probisnis.id — Di tengah padatnya permukiman dan deretan bangunan yang terus bertambah di pusat Kota Banda Aceh, terdapat sebuah situs bersejarah yang menyimpan kisah penting perjalanan Kesultanan Aceh Darussalam. Situs itu adalah makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir, seorang penguasa yang pernah memimpin Aceh pada awal abad ke-18 dan menjadi bagian dari periode penuh gejolak dalam sejarah kerajaan terbesar di ujung barat Nusantara.
Berlokasi di kawasan Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, makam tersebut berdiri tidak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Meski berada di kawasan strategis pusat kota, keberadaannya justru kerap terlewatkan oleh masyarakat maupun wisatawan. Tidak banyak yang mengetahui bahwa di balik kompleks makam sederhana itu bersemayam seorang sultan yang pernah menentukan arah perjalanan politik Aceh pada masanya.
Pewaris Takhta di Masa Perubahan
Sultan Jamalul Alam Badrul Munir, yang dalam tradisi lisan Aceh dikenal dengan sebutan Poteu Jeumaloy, merupakan putra Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki hubungan dengan keturunan Arab yang telah lama berpengaruh dalam kehidupan politik dan keagamaan Aceh.
Ketika naik takhta sekitar tahun 1703 hingga 1704 Masehi, Kesultanan Aceh sedang berada dalam fase transisi penting. Masa pemerintahan para sultanah yang berlangsung selama beberapa dekade sebelumnya telah berakhir, membuka babak baru dalam struktur kekuasaan kerajaan.
Harapan besar pun mengiringi awal kepemimpinannya. Berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa pada periode awal pemerintahannya, kondisi sosial masyarakat relatif stabil. Aktivitas perdagangan yang menjadi urat nadi perekonomian Aceh kembali bergerak, sementara hubungan antara kerajaan dan masyarakat berada dalam suasana yang cukup kondusif. Namun, stabilitas tersebut ternyata tidak berlangsung lama.
Pertarungan Politik di Balik Dinding Istana
Sebagai pusat perdagangan internasional yang strategis, Aceh tidak hanya menjadi arena pertemuan para pedagang dari berbagai negeri, tetapi juga medan persaingan kelompok-kelompok politik yang memiliki kepentingan berbeda.
Dalam perjalanan pemerintahannya, Sultan Jamalul Alam Badrul Munir menghadapi berbagai tekanan dari kalangan elite kerajaan. Ketegangan terutama muncul dengan sejumlah pemimpin wilayah dan Panglima Sagi yang memiliki pengaruh besar dalam sistem pemerintahan Kesultanan Aceh.
Perbedaan kepentingan politik dan perebutan pengaruh perlahan berkembang menjadi konflik terbuka. Dukungan terhadap sultan mulai berkurang, sementara kekuatan kelompok-kelompok yang menentangnya semakin menguat.
Situasi tersebut akhirnya membawa Aceh ke dalam krisis politik yang berkepanjangan. Setelah kehilangan dukungan dari sebagian kekuatan militer dan elite kerajaan, Sultan Jamalul Alam Badrul Munir terpaksa meninggalkan pusat pemerintahan dan menyingkir ke wilayah Pidie sekitar tahun 1726.
Di daerah pengasingan itulah ia menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat sekitar tahun 1736, mengakhiri perjalanan seorang penguasa yang pernah berdiri di puncak kekuasaan Kesultanan Aceh.
Saksi Bisu yang Terhimpit Perkembangan Kota
Lebih dari tiga abad setelah masa pemerintahannya berakhir, makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir masih bertahan sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Aceh. Namun keberadaan situs tersebut kini menghadapi tantangan yang berbeda.
Perkembangan Kota Banda Aceh yang semakin pesat membuat kawasan makam kian terhimpit oleh bangunan dan pemukiman warga. Ruang terbuka di sekitarnya semakin terbatas, sementara nilai historis yang dikandung situs tersebut belum sepenuhnya terangkat sebagai bagian dari destinasi wisata sejarah maupun edukasi publik.
Bagi para pemerhati sejarah, kondisi ini menjadi ironi tersendiri. Sosok yang pernah memimpin Kesultanan Aceh dan memainkan peran dalam dinamika politik kerajaan kini beristirahat di sebuah kawasan yang nyaris tenggelam di tengah laju modernisasi kota.
Padahal, makam tersebut bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan penanda penting perjalanan panjang peradaban Aceh yang pernah menjadi salah satu kerajaan Islam terkuat di Asia Tenggara.
Menjaga Ingatan Kolektif tentang Masa Lalu
Sejumlah kalangan terus mendorong upaya pelestarian dan penataan kawasan makam agar lebih layak sebagai situs cagar budaya. Revitalisasi dinilai penting tidak hanya untuk menjaga fisik bangunan makam, tetapi juga untuk menghidupkan kembali nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Muncul pula aspirasi agar nama Sultan Jamalul Alam Badrul Munir lebih dikenalkan kepada generasi muda melalui berbagai bentuk edukasi sejarah, termasuk usulan pengembalian nama jalan di kawasan tersebut menggunakan nama sang sultan sebagai penghormatan atas jasa dan perannya dalam perjalanan Kesultanan Aceh.

Di tengah derasnya perubahan zaman, makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan megah. Kadang ia berdiam dalam kesunyian, tersembunyi di antara hiruk-pikuk kehidupan kota, menunggu untuk kembali dikenang.
Dan dari kompleks makam sederhana itu, tersimpan pengingat bahwa Aceh pernah melahirkan para pemimpin yang menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah kerajaan besar yang mewarnai sejarah Nusantara.
Destinasi Wisata Sejarah dan Religi di Pusat Banda Aceh
Selain menjadi tempat peristirahatan terakhir Sultan Jamalul Alam Badrul Munir, kompleks makam ini juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan religi di Kota Banda Aceh.
Lokasinya yang berada di pusat kota dan tidak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman menjadikan situs ini mudah dijangkau oleh wisatawan maupun peziarah yang ingin menelusuri jejak kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam.
“Bagi pecinta sejarah, makam ini menawarkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat sosok Sultan Jamalul Alam Badrul Munir serta dinamika politik Kesultanan Aceh pada awal abad ke-18,” Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, Minggu, (14/6/2026).
Sementara bagi wisatawan religi, keberadaan makam seorang pemimpin kerajaan Islam menjadi daya tarik tersendiri yang menghadirkan nuansa reflektif tentang perjalanan dakwah, kepemimpinan, dan peradaban Islam di Aceh.
“Dengan penataan dan pelestarian yang lebih baik, kompleks makam ini berpotensi menjadi salah satu tujuan wisata edukasi yang penting di Banda Aceh,” paparnya.
Kehadirannya tidak hanya memperkaya khazanah wisata sejarah, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan generasi muda pada tokoh-tokoh yang pernah mewarnai perjalanan panjang Aceh sebagai salah satu pusat peradaban Islam di Nusantara. [Adv]





Komentar