probisnis.id — Di sepanjang jalan lintas Banda Aceh – Meulaboh, tepatnya di kawasan Lhoknga hingga Lampisang, deretan gerai sederhana berdiri di tepi jalan. Dari luar terlihat biasa saja, namun di balik pintu-pintu kayu itu tersimpan karya seni bernilai budaya tinggi yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Aceh Besar.
Anyaman rotan, kain songket, ukiran kayu, hingga rencong khas Aceh tersusun rapi, menjadi saksi hidup ketekunan tangan para perajin Tanah Rencong.
Bagi wisatawan yang datang ke Aceh, kerajinan tangan bukan sekadar buah tangan perjalanan. Di setiap anyaman, tenunan, dan ukiran tersimpan cerita tentang tradisi, identitas budaya, serta semangat masyarakat dalam menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
Di Desa Keude Bieng, Kecamatan Lhoknga, kerajinan anyaman rotan telah menjadi denyut ekonomi masyarakat sejak puluhan tahun silam. Hampir di setiap rumah, aktivitas menganyam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Para perajin dengan cekatan mengolah rotan menjadi tudung saji, keranjang, tikar, tas, kursi, hingga dekorasi rumah bernilai seni tinggi.
Kerajinan rotan Aceh Besar dikenal memiliki karakter kuat dan tahan lama. Dahulu, anyaman hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, namun kini berkembang menjadi produk dekoratif modern yang diminati wisatawan lokal maupun mancanegara. Sejumlah perajin bahkan mulai memadukan motif khas Aceh seperti pucuk rebung dan bungong jeumpa ke dalam desain mereka, menghadirkan sentuhan tradisional yang tetap relevan dengan selera masa kini.
Di tangan para perempuan perajin, rotan bukan sekadar bahan baku, melainkan media untuk merawat identitas budaya. Teknik menganyam dipelajari sejak kecil dari orang tua dan nenek moyang. Proses pengerjaan masih dilakukan secara manual, mulai dari memilih rotan, menjemur, membelah, hingga membentuk pola anyaman yang rumit. Dari proses panjang itu lahirlah produk-produk unik yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya.
Selain anyaman rotan, Aceh Besar juga dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan songket Aceh. Kain tenun tradisional ini memiliki corak khas dengan perpaduan benang emas yang memancarkan kesan mewah dan elegan. Songket Aceh selama ini digunakan dalam upacara adat, prosesi pernikahan, dan berbagai kegiatan budaya masyarakat Aceh.
Kini, songket tidak hanya hadir dalam bentuk kain tradisional, tetapi juga berkembang menjadi produk fesyen modern seperti selendang, tas, dompet, hingga aksesori busana. Di sejumlah gampong pengrajin, aktivitas menenun masih bertahan menggunakan alat tenun tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Menenun songket membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi. Satu lembar kain bisa diselesaikan dalam waktu berminggu-minggu, tergantung tingkat kerumitan motif. Motif-motif seperti bungong jeumpa, awan meucanek, dan pucuk rebung bukan hanya memperindah kain, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan masyarakat Aceh yang sarat makna tentang kehormatan, persatuan, dan keindahan alam.
Tak kalah menarik adalah kerajinan rencong, senjata tradisional Aceh yang menjadi simbol keberanian dan kehormatan masyarakat Aceh. Di sejumlah kawasan pengrajin, seni pembuatan rencong masih dipertahankan secara tradisional. Rencong dibuat dengan detail ukiran pada gagang dan sarungnya, menjadikannya bukan hanya benda simbolik, tetapi juga karya seni bernilai tinggi.
Bagi wisatawan, rencong menjadi salah satu cendera mata favorit karena memiliki bentuk khas dan nilai sejarah yang kuat. Beberapa perajin juga memproduksi rencong mini sebagai suvenir yang mudah dibawa pulang oleh para pelancong.
Keberadaan kerajinan tangan tersebut kini menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor pariwisata Aceh Besar. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati panorama alam, wisata pantai, dan situs sejarah, tetapi juga berburu produk kerajinan lokal sebagai oleh-oleh khas daerah.
Pemerintah daerah bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) terus mendorong pengembangan industri kreatif berbasis budaya melalui pelatihan desain, peningkatan kualitas produk, hingga pemasaran digital. Langkah tersebut dilakukan agar kerajinan tradisional Aceh mampu bersaing di pasar modern tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, para perajin Aceh Besar tetap bertahan menjaga warisan leluhur melalui karya tangan mereka. Dari lenturnya anyaman rotan, kilau benang emas songket, hingga ukiran rencong yang penuh makna, semuanya menjadi bukti bahwa budaya Aceh terus hidup melalui tangan-tangan terampil masyarakatnya.
Bagi para wisatawan, membawa pulang kerajinan tangan khas Aceh Besar bukan sekadar membeli sebuah produk. Lebih dari itu, mereka turut membawa pulang cerita tentang tradisi, ketekunan, dan kebanggaan masyarakat Aceh yang tetap terjaga dari generasi ke generasi.
Anyaman Tradisi dari Serambi Mekkah: Kerajinan Aceh Besar Mendunia
Di tengah berkembangnya sektor pariwisata di Kabupaten Aceh Besar, berbagai kerajinan tangan tradisional kini semakin gencar dipromosikan sebagai oleh-oleh khas daerah.
”Produk-produk lokal hasil karya para perajin tidak hanya menjadi cendera mata bagi wisatawan, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya dan identitas masyarakat Aceh,” kata Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, katanya, Selasa, 19 Mei 2026.
Beragam kerajinan khas Aceh Besar mulai dari anyaman rotan, kasab Aceh, ukiran kayu, kerajinan tempurung kelapa, hingga kain bordir tradisional kini banyak dipasarkan di pusat-pusat wisata dan galeri UMKM. Kehadiran produk tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin membawa pulang kenangan bernilai budaya setelah berkunjung ke Serambi Mekkah.
”Para pelaku usaha kerajinan di Aceh Besar terus berinovasi agar produk mereka mampu bersaing di pasar modern tanpa meninggalkan nilai tradisional. Motif-motif khas Aceh dipadukan dengan desain kekinian sehingga menghasilkan produk yang lebih diminati wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” ungkapnya.
Sementara, promosi kerajinan lokal juga semakin diperkuat melalui berbagai pameran budaya, festival pariwisata, hingga media digital. Pemerintah daerah bersama komunitas UMKM aktif memperkenalkan produk unggulan Aceh Besar sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya.
”Selain mendukung sektor pariwisata, pengembangan kerajinan tangan turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa, khususnya perempuan dan generasi muda. Banyak kelompok usaha rumahan kini menjadikan kerajinan tradisional sebagai sumber penghasilan utama keluarga,” paparnya.
Wisatawan yang berkunjung ke sejumlah destinasi di Aceh Besar seperti kawasan pantai, situs sejarah, dan pusat budaya, kini semakin mudah menemukan gerai oleh-oleh yang menjual produk khas daerah. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi pariwisata sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya Aceh agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
”Dengan terus dipromosikannya kerajinan lokal sebagai oleh-oleh pariwisata, Aceh Besar tidak hanya menawarkan keindahan alam dan wisata religi, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang autentik melalui karya-karya tangan masyarakatnya,” pungkasnya. [adv]






Komentar