Teknologi

Krisis Gelembung AI: Indeks Kospi Anjlok Drastis

Krisis Gelembung AI: Indeks Kospi Anjlok Drastis
Indeks Kospi mengalami penurunan tajam yang mempengaruhi pasar saham secara global [Reuters]
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id – Ambruknya harga saham cip kecerdasan buatan menimbulkan kekhawatiran bahwa gelembung mulai pecah. Hal ini berdampak pada ekonomi negara berkembang, terutama yang memiliki ruang fiskal sempit dan kredibilitas bank sentral yang lemah. Pada Selasa (28/7/2026), investor mulai mempertanyakan kemampuan pertumbuhan laba perusahaan AI untuk mengimbangi investasi yang terus membengkak.

Indeks harga saham dunia MSCI All Country World turun 0,76 persen ke posisi terendah dalam satu bulan. Indeks Nasdaq Composite merosot 1,37 persen, sementara saham Micron jatuh 11,7 persen dan Intel turun 8,5 persen. Saham Nvidia juga melemah 1,7 persen, sedangkan Advanced Micro Devices, Western Digital, dan Sandisk mengalami tekanan yang sama.

Kejatuhan terbesar terjadi di Korea Selatan, di mana indeks Kospi anjlok lebih dari 10 persen hingga perdagangan sempat dihentikan. Penurunan Nasdaq Composite terjadi setelah mencapai rekor tertinggi pada 2 Juni 2026. Hingga 28 Juli, indeks yang banyak didorong oleh saham terkait AI itu telah turun sekitar 8,2 persen.

Kospi mencatat penurunan bulanan terbesar dalam sejarahnya, melampaui kejatuhan saat krisis finansial Asia pada 1997. Indeks ini telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya, meskipun dalam 12 bulan hingga Juni 2026, nilainya naik lebih dari tiga kali lipat.

Saham Samsung Electronics dan SK Hynix merosot lebih dari 13 persen. Kedua perusahaan ini merupakan produsen cip memori utama untuk pusat data AI. Penurunan ini terjadi setelah laporan bahwa China mulai memproduksi mesin litografi deep ultraviolet (DUV) yang dikembangkan di dalam negeri.

Debut kuat produsen cip memori China, CXMT, juga meningkatkan kekhawatiran mengenai persaingan di industri cip. Tekanan tidak hanya datang dari China, tetapi juga dari pertanyaan investor tentang valuasi saham AI yang tinggi dan ketidakpastian dalam pendanaan serta pola pembiayaan yang rumit dalam industri AI.

Kepala Multi-Asset Income Schroders, Dorian Carrell, mengatakan, β€œKisah AI masih akan berlanjut, tetapi tingkat pertumbuhan laba seperti sekarang ini jarang dapat dipertahankan.” Ambruknya harga saham terkait AI terjadi di tengah kenaikan laba luar biasa.

SK Hynix, misalnya, melaporkan kenaikan laba operasional yang signifikan. Meskipun demikian, kondisi saat ini menunjukkan bahwa para investor harus berhati-hati dalam mengevaluasi prospek perusahaan AI di masa depan.[]

Sumber: Kompas.id

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.