BerandaGaya HidupPHE NSO Dorong Kemandirian Masyarakat Aceh: Dari Beasiswa Hingga Aksi Tanggap Bencana

PHE NSO Dorong Kemandirian Masyarakat Aceh: Dari Beasiswa Hingga Aksi Tanggap Bencana

Lhokseumawe | Sepanjang tahun 2025, Pertamina Hulu Energi (PHE) NSO konsisten menjalankan berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara. Program tersebut mencakup sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, hingga kebencanaan.

‎‎Beragam inisiatif yang dijalankan antara lain pemberian beasiswa bagi mahasiswa melalui program NSO Scholarships, upaya pengentasan stunting, pemberdayaan petani garam, pengembangan wirausaha muda, hingga aksi tanggap bencana hidrometeorologi.

‎‎Seluruh program TJSL ini disusun berdasarkan hasil social mapping guna mengidentifikasi tantangan sekaligus potensi masyarakat di wilayah operasional. Dengan pendekatan tersebut, program tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga dirancang berkelanjutan untuk mendorong kemandirian dan ketangguhan masyarakat.

‎Manager Community Involvement & Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menghadirkan program yang inklusif dan berdampak luas.

‎“Kami ingin membuka ruang bagi perempuan kepala keluarga untuk mandiri dan menjadi agen perubahan. Di sisi lain, kami juga berkontribusi dalam pengentasan stunting yang sejalan dengan program pemerintah, serta memberikan dukungan pendidikan melalui beasiswa,” ujarnya, Selasa (31/3).

‎Ia menjelaskan, pelaksanaan program dilakukan secara bertahap dengan pendekatan siklus yang terstruktur, mulai dari perencanaan, pemetaan sosial, penguatan kapasitas masyarakat, implementasi, hingga evaluasi dampak.

‎‎Selain fokus pada pendidikan dan kesehatan, PHE NSO juga aktif dalam pengembangan ekonomi masyarakat, seperti pemberdayaan petani garam dan program penggemukan sapi. Di sektor lingkungan, perusahaan turut mendorong gerakan penanaman pohon bersama mitra dan pemangku kepentingan.

‎‎Tak hanya itu, pada akhir 2025, PHE NSO juga terlibat aktif dalam penanganan bencana hidrometeorologi sebagai bagian dari kepedulian terhadap kondisi darurat di wilayah operasional.

‎Menanggapi isu yang beredar terkait minimnya realisasi program, Iwan menjelaskan bahwa data tersebut merupakan laporan semester pertama, sehingga belum mencerminkan keseluruhan pelaksanaan kegiatan hingga akhir tahun.

‎k“Perbedaan antara rencana dan realisasi pada tahap awal merupakan hal yang wajar, mengingat adanya dinamika di lapangan. Namun seluruh program tetap berjalan sesuai rencana hingga akhir periode,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, seluruh program TJSL dijalankan sesuai standar tata kelola industri migas, serta dipantau secara berkala oleh SKK Migas.

‎Laporan pelaksanaan juga disampaikan kepada Bappeda setiap tahun sebagai bagian dari mekanisme pengawasan dan koordinasi.

‎PHE NSO, lanjutnya, terus mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, serta kebermanfaatan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Editor:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKAIT

Lihat lainnya

BERITA TERBARU

Lihat lainnya

Populer

Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Perairan Lhokseumawe, Kondisi Tubuh Tidak Utuh

Lhokseumawe | Sesosok mayat tanpa identitas ditemukan mengapung di perairan Kota Lhokseumawe pada Senin (30/3/2026) dini hari. Kondisi jenazah ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan...