probisnis.id — Rumah Cut Meutia terletak di Desa Mesjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara. Situs bersejarah ini berada sekitar tiga kilometer dari pusat Kecamatan Matangkuli dan menjadi salah satu destinasi penting bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat perjuangan pahlawan nasional asal Aceh, Cut Meutia.
Bangunan yang berdiri saat ini merupakan rekonstruksi rumah asli yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa Cut Meutia dalam melawan penjajahan Belanda. Pemerintah Aceh juga telah melakukan penataan kawasan dengan membangun pagar pelindung serta menjaga keberadaan situs bersejarah tersebut agar tetap lestari dan dapat dinikmati generasi mendatang.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan sewaan. Dari Kota Lhokseumawe, perjalanan menuju Matangkuli berjarak sekitar 33 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam, tergantung kondisi lalu lintas. Setelah tiba di pusat Kecamatan Matangkuli, perjalanan dilanjutkan sekitar tiga kilometer menuju kawasan rumah bersejarah tersebut.
Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan khas pedesaan Aceh Utara yang menenangkan. Hamparan sawah hijau, pepohonan rindang, serta aktivitas masyarakat yang masih mempertahankan tradisi agraris menghadirkan suasana yang sejuk dan autentik. Lanskap alam ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat perjalanan menuju Rumah Cut Meutia terasa menyenangkan.
Meski akses menuju lokasi kini semakin baik, wisatawan disarankan mempersiapkan perjalanan dengan matang. Menggunakan jasa pemandu lokal atau menyewa kendaraan dapat menjadi pilihan yang memudahkan, terutama bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke kawasan Matangkuli.
Fasilitas pendukung di sekitar lokasi masih tergolong terbatas. Oleh karena itu, pengunjung sebaiknya membawa bekal makanan dan minuman secukupnya selama perjalanan. Namun yang terpenting, setiap wisatawan diharapkan ikut menjaga kebersihan kawasan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kesadaran menjaga lingkungan merupakan bagian penting dalam mendukung keberlanjutan destinasi wisata sejarah di Aceh.

Rumah Cut Meutia bukan hanya tempat untuk mengenang perjuangan seorang pahlawan perempuan yang gagah berani, tetapi juga ruang pembelajaran sejarah yang berpadu dengan keindahan alam pedesaan Aceh. Mengunjungi tempat ini memberikan pengalaman yang mengajak wisatawan menelusuri jejak perjuangan masa lalu sekaligus menikmati ketenangan suasana kampung yang masih asri.
Akses Menuju Rumah Cut Meutia
Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil menyebutkan, Rumah Cut Meutia berada di Desa Mesjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, sekitar 33 kilometer dari Kota Lhokseumawe. Situs bersejarah ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.
”Bangunan yang ada saat ini merupakan rekonstruksi rumah peninggalan Cut Meutia yang dibangun kembali dan dilestarikan oleh Pemerintah Aceh sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan nasional asal Aceh tersebut,” katanya, Jum’at, (9/6/2026)
Dari pusat Kecamatan Matangkuli, pengunjung masih harus menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer menuju lokasi. Sepanjang perjalanan, hamparan sawah dan suasana pedesaan yang asri menjadi pemandangan yang menambah daya tarik kunjungan.
Meski fasilitas di sekitar lokasi masih terbatas, Rumah Cut Meutia tetap menjadi destinasi wisata sejarah yang penting. Pengunjung diimbau menjaga kebersihan kawasan agar warisan sejarah dan budaya Aceh ini tetap terawat untuk generasi mendatang.
Rumah Cut Meutia bukan hanya tempat untuk mengenang perjuangan seorang pahlawan perempuan yang gagah berani, tetapi juga ruang pembelajaran sejarah yang berpadu dengan keindahan alam pedesaan Aceh.
”Mengunjungi tempat ini memberikan pengalaman yang mengajak wisatawan menelusuri jejak perjuangan masa lalu sekaligus menikmati ketenangan suasana kampung yang masih asri,” paparnya.
Fasilitas pendukung di sekitar lokasi masih tergolong terbatas. Oleh karena itu, pengunjung sebaiknya membawa bekal makanan dan minuman secukupnya selama perjalanan. Namun yang terpenting, setiap wisatawan diharapkan ikut menjaga kebersihan kawasan dengan tidak membuang sampah sembarangan.
”Kesadaran menjaga lingkungan merupakan bagian penting dalam mendukung keberlanjutan destinasi wisata sejarah di Aceh,” ungkapnya lagi.
Selain bangunan rumah, di lokasi ini kita juga bisa melihat beberapa benda tradisional dan bangunan masyarakat Aceh. Ini beberapa di antaranya.
Kroeng Padee
Kroeng Padee dalam bahasa Indonesianya karung adalah tempat untuk menyimpan padi. Berjumlah tiga buah dan berada di halaman rumah.
Jeungki
Pada zaman dahulu, sebelum ada mesin penggiling padi, masyarakat aceh menggunakan Jeungki sebagai alat penumbuk padi.
Balai
Balai ini berukuran kurang lebih 3 x 4 m. Bangunan ini biasanya dipergunakan untuk tempat berkumpul, ajang silaturahmi, dan tempat bersantai bagi masyarakat Aceh.
Monumen Cut Meutia
Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya melawan belanda, yang pada akhirnya Cut Meutia gugur bersama pasukannya pada tanggal 24 Oktober 1910. Di area rumah ini dibangun monumen perjuangan. [Adv]






Komentar