Ekonomi

Harga Daging Meugang di Banda Aceh Tembus Rp180 Ribu, Tradisi Tetap Bertahan di Tengah Kenaikan

Harga Daging Meugang di Banda Aceh Tembus Rp180 Ribu, Tradisi Tetap Bertahan di Tengah Kenaikan
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id — Aroma daging segar bercampur hiruk-pikuk tawar-menawar mulai memenuhi sudut Pasar Meugang Ulee Kareng, Banda Aceh, Selasa (26/5/2026). Sehari menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, masyarakat berbondong-bondong datang sejak pagi demi menjaga satu tradisi yang telah hidup turun-temurun di tanah Aceh adalah Meugang.

Di tengah keramaian pasar, harga daging sapi tahun ini melonjak tajam. Jika pada hari biasa dijual sekitar Rp130 ribu per kilogram, kini harga daging kualitas terbaik menembus Rp180 ribu per kilogram. Bahkan, para pedagang memperkirakan harga masih berpotensi naik hingga Rp190 ribu per kilogram apabila permintaan terus meningkat menjelang malam meugang.

Bagi masyarakat Aceh, meugang bukan sekadar membeli daging. Tradisi ini telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sosial dan budaya yang diwariskan lintas generasi. Menjelang hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi, masyarakat biasanya memasak hidangan berbahan dasar daging untuk disantap bersama keluarga.

Di lapak sederhana miliknya, Rahmat, seorang pedagang daging sapi di Pasar Meugang Ulee Kareng, tampak sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan. Sesekali ia mengusap keringat sambil memotong daging pesanan warga.

“Harga daging kualitas nomor satu sekarang Rp180 ribu per kilogram. Bisa jadi besok naik jadi Rp190 ribu kalau permintaan banyak,” ujar Rahmat.

Meski harga melonjak, antusiasme masyarakat tidak sepenuhnya surut. Warga tetap rela mengantre demi membawa pulang beberapa kilogram daging untuk dimasak di rumah. Bagi sebagian keluarga, meugang adalah momen yang tidak boleh terlewatkan.

Siti (38), salah seorang warga yang datang berbelanja, mengaku tetap membeli daging meskipun harus mengeluarkan biaya lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Baginya, meugang memiliki makna emosional yang jauh melampaui harga.

“Walaupun harganya naik, tetap beli karena meugang hanya beberapa kali dalam setahun. Anak-anak juga sudah menunggu masakan daging di rumah,” katanya sambil tersenyum.

Tak hanya daging sapi, tulang sapi juga menjadi buruan warga. Tulang yang masih dipenuhi sisa daging dijual sekitar Rp100 ribu per kilogram, sementara tulang biasa dibanderol Rp80 ribu per kilogram. Bahan tersebut umumnya digunakan masyarakat untuk memasak gulai, kari, maupun sop khas Aceh yang menjadi hidangan utama saat meugang.

Namun, di balik ramainya pasar, para pedagang mengaku jumlah pembeli tahun ini tidak seramai meugang sebelumnya. Rahmat menilai kondisi tersebut dipengaruhi hadirnya pasar murah yang digelar pemerintah serta banyaknya masyarakat yang memperkirakan akan memperoleh daging kurban pada Hari Raya Idul Adha nanti.

“Pembeli menurun karena ada pasar murah. Terus juga banyak yang tidak beli mungkin karena sudah banyak daging kurban,” ujarnya.

Tradisi meugang selama ini memang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Aceh. Perputaran uang meningkat drastis menjelang hari raya. Tidak hanya pedagang daging yang merasakan dampaknya, tetapi juga peternak sapi, pedagang bumbu dapur, penjual kelapa, hingga pedagang sayuran di pasar tradisional.

Di tengah naiknya harga kebutuhan pokok dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, meugang tetap bertahan sebagai tradisi yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh.

Sebab, bagi banyak keluarga, aroma daging yang dimasak di dapur sehari sebelum lebaran bukan hanya tentang makanan, melainkan tentang kebersamaan, kenangan, dan cara sederhana menjaga warisan budaya agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

 

 

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.