Pendidikan

Hardiknas 2026: Revitalisasi Panca Dharma Ki Hajar Dewantara

Hardiknas 2026: Revitalisasi Panca Dharma Ki Hajar Dewantara
Ilustrasi peringatan Hari Pendidikan Nasional dengan latar belakang bendera Merah Putih dan buku [ANTARA News]
💬
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp
probisnis.id
+ Gabung
Ukuran Font
Advertisement
728 × 90

probisnis.id – Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan upacara, pidato, dan slogan yang berulang. Namun di balik seremoni itu, pertanyaan mendasar justru semakin penting dan mendesak. Apakah pendidikan kita masih setia pada cita-cita memanusiakan manusia, atau telah bergeser menjadi sekadar mesin produksi angka, ijazah, dan tenaga kerja?

Di tengah hiruk-pikuk kebijakan dan program, gagasan Ki Hajar Dewantara tentang Panca Dharma Taman Siswa menjadi cermin kritis. Panca Dharma mencakup kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Kelima dasar ini ditulis dalam pasal 7 dan 12 Peraturan Dasar Persatuan Taman Siswa berdasarkan keputusan Kongres ke X pada 5-10 Desember 1968.

Panca Dharma merupakan rumusan orisinal-kreatif, berharga dan kuat dari Ki Hajar Dewantara. Dalam Panca Dharma, Ki Hajar Dewantara memberi jalan untuk berpikir global, tetapi tetap berakar lokal. Gagasan ini bukan sekadar warisan historis, melainkan kompas moral yang justru terasa semakin relevan di era ketidakpastian.

Pertama, kodrat alam mengingatkan bahwa pendidikan harus berpijak pada realitas hidup peserta didik. Namun, praktik pendidikan kita masih sering terjebak pada pendekatan seragam. Data berbagai asesmen nasional dalam Statistik Pendidikan Indonesia 2025 menunjukkan kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah masih tinggi.

Di banyak daerah, siswa belajar dari buku yang jauh dari konteks hidup mereka. Ironisnya, di tengah krisis lingkungan global, pendidikan kita belum sungguh-sungguh membangun kesadaran ekologis. Kita mendidik anak untuk lulus ujian, tetapi gagal menyiapkan mereka untuk merawat bumi.

Kedua, kemerdekaan sebagai inti pendidikan sering direduksi menjadi jargon administratif. Program Merdeka Belajar memang membuka ruang inovasi, tetapi di lapangan, budaya takut salah, tekanan ujian, dan orientasi nilai masih kuat. Data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Rapor Pendidikan Indonesia 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih belajar untuk mengejar nilai, bukan memahami makna.

Dalam situasi ini, kemerdekaan menjadi ilusi: siswa tampak bebas, tetapi tetap terikat pada sistem yang menilai mereka secara sempit. Di sinilah refleksi Zygmunt Bauman menjadi relevan. Bauman menyebut masyarakat modern sebagai cair, di mana segala sesuatu berubah cepat.[]

Sumber: ANTARA News

G
Tambahkan probisnis.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Advertisement
300 × 250

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar.