probisnis.id – Mata uang Asia bergerak beragam terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 30 April 2026. Bank sentral AS atau The Federal Reserve kembali menahan suku bunga acuannya. Rupiah menjadi mata uang Asia dengan tekanan terdalam pagi ini.
Berdasarkan data Refinitif per pukul 09.15 WIB, dari 11 mata uang Asia yang dipantau, enam mata uang menguat, tiga melemah, dan dua lainnya stagnan. Mata uang Garuda melemah 0,49% ke level Rp17.360 per dolar AS.
Setelah rupiah, tekanan juga dialami ringgit Malaysia yang berada di MYR 3,962 per dolar AS setelah melemah 0,30%. Dong Vietnam turut terkoreksi 0,09% ke VND 26.355 per dolar AS.
Di sisi lain, peso Filipina menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar. Peso berada di level PHP 61,46 per dolar AS setelah naik 0,18%.
Won Korea menyusul dengan penguatan 0,15% ke KRW 1.468,24 per dolar AS. Sementara yen Jepang berada di JPY 160,22 per dolar AS atau menguat 0,10%.
Baht Thailand juga naik 0,09% ke THB 32,68 per dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,07% ke SGD 1,28 per dolar AS.
Dolar Taiwan turut bergerak positif 0,05% ke TWD 31,611 per dolar AS. Sementara itu, yuan China dan rupee India cenderung stagnan.
Yuan berada di level CNY 6,83 per dolar AS. Rupee India berada di INR 94,85 per dolar AS.
Pergerakan mata uang Asia hari ini masih dipengaruhi dinamika dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS atau DXY pada pukul 09.15 WIB terpantau melemah tipis 0,05% ke level 98,913.
Namun, pada perdagangan sebelumnya, DXY ditutup menguat 0,33% ke level 98,961. Penguatan tersebut terjadi setelah The Fed memutuskan untuk kembali menahan suku bunga.
Pasar mencermati lebih jauh arah kebijakan moneter AS ke depan. Hal ini terutama setelah rapat tersebut menunjukkan perbedaan pandangan yang cukup tajam di internal The Fed.
Keputusan The Fed kali ini diambil melalui voting 8 berbanding 4. Ini menjadi keputusan paling terbelah sejak 1992.
Kondisi ini membuka tantangan yang akan dihadapi Kevin Warsh ketika nantinya menjabat sebagai Ketua The Fed. Tantangan tersebut terutama jika ingin mendorong pemangkasan suku bunga.
Masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed sendiri akan berakhir pada 15 Mei. Dalam konferensi pers, Powell menyatakan bahwa meski ada empat pejabat The Fed yang menolak mempertahankan bias pelonggaran, dia tidak melihat bank sentral AS sedang mengarah ke kenaikan suku bunga.
Selain faktor The Fed, pasar juga masih dibayangi oleh ketidakpastian global lainnya. Pergerakan rupiah dan mata uang Asia lainnya akan terus dipantau oleh pelaku pasar.[]
Sumber: CNBC Indonesia




Komentar