probisnis.id – Hubungan menantu dan mertua seringkali menjadi tantangan dalam rumah tangga. Permasalahan ini muncul akibat perbedaan pola pikir dan cara berkomunikasi. Namun, Islam memberikan panduan untuk menjaga hubungan tersebut.
Dewi Eko Wati, anggota Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, membahas hal ini dalam program Indahnya Cahaya Islam. Menurutnya, hubungan ini terjalin melalui akad pernikahan, yang menciptakan hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak.
“Hubungan ini unik karena hadirnya orang-orang baru dalam kehidupan kita,” ujar Dewi. Ia menekankan bahwa komunikasi yang baik sangat penting untuk mencegah kesalahpahaman yang mungkin terjadi.
Persoalan yang muncul sering kali bersumber dari hal-hal sederhana, seperti perbedaan cara pandang dalam pengasuhan anak. Dewi menambahkan bahwa dialog dapat menyelesaikan masalah yang ada.
Perbedaan generasi juga menjadi tantangan. Dewi memberikan contoh perbedaan pandangan antara generasi baby boomers dan generasi muda saat ini. “Setiap generasi lahir dalam budaya dan zamannya masing-masing,” katanya.
Perbedaan ini sering terlihat dalam pola asuh, terutama saat cucu diasuh oleh kakek dan nenek. Jika tidak disertai dengan komunikasi yang baik, hal ini berpotensi menimbulkan konflik.
Dari perspektif Islam, hubungan ini harus dilandasi prinsip birrul walidain atau berbakti kepada orang tua. Dewi menekankan bahwa orang tua pasangan tetap memiliki posisi penting dalam kehidupan menantu.[]
Sumber: Muhammadiyah






Komentar