probisnis.id – MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Kontroversi keputusan VAR dalam sepak bola tidak sekadar soal benar atau salah. Ada dimensi kepercayaan, kecurigaan, dan pencarian keadilan dalam setiap keputusan wasit. Pandangan ini diungkapkan oleh Mohammad Syifa Amin Widigdo dalam podcast di kanal Wonderhome Library, pada Kamis (9/7).
Syifa menekankan bahwa hasil pertandingan sepak bola ditentukan oleh keputusan wasit, bukan hanya kemampuan pemain. Sebuah peluit atau tayangan VAR bisa mengubah segalanya dan memicu perdebatan panjang. Ia mengangkat contoh pertandingan Argentina melawan Mesir yang kontroversial.
Dalam pertandingan tersebut, gol Mesir dianulir setelah VAR menemukan pelanggaran terhadap Lisandro Martinez. Sebaliknya, Mesir merasa Mohamed Salah dilanggar di kotak penalti, tetapi wasit tidak memberikan penalti. Keputusan itu mengantar Argentina meraih kemenangan, sedangkan Mesir merasa dirugikan.
Syifa menyatakan bahwa secara prosedural keputusan itu memiliki dasar dalam Laws of the Game. VAR digunakan untuk empat situasi penting: gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain. Keputusan awal wasit hanya bisa diubah jika terdapat kesalahan jelas dan nyata.
Namun, ia mengingatkan bahwa VAR bukanlah mesin dengan kebenaran mutlak. Teknologi ini tergantung pada sudut kamera, interpretasi manusia, dan penafsiran wasit. Sepak bola lebih dari sekadar aturan; emosi juga memengaruhi cara publik memaknai keputusan tersebut.
Untuk menjelaskan fenomena ini, Syifa merujuk pada filsuf Prancis, Paul Ricoeur, yang mengemukakan dua pendekatan dalam membaca makna: hermeneutics of faith dan hermeneutics of suspicion. Pendekatan pertama mengajak untuk memulai dengan sikap percaya kepada wasit dan VAR.
Kelompok ini meyakini bahwa keputusan yang diambil wasit sesuai prosedur dan patut dihormati jika memiliki dasar aturan. Syifa mencatat bahwa sejumlah analis ESPN juga mencermati hal ini dalam analisis mereka.[]
Sumber: Muhammadiyah






Komentar