Ekonomi

Meugang, Denyut Kenangan dan Warisan Budaya Masyarakat Aceh

Meugang, Denyut Kenangan dan Warisan Budaya Masyarakat Aceh
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id — Tradisi meugang bukan sekadar kebiasaan memasak daging menjelang hari besar Islam. Bagi masyarakat Aceh, meugang adalah denyut kenangan, simbol kebersamaan, sekaligus warisan budaya yang telah hidup ratusan tahun lamanya di tanah Serambi Mekkah.

Setiap kali meugang tiba, aroma daging yang dimasak dengan bumbu khas mulai memenuhi sudut-sudut kampung. Asap dari dapur rumah warga perlahan membumbung ke udara, menghadirkan suasana yang selalu dirindukan. Anak-anak menunggu hidangan tersaji, sementara para orang tua mengenang masa-masa ketika seluruh keluarga berkumpul dalam satu meja sederhana.

Tradisi ini telah mengakar kuat di seluruh wilayah Aceh, khususnya di kalangan masyarakat Muslim. Meugang dilaksanakan tiga kali dalam setahun, yakni menjelang bulan suci Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha. Pada momen tersebut, masyarakat menyembelih hewan seperti sapi, kerbau, maupun kambing untuk dimasak dan dinikmati bersama keluarga, kerabat, hingga anak yatim.

Di desa-desa, meugang biasanya berlangsung sehari sebelum Ramadhan atau hari raya. Sementara di kawasan perkotaan, tradisi ini sudah dimulai dua hari sebelumnya. Daging yang telah dimasak kemudian dibawa ke meunasah atau masjid untuk disantap bersama warga sebagai simbol persaudaraan dan kebersamaan.

Namun, di balik kemeriahan meugang, tersimpan kisah haru yang tidak selalu terlihat. Tidak semua keluarga mampu membeli daging setiap meugang datang. Bagi sebagian warga kurang mampu, meugang sering menjadi satu-satunya kesempatan dalam setahun untuk menikmati hidangan daging bersama keluarga.

Karena itu, meugang bukan hanya soal makanan, melainkan tentang menjaga harga diri, kebahagiaan anak-anak, dan mempertahankan tradisi yang diwariskan leluhur. Banyak orang tua rela menyisihkan uang sedikit demi sedikit jauh hari sebelumnya agar dapur tetap mengepul saat meugang tiba.

Tradisi ini juga menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan kejayaan Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1607 hingga 1636 Masehi. Kala itu, sang sultan menyembelih hewan dalam jumlah besar dan membagikan daging secara gratis kepada rakyatnya sebagai bentuk rasa syukur atas kemakmuran negeri serta penghormatan kepada masyarakat.

Sejak saat itulah, meugang tumbuh menjadi tradisi rakyat yang diwariskan lintas generasi. Bahkan ketika Belanda menaklukkan Aceh pada tahun 1873 dan kekuasaan kerajaan mulai runtuh, tradisi meugang tidak ikut hilang. Masyarakat tetap mempertahankannya dalam berbagai kondisi, termasuk di tengah masa perang dan kesulitan ekonomi.

Pada masa perjuangan melawan penjajah, daging sapi dan kambing yang disembelih saat meugang bahkan diawetkan oleh para pejuang Aceh untuk dijadikan bekal bergerilya di hutan-hutan pedalaman. Tradisi yang awalnya penuh nuansa syukur itu pun berubah menjadi bagian dari semangat perjuangan rakyat Aceh mempertahankan tanah kelahirannya.

Kini, di tengah perubahan zaman dan tekanan ekonomi yang semakin berat, tradisi meugang tetap bertahan. Meski harga daging terus naik dari tahun ke tahun, masyarakat Aceh tetap berusaha menjaga tradisi tersebut agar tidak hilang ditelan waktu.

20260529 162131

Sebab bagi orang Aceh, meugang bukan hanya tentang memasak daging. Meugang adalah tentang pulang ke rumah, berkumpul dengan keluarga, berbagi dengan sesama, dan mengenang mereka yang telah tiada di setiap aroma masakan yang tersaji di meja makan.

‎Tradisi Meugang di Aceh Tradisi Turun Menurun

‎Tradisi Meugang bukan sekadar agenda memasak daging menjelang hari besar Islam. Bagi masyarakat Aceh, Meugang adalah warisan budaya turun-temurun yang sarat makna kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian sosial.

‎Tradisi ini dilakukan dengan memasak serta menyantap daging sapi atau kerbau bersama keluarga dan kerabat dekat.

‎Meugang digelar tiga kali dalam setahun, yakni sehari sebelum memasuki bulan suci Ramadan, menjelang Hari Raya Idul Fitri, dan sebelum Hari Raya Idul Adha.

‎”Pada hari tersebut, hampir seluruh sudut pasar di Aceh dipenuhi aktivitas jual beli daging. Aroma masakan khas Aceh mulai mengepul dari dapur rumah warga, menciptakan suasana hangat yang selalu dirindukan setiap tahunnya,” Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, Senin, (25/5/2026).

‎Tradisi ini telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, tepatnya pada masa Kesultanan Aceh di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Kala itu, sultan menyembelih hewan dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada rakyat, terutama fakir miskin, sebagai bentuk rasa syukur atas kemakmuran negeri sekaligus wujud kepedulian terhadap sesama. Hingga kini, nilai-nilai tersebut tetap hidup di tengah masyarakat Aceh.

‎‎”Meugang menjadi momen istimewa untuk mempererat silaturahmi keluarga, berkumpul bersama orang-orang tercinta, hingga berbagi rezeki kepada tetangga, anak yatim, dan masyarakat kurang mampu agar semua dapat merasakan kebahagiaan menjelang hari raya,” ungkapnya.

‎Bagi banyak orang Aceh, Meugang juga menyimpan kenangan emosional tentang keluarga dan kampung halaman. Tradisi ini menghadirkan rasa rindu pada suasana rumah, kebersamaan di meja makan, serta momen sederhana yang penuh makna.

‎Tidak heran jika Meugang tetap bertahan sebagai salah satu identitas budaya Aceh yang diwariskan dari generasi ke generasi. [Adv]

 

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.