OJK menilai kesiapsiagaan pemerintah dan kolaborasi lintas sektor menjadi penting untuk mengantisipasi dampak El Niño melalui optimalisasi irigasi, modernisasi pertanian, pemanfaatan teknologi, serta investasi infrastruktur pendukung agar risiko terhadap produksi pangan dapat diminimalkan.






Komentar