PROBISNIS – Teungku Fakinah adalah sosok pejuang perempuan Aceh yang punya peran besar dalam sejarah perjuangan melawan Belanda. Dari usia muda, dia sudah menunjukkan semangat juang tinggi dengan mendirikan badan amal sebagai langkah awal.
Ini bukti bahwa perjuangan itu nggak cuma soal perang fisik, tapi juga aksi nyata di masyarakat. Keberaniannya membuktikan perempuan juga bisa jadi aktor utama dalam sejarah. Kisahnya menginspirasi kita buat nggak meremehkan peran perempuan dalam perubahan sosial.
Bersama sahabatnya, Tjoet Nyak Dhien, Teungku Fakinah membentuk pasukan yang terdiri dari empat batalion, termasuk batalion perempuan. Ini jadi simbol kuat bagaimana perempuan Aceh berani mengambil peran dalam perlawanan. Perjuangan mereka bukan hanya soal keberanian, tapi juga solidaritas yang luar biasa. Meskipun berat, mereka tetap komitmen buat melawan penjajah. Namun, perjuangan ini juga bikin dia sadar pentingnya menyesuaikan peran sesuai kebutuhan bangsa.
Teungku Fakinah lahir dari keluarga yang punya akar kuat di dunia agama dan pendidikan. Ayahnya, Datuk Muhammad, adalah pendiri pesantren di Lamdiran, sedangkan ibunya adalah putri ulama besar Aceh. Warisan ini jelas membentuk landasan kuat dalam perjuangannya. Dia paham bahwa kemerdekaan juga butuh pondasi moral dan pendidikan yang kokoh. Jadi, perjuangannya bukan cuma soal melawan fisik, tapi juga membangun karakter bangsa.
Kehilangan suami yang gugur melawan Belanda jadi titik balik penting bagi Teungku Fakinah. Alih-alih menyerah, dia justru makin termotivasi untuk melanjutkan perjuangan. Dengan membentuk badan amal, dia mengorganisasi dukungan moral dan materiil untuk para pejuang. Ini menunjukkan kepemimpinan dan empatinya terhadap kondisi rakyat. Perjuangan ini nggak cuma di garis depan, tapi juga di belakang layar yang sama pentingnya.
Badan amal yang dia pimpin tumbuh jadi kekuatan besar dan melibatkan banyak perempuan dari Aceh. Teungku Fakinah berhasil menyatukan banyak pihak untuk mendukung perjuangan. Kedermawanan dan solidaritas jadi energi yang menggerakkan mereka. Dia juga aktif menggalang dana dari kalangan terpandang untuk biaya perang. Ini membuktikan bahwa strategi dan manajemen itu penting dalam perjuangan.
Keinginannya untuk langsung berperang bikin dia menghadap Sultan Daud Syah minta izin buat bentuk pasukan. Izin ini menandai transformasi perjuangannya ke medan tempur. Pasukannya, termasuk batalion perempuan, menunjukkan bahwa semangat juang nggak kenal gender. Bersama Tjoet Nyak Dhien, mereka jadi simbol keberanian perempuan Aceh. Ini bukti bahwa perjuangan butuh keberanian dan keyakinan penuh.
Salah satu tugas pentingnya adalah memimpin pasukan untuk menjaga rombongan perempuan penting, termasuk permaisuri Sultan Aceh dan Pocut Awan. Selain menjaga, dia juga mengajarkan remaja putri agar siap berjuang. Ini menunjukkan visinya tentang pentingnya peran perempuan dalam perjuangan. Keberaniannya jadi contoh nyata bagi generasi muda. Dia meletakkan fondasi bagi perlawanan yang berkelanjutan.
Panglima Polem prihatin dengan perjuangan gerilyanya yang berisiko tinggi. Dia menilai Teungku Fakinah lebih cocok fokus di pendidikan. Saran ini diterima dan jadi titik balik dalam perjuangannya. Dia memutuskan untuk berhenti berperang dan fokus mengembangkan dayah. Keputusan ini menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaan.
Pada 1910, dia kembali ke Lamkrak dan menghidupkan kembali dayah yang sempat mangkrak. Warga menyambutnya dengan antusias. Dayah ini jadi pusat pendidikan perempuan yang pertama di Aceh dipimpin wanita. Santri datang dari berbagai latar belakang, khususnya janda yang terdampak perang. Dayah ini jadi tempat pemberdayaan perempuan.
Dayah yang didirikan Teungku Fakinah menarik banyak perempuan dari seluruh Aceh. Mereka belajar dan membangun solidaritas. Dayah ini jadi ruang bagi perempuan untuk berkembang. Ini jadi langkah penting dalam perjuangan kesetaraan. Teungku Fakinah membuka peluang perempuan berkontribusi aktif.
Pada 1915, dia berangkat haji ke Mekkah, bukan cuma ritual tapi juga menambah ilmu. Masyarakat dan murid-muridnya melepas kepergiannya dengan hormat. Tiga tahun di Mekkah dia pakai untuk memperdalam ilmu agama. Kembali ke Aceh pada 1918, dia siap melanjutkan pengabdian. Semangatnya makin kuat untuk membangun pendidikan.
Setelah pulang, dia mengabdikan diri penuh di bidang pendidikan sampai akhir hayat. Dedikasinya jadi pilar utama pendidikan perempuan Aceh. Dia buktiin perjuangan yang paling berdampak adalah yang berkelanjutan. Perannya sebagai pendidik penting untuk karakter bangsa. Ini bukti bahwa perjuangan bisa lewat ilmu.
Kiprah Teungku Fakinah jadi inspirasi besar bagi perempuan dan generasi muda. Dia ajarkan keteguhan, keberanian, dan pengabdian. Sosoknya jadi contoh perempuan yang bisa ambil peran besar. Dari fisik sampai intelektual, dia buktikan perempuan kuat. Kisahnya menguatkan semangat generasi.
Wafat tahun 1938, dia tinggalkan warisan penting di dunia pendidikan dan perjuangan. Dia ubah pandangan soal peran perempuan dalam sejarah Aceh. Warisannya berupa lembaga pendidikan dan semangat juang yang membara. Dia ajarkan kemerdekaan datang dari keberanian dan ilmu. Sosoknya jadi lambang kesetiaan pada tanah air.
Di Aceh, Teungku Fakinah simbol keberanian dan kebijaksanaan perempuan. Dia bukan cuma pejuang tapi juga pendidik dan tokoh sosial. Dia dorong perempuan ambil peran aktif. Keberanian dan ketulusannya jadi pelajaran berharga. Perjuangannya buktiin kemerdekaan harus dibarengi pembangunan manusia.
Kisahnya ajarkan kita pentingnya seimbang antara keberanian dan ilmu. Perjuangan fisik tanpa ilmu gampang hilang semangat. Ilmu tanpa keberanian juga nggak cukup bawa perubahan. Kombinasi keduanya kunci sukses membangun bangsa. Kisahnya pengingat pentingnya harmoni hati dan pikiran.
Mengenang Teungku Fakinah artinya rayakan kekuatan perempuan Aceh. Dia bukain jalan perempuan tampil dan bertanggung jawab. Perjuangannya jadi inspirasi perjuangkan hak dan pendidikan. Dia buktikan perempuan bisa jadi agen perubahan. Warisannya hidup dalam perjuangan perempuan Indonesia.
Di tengah sejarah penuh tantangan, dia berdiri teguh sebagai teladan. Buktiin perjuangan nggak melulu soal senjata, tapi juga ilmu. Keberanian sejati adalah membangun masa depan lewat pendidikan. Karena itu, dia pantas jadi pahlawan abadi. Sosoknya jadi mercusuar perjuangan bermakna.
Kisah Teungku Fakinah ingatkan kita perjuangan itu proses panjang. Pendidikan yang dia perjuangkan bekal generasi berikut. Dia buka cakrawala baru soal peran perempuan. Semangat dan dedikasinya bikin kita terus maju. Kisahnya harus diwariskan ke generasi. [Vera Ahsianti, S.Pd, Guru Dayah Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air]
