BerandaOpiniOmbak Berbisik Nama Panglima Laut Pertama di Dunia, Laksamana Keumalahayati

Ombak Berbisik Nama Panglima Laut Pertama di Dunia, Laksamana Keumalahayati

PROBISNIS – Ombak di laut Aceh seolah membawa bisikan nama seorang perempuan tangguh, Laksamana Keumalahayati. Ia adalah panglima laut perempuan pertama di dunia yang memimpin armada Inong Balee.

Pasukan ini terdiri dari para janda pejuang yang suaminya gugur di medan perang. Keumalahayati menjadikan mereka kekuatan tempur yang disegani.

Keumalahayati hidup di masa kejayaan Kesultanan Aceh pada abad ke-16. Di bawah pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah, ia dipercaya memimpin armada laut.

Kepercayaan itu bukan tanpa alasan, karena Keumalahayati memiliki kecerdasan strategi dan keberanian yang luar biasa. Ia mampu memadukan taktik perang laut dengan kekuatan moral pasukannya.

Kisahnya dimulai ketika penjajah asing, terutama Portugis dan Belanda, berusaha menguasai jalur perdagangan di perairan Aceh. Keumalahayati berdiri di garda terdepan untuk mempertahankan kedaulatan laut Aceh.

Kapal-kapal perang yang ia gunakan saat itu dapat menghalau musuh dari Selat Malaka. Aksinya membuat namanya melegenda hingga mancanegara. Pasukan Inong Balee yang ia pimpin bukan sekadar pasukan tempur biasa.

Mereka adalah perempuan-perempuan yang kehilangan pasangan akibat perang, namun memilih melanjutkan perjuangan. Keumalahayati memberikan mereka semangat untuk bangkit dari duka. Dari sinilah, kekuatan luar biasa tercipta.

Sebagai seorang pemimpin, Keumalahayati dikenal tegas namun bijaksana. Ia mampu menjaga disiplin tanpa mengabaikan kemanusiaan. Pasukannya menghormatinya bukan hanya karena jabatan, tetapi juga karena ketulusan hatinya. Pemimpin seperti inilah yang langka ditemukan.

Ombak yang berdebur di pantai Aceh seperti mengulang cerita keberaniannya. Setiap riak air membawa ingatan pada pertempuran laut yang ia menangkan. Ia bukan hanya melawan senjata musuh, tetapi juga arus besar kolonialisme. Keumalahayati menjadikan laut sebagai panggung kehormatannya.

Kekuatan Keumalahayati terletak pada kemampuannya memanfaatkan strategi laut. Ia menguasai seluk-beluk medan tempur di perairan Aceh. Keunggulan ini membuat pasukannya sering unggul meski jumlah kapal lebih sedikit. Ketajaman analisisnya membuat musuh kewalahan.

Sebagai perempuan, ia membuktikan bahwa gender bukan penghalang untuk memimpin di medan perang. Keumalahayati menembus batas-batas tradisi yang kala itu membatasi peran perempuan. Keberaniannya menginspirasi banyak generasi. Ia adalah teladan keberanian yang melampaui zamannya.

Perannya tidak hanya terbatas pada pertempuran. Keumalahayati juga berperan dalam diplomasi Kesultanan Aceh. Ia terlibat dalam perundingan dengan pihak asing untuk melindungi kepentingan bangsanya. Diplomasi ini membuktikan kecerdasannya di luar medan tempur.

Kisah Keumalahayati menjadi bukti bahwa sejarah Aceh kaya akan peran penting perempuan. Ia membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal kekuatan fisik semata. Justru hati yang teguh dan visi yang jelas adalah kunci keberhasilan. Itulah yang ia bawa dalam setiap misinya.

Sebagai panglima laut, Keumalahayati mengerti bahwa kemenangan bukan hanya diukur dari jumlah musuh yang dikalahkan. Kemenangan sejati adalah menjaga kedaulatan dan martabat bangsa. Prinsip ini ia pegang erat hingga akhir hayatnya. Oleh karena itu, namanya terus dikenang.

Warisan Keumalahayati tidak hanya berupa kemenangan perang. Ia meninggalkan teladan kepemimpinan yang mengutamakan keberanian, kebijaksanaan, dan keteguhan hati. Nilai-nilai ini tetap relevan hingga kini. Bahkan di luar Aceh, namanya dihormati.

Banyak perempuan masa kini yang bisa mengambil inspirasi dari Keumalahayati. Mereka bisa belajar bahwa tantangan bukan alasan untuk mundur. Justru dari tantangan, lahir keberanian. Keumalahayati adalah bukti hidup akan hal itu.

Ombak yang berbisik di Selat Malaka masih seakan menyebut namanya. Setiap kapal yang melintas membawa jejak sejarah yang ia ukir. Keberaniannya menjadi mercusuar bagi para pejuang di lautan. Kisahnya adalah kebanggaan Nusantara.

Di tengah derasnya arus globalisasi, cerita Keumalahayati mengingatkan kita untuk tidak melupakan akar sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya. Menghargai perjuangan masa lalu adalah cara menjaga masa depan.

Keumalahayati menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang melayani dan melindungi. Ia tidak mencari kemuliaan pribadi, tetapi kemuliaan bangsa. Sikap ini membuatnya dihormati kawan maupun lawan sehingga teladannya tidak lekang oleh waktu.

Banyak generasi muda yang belum mengenal namanya. Padahal, Keumalahayati adalah bukti bahwa Indonesia memiliki tokoh perempuan kelas dunia. Pendidikan sejarah seharusnya mengangkat kisahnya lebih luas. Agar semangatnya mengalir di nadi anak bangsa.

Setiap cerita rakyat Aceh, Keumalahayati hadir sebagai sosok yang menginspirasi. Ia bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga inspirasi untuk masa depan. Laut adalah saksi bisu perjuangannya. Dan ombak adalah pengantar kisahnya.

Jika sejarah adalah samudra, maka Keumalahayati adalah bintang yang menuntun kapal menuju kejayaan. Ia mengajarkan arti keberanian, strategi, dan cinta tanah air. Pelajaran ini tak ternilai harganya dan tugas kita adalah menjaganya tetap hidup.

Kesimpulannya, ombak akan terus berbisik nama Laksamana Keumalahayati. Perempuan Aceh yang memimpin lautan dengan keberanian dan kecerdasan. Ia adalah simbol kekuatan perempuan dan penjaga kedaulatan bangsa. Namanya akan terus abadi di hati rakyat Indonesia. [Ahmad Taisir Guru Dayah Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air ]

Editor:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKAIT

Lihat lainnya

BERITA TERBARU

Lihat lainnya

Populer

Sekda Aceh Terima Forum LSM, Pemerintah Susun Quick Win Pemulihan Pascabencana

BANDA ACEH – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menerima audiensi Forum Solidaritas Aceh di Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Pemerintah Aceh, Jumat (9/1/2026)....

Sekda Aceh Tegaskan Komitmen Dukung KONI