PROBISNIS – Sejarah Aceh tidak hanya diwarnai oleh perang dan perjuangan, tetapi juga oleh kisah cinta dan diplomasi yang lembut namun berpengaruh. Salah satu kisah yang memikat hati adalah perjalanan Kamaliah atau dikenal dengan Putroe Phang, permaisuri dari negeri seberang yang datang ke Aceh.
Ia adalah simbol pertemuan dua kebudayaan besar di Asia Tenggara. Kehadirannya di istana bukan sekadar urusan rumah tangga, melainkan bagian dari strategi politik yang cerdas.
Putroe Phang berasal dari Kerajaan Pahang, sebuah negeri yang makmur di Semenanjung Malaya. Pertemuan dirinya dengan Sultan Aceh menjadi awal mula hubungan diplomatik yang erat antara kedua kerajaan. Pernikahan ini memperkuat posisi Aceh di jalur perdagangan internasional yang membentang dari Malaka hingga Samudra Hindia. Dalam setiap senyumnya, tersimpan misi yang lebih besar dari sekadar romansa.
Kehadirannya di istana membawa warna baru bagi kehidupan budaya Aceh. Ia memperkenalkan tradisi seni dan busana dari tanah kelahirannya yang berpadu indah dengan budaya lokal. Perpaduan ini melahirkan nuansa kemewahan yang lembut namun berwibawa di lingkungan istana. Tak jarang para tamu asing terpukau oleh harmoni budaya yang tercipta.
Menjadi permaisuri bukan berarti hidupnya hanya dipenuhi kemewahan. Putroe Phang juga harus beradaptasi dengan adat istiadat Aceh yang berbeda dari tanah kelahirannya. Ia belajar bahasa, memahami tata krama, dan menjalani peran politik yang tak kasat mata. Semua ini dilakukan dengan keteguhan hati yang membuatnya disegani.
Putroe Phang tidak hanya dikenal karena kecantikannya, tetapi juga kebijaksanaannya. Ia sering menjadi penengah dalam konflik internal istana. Keputusannya kerap mendatangkan kedamaian di saat ketegangan memuncak. Peran diplomatiknya di dalam istana sering kali menjadi kunci kelangsungan stabilitas kerajaan.
Permaisuri yang cantik ini juga menyimpan kerinduan pada tanah kelahiran. Laut luas yang memisahkan Aceh dan Pahang menjadi saksi bisu rindu yang tak pernah padam. Meski begitu, ia memilih untuk mengabdi sepenuh hati kepada tanah yang kini menjadi rumahnya. Kesetiaan itu menjadi salah satu warisan terindah dari kisah hidupnya.
Putroe Phang juga dikenal memiliki perhatian besar pada pendidikan perempuan. Ia mendorong para wanita istana untuk mempelajari sastra, seni, dan bahasa asing. Baginya, kecerdasan adalah mahkota yang tak ternilai bagi seorang wanita. Pandangan ini membuatnya dicintai oleh banyak kalangan di istana.
Tak hanya dalam bidang pendidikan, ia juga memiliki pengaruh dalam urusan perdagangan. Hubungan baiknya dengan pedagang dari Pahang dan negeri-negeri lain memperlancar arus barang dan rempah ke Aceh. Ini menjadikan Aceh semakin kuat sebagai pusat perdagangan di kawasan. Keberadaannya membawa manfaat nyata bagi perekonomian kerajaan.
Kisahnya menjadi bukti bahwa perempuan dapat memegang peranan penting dalam diplomasi. Di tengah dunia yang didominasi laki-laki, Putroe Phang menunjukkan bahwa kelembutan bisa menjadi kekuatan.
Ia membuktikan bahwa pengaruh tidak selalu datang dari medan perang, tetapi juga dari ruang-ruang perundingan. Inilah yang membuatnya dikenang hingga kini.
Putroe Phang juga menjadi inspirasi bagi karya sastra dan seni di Aceh. Banyak syair dan hikayat yang memuji kecantikan serta kebijaksanaannya. Kisahnya hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia menjadi bagian dari identitas sejarah Aceh yang membanggakan.
Kehidupan istana bukanlah tanpa intrik. Ada kalanya ia harus menghadapi kecemburuan dan persaingan dari pihak lain. Namun, kebijaksanaannya membuatnya mampu meredam konflik tanpa memperburuk keadaan. Sifat ini membuatnya semakin dihormati.
Putroe Phang juga menjadi simbol persatuan dua negeri. Pernikahannya dengan Sultan Aceh menjadi pengikat hubungan diplomatik yang bertahan lama. Kedua kerajaan saling mendukung dalam perdagangan dan pertahanan. Ini membuktikan bahwa cinta bisa menjadi jembatan antarbangsa.
Keanggunannya memikat para utusan dari berbagai negeri. Pada berbagai kesempatan, ia tampil di hadapan tamu-tamu asing. Ia mampu memperkenalkan Aceh sebagai kerajaan yang makmur, berbudaya, dan berwibawa. Perannya ini sulit tergantikan. Meski kisah hidupnya dipenuhi kemuliaan, Putroe Phang tetap sederhana dalam keseharian.
Ia sering turun langsung membantu rakyat yang membutuhkan. Kebaikan hatinya menjadi teladan bagi para wanita di sekitarnya. Ia menunjukkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada pelayanan kepada sesama.
Putroe Phang wafat dengan meninggalkan jejak sejarah yang dalam. Namanya tetap harum dalam catatan sejarah Aceh. Ia bukan hanya permaisuri, tetapi juga tokoh penting dalam perjalanan diplomasi dan kebudayaan kerajaan. Kisahnya terus hidup dalam cerita rakyat dan ingatan kolektif.
Makamnya menjadi salah satu situs bersejarah yang dihormati. Banyak orang datang untuk mengenang jasa dan kebijaksanaannya. Setiap ziarah menjadi pengingat akan kekuatan cinta, diplomasi, dan pengabdian. Warisannya terus menginspirasi generasi baru.
Putroe Phang adalah contoh nyata bahwa perempuan mampu memainkan peran strategis dalam politik. Kisahnya membuktikan bahwa kekuatan bukan hanya tentang senjata, tetapi juga tentang pikiran dan hati.
Perannya menegaskan pentingnya keberagaman dalam kepemimpinan. Aceh beruntung memiliki sosok seperti dirinya. Kini, nama Putroe Phang tetap hidup dalam diskusi sejarah dan kebudayaan Aceh. Ia menjadi simbol harmoni antara cinta dan politik, antara dua negeri yang dipisahkan laut namun disatukan hati.
Kisahnya mengajarkan bahwa pengabdian sejati memerlukan pengorbanan besar. Itulah warisan yang ia tinggalkan untuk dunia. Bagi generasi sekarang, Putroe Phang bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah inspirasi untuk membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan, pengertian, dan penghormatan. [Rosmiyati, S.Pd, Guru Dayah Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air]
