probisnis.id — Target juara umum Pekan Olahraga Aceh (PORA) XV di Aceh Jaya tidak cukup hanya diletakkan dalam slogan. Di Banda Aceh, target itu mulai diterjemahkan ke dalam agenda pembinaan, kesiapan atlet, pelatih, hingga pembenahan administrasi dan tata kelola organisasi.
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Banda Aceh menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 untuk menyatukan langkah seluruh cabang olahraga menghadapi PORA XV. Forum yang mengusung tema “Banda Aceh Kota Kolaborasi, Bersama Kita Bangun Prestasi” itu menjadi ruang evaluasi sekaligus penyusunan program pembinaan olahraga di ibu kota Provinsi Aceh.
Raker tersebut dihadiri Wali Kota Banda Aceh yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Said Fauzan, Ketua Umum KONI Aceh yang diwakili wakil ketua, Kepala Dispora Kota Banda Aceh yang diwakili Kabid Prestasi, Dewan Kehormatan KONI, jajaran pengurus KONI, para ketua dan pengurus cabang olahraga se-Kota Banda Aceh, pelatih, pembina, serta insan olahraga.
Ketua Umum KONI Kota Banda Aceh H. Heri Julius mengatakan rapat kerja tidak boleh berhenti sebagai agenda rutin organisasi. Menurut dia, forum tersebut harus menghasilkan arah pembinaan yang lebih terukur menjelang PORA XV.
“Rapat kerja hari ini bukan sekadar agenda organisasi. Ini adalah forum strategis untuk menyatukan langkah, menyusun program, mengevaluasi capaian, serta menetapkan arah perjuangan olahraga Kota Banda Aceh menuju PORA XV Aceh Jaya dan event besar lainnya,” kata Heri, Kamis, (17/9).
Bagi Heri, PORA bukan semata perkara mengumpulkan medali. Ajang olahraga tingkat provinsi itu juga menyangkut pembinaan atlet dan nama baik daerah. Karena itu, persiapan menurut dia harus dibangun secara terarah dan tidak dilakukan secara mendadak ketika pertandingan sudah semakin dekat.
Target prestasi, kata dia, harus diterjemahkan ke dalam program latihan, kesiapan atlet, peningkatan kualitas pelatih, kelengkapan administrasi, sarana dan prasarana, dukungan pendanaan, serta sistem pembinaan yang jelas.
Ia mengingatkan potensi persoalan dapat muncul bukan hanya di arena pertandingan. Atlet yang siap bertanding, misalnya, dapat terkendala apabila administrasinya belum beres. Begitu pula program latihan yang tidak memiliki ukuran keberhasilan akan menyulitkan evaluasi.
“Jangan sampai atletnya siap, tetapi administrasinya bermasalah. Jangan sampai pelatihnya siap, tetapi programnya tidak terukur. Dan jangan sampai target medali sudah ditetapkan, tetapi persiapannya baru dilakukan menjelang pertandingan. Persiapan untuk PORA harus dimulai dari sekarang,” ujarnya.
Pesan itu sekaligus menyoroti pentingnya koordinasi antara KONI dan seluruh cabang olahraga. Pembinaan atlet tidak dapat berjalan sendiri-sendiri jika target yang hendak dicapai adalah prestasi kolektif Kota Banda Aceh.
Heri mengatakan Banda Aceh memiliki potensi atlet yang besar. Tantangannya adalah memastikan potensi tersebut mendapat pembinaan yang konsisten sehingga dapat berkembang menjadi prestasi.
“Kota Banda Aceh memiliki potensi atlet yang luar biasa. Tugas kita adalah bagaimana potensi tersebut kita bina menjadi prestasi. Kita harus memberikan ruang kepada atlet-atlet muda untuk berkembang,” katanya.
Pemerintah Kota Banda Aceh melihat agenda pembinaan olahraga dari sisi yang lebih luas. Staf Ahli Wali Kota Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Said Fauzan mengatakan olahraga bukan hanya instrumen untuk mengejar prestasi dan medali.
Menurut dia, arena olahraga juga menjadi tempat generasi muda belajar disiplin, bekerja keras, menaati aturan, serta memahami bagaimana menghadapi kemenangan dan kekalahan.
“Bagaimana anak-anak kita di olahraga belajar disiplin, bekerja keras, mengenal aturan, serta memupuk jiwa ksatria, bagaimana menyikapi kemenangan dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Oleh karena itu, berbicara tentang olahraga, kita berbicara tentang masa depan generasi muda Banda Aceh,” ujar Said.
Karena itu, pembinaan tidak cukup dilakukan ketika seorang atlet telah mencapai usia kompetisi. Sistem pembinaan, menurut Said, perlu dibangun secara berkelanjutan sejak usia dini dan diikuti peningkatan kualitas pelatih.
“Kita perlu memperkuat sistem. Mengingat sejarah, Banda Aceh tidak pernah kekurangan generasi muda yang berbakat. Sehingga perlu pembinaan yang berkelanjutan mulai dari usia dini hingga peningkatan kualitas pelatih,” katanya.
PORA XV di Aceh Jaya menjadi salah satu momentum yang kini berada di depan mata. Pemerintah Kota Banda Aceh pun menyatakan target yang hendak dicapai cukup tinggi, yakni membawa pulang predikat juara umum.
Said mengatakan target tersebut menjadi tantangan bersama KONI, cabang olahraga, atlet, pelatih, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pembinaan olahraga.
“PORA di Aceh Jaya 2026 sudah dekat di depan mata sebagaimana Surat Keputusan Gubernur tahun ini. Namun target kita jelas, KONI Kota Banda Aceh adalah juara umum,” katanya.
Ia merujuk hasil yang diraih Banda Aceh dalam penyelenggaraan PORA sebelumnya. Banda Aceh berada di posisi kedua di Pidie Jaya dan kemudian menempati peringkat ketiga di Aceh Besar.
Capaian tersebut menjadi pijakan untuk memasang target lebih tinggi pada penyelenggaraan PORA di Aceh Jaya.
“Mudah-mudahan menjadi harapan kita bersama. Seperti di Pidie Jaya lalu kita berada di posisi kedua dan di Aceh Besar di peringkat ketiga. Banda Aceh, mudah-mudahan target juara umum di Aceh Jaya,” ujar Said.
Raker KONI Banda Aceh pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai target medali. Forum tersebut menjadi bagian dari upaya mengubah target prestasi menjadi program yang dapat dijalankan oleh masing-masing cabang olahraga.
Ada atlet yang membutuhkan peningkatan porsi latihan. Ada pelatih yang perlu diperkuat kapasitasnya. Ada pula persoalan administrasi, sarana-prasarana, pendanaan, dan koordinasi yang harus dipastikan tidak menjadi hambatan ketika kompetisi berlangsung.
Karena itu, ukuran keberhasilan Raker bukan semata keputusan yang dihasilkan dalam forum, tetapi seberapa jauh keputusan tersebut diterjemahkan menjadi kerja pembinaan di lapangan.
Heri menegaskan Banda Aceh tidak ingin sekadar menjadi peserta PORA. Kota ini ingin tampil dengan persiapan yang lebih matang dan membawa pulang prestasi melalui proses yang sportif dan bermartabat.
“Banda Aceh bukan hanya ingin ikut PORA. Banda Aceh ingin berprestasi. Banda Aceh ingin memberikan yang terbaik dan mengukir prestasi dengan cara yang bermartabat dan sportif,” kata Heri.
Dengan demikian, PORA XV di Aceh Jaya bukan hanya menjadi panggung pertandingan bagi para atlet Banda Aceh. Ajang tersebut juga akan menjadi salah satu ukuran sejauh mana sistem pembinaan olahraga di kota itu mampu mengubah potensi atlet menjadi prestasi.






Komentar