PROBISNIS | Pada abad ke-16, Kesultanan Aceh Darussalam menjelma menjadi salah satu kekuatan politik dan keagamaan terbesar di Asia Tenggara. Di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Kahhar, Aceh dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam, perdagangan, dan perlawanan terhadap kolonialisme Eropa, khususnya Portugis yang telah menguasai Malaka.
Di tengah ketegangan politik dan ancaman penjajahan itu, Sultan Aceh mengirim utusan ke Kesultanan Turki Utsmani, kekuatan Islam terbesar dunia kala itu, yang berpusat di Istanbul. Permintaan bantuan itu bukan hanya dalam bentuk militer, tetapi juga dalam bidang keilmuan dan keagamaan. Sebagai jawaban atas permintaan itu, Turki Utsmani mengirim sejumlah pasukan, ahli persenjataan, dan juga ulama-ulama sufi dan intelektual ke Aceh.
Salah satu tokoh yang paling dikenal dari rombongan tersebut adalah seorang ulama bernama Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi, yang kemudian dikenal oleh masyarakat Aceh sebagai Tengku Di Bitai atau Teungku Chik di Bitay.
Tengku Di Bitai berasal dari wilayah yang kini dikenal sebagai Palestina atau wilayah Turki-Asia. Ia adalah seorang ahli agama, sufi, dan juga pemimpin spiritual. Setibanya di Aceh, ia memilih menetap di sebuah kampung di pinggiran Banda Aceh yang kini disebut Gampong Bitai, yang kemudian dinamai berdasarkan nama beliau.
Peran dan Kiprah di Aceh
Tengku Di Bitai bukan hanya menjadi guru agama. Ia juga menjadi tokoh sentral dalam pengembangan pendidikan Islam, tasawuf, dan penyebaran nilai-nilai keilmuan Islam. Ia membuka tempat pengajian di Bitai, yang menjadi salah satu pusat keilmuan Islam pada zamannya. Dari tempat inilah lahir banyak murid yang kelak menjadi ulama besar di Aceh dan sekitarnya.
Selain sebagai guru dan ulama, Tengku Di Bitai juga dipercaya sebagai penasihat spiritual di istana Sultan Aceh. Ia memainkan peran penting dalam membangun hubungan diplomatik dan kultural antara Aceh dan dunia Islam internasional, khususnya dunia Timur Tengah dan Turki Utsmani. Beliau mengajarkan pentingnya berislam secara kaffah (menyeluruh), dengan mengedepankan ilmu, akhlak, dan keteguhan hati dalam menghadapi cobaan zaman.
Dalam masa sulit, saat Aceh terus diganggu oleh invasi Portugis, kehadiran Tengku Di Bitai dan rombongan ulama Turki memberikan kekuatan spiritual dan moral kepada rakyat Aceh. Ia menjadi penyejuk di tengah gejolak, sekaligus lentera yang menerangi jalan rakyat dalam menghadapi penjajahan.
Wafat dan Warisan Abadi
Tengku Di Bitai menghabiskan sisa hidupnya di Aceh. Setelah bertahun-tahun mengajar, membina masyarakat, dan mempererat hubungan antarbangsa, ia wafat dan dimakamkan di Gampong Bitai. Makamnya kini dikenal sebagai bagian dari Komplek Makam Ulama dan Prajurit Turki Utsmani yang berada di Bitai, Banda Aceh.
Kompleks makam tersebut bukan hanya tempat peristirahatan terakhir Tengku Di Bitai, tetapi juga menjadi simbol sejarah panjang hubungan Aceh dan Turki. Di kompleks itu terdapat makam-makam lain dari ulama dan pasukan Turki yang datang bersama beliau. Arsitektur makam dan masjid di sekitarnya menunjukkan pengaruh budaya Turki yang masih lestari hingga hari ini.
Makam Tengku Di Bitai menjadi tempat ziarah dan perenungan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara. Tidak sedikit peneliti, sejarawan, dan peziarah dari Turki yang datang ke Bitai untuk menelusuri jejak leluhur mereka di bumi Aceh.
Makna Sejarah Tengku Di Bitai
Lebih dari sekadar tokoh agama, Tengku Di Bitai adalah simbol dari semangat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam) lintas benua. Ia membuktikan bahwa perbedaan budaya dan bahasa bukan penghalang untuk bersatu dalam satu cita-cita: mempertahankan Islam dan membangun masyarakat yang adil, damai, dan berilmu.
Jejak Tengku Di Bitai juga mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu harus melalui kekuasaan atau perang, melainkan dengan ilmu, keikhlasan, dan keteladanan. Kehadirannya menjadi bukti bahwa ulama bisa memainkan peran sebagai diplomat, guru, pemersatu, dan pencerah masyarakat.
Hingga kini, nama Tengku Di Bitai masih disebut dalam berbagai majelis ilmu, buku sejarah, dan diskusi kebudayaan. Komplek makam dan Masjid Bitai pun telah menjadi lokasi wisata religi dan sejarah yang penting di Banda Aceh. Pemerintah setempat, bersama masyarakat, terus berupaya menjaga kelestarian tempat ini sebagai warisan sejarah dunia Islam. [Murnila Sari, S.Pd, Guru Dayah Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air]
